Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Lima Argumen Lailatul Qadar sebagai Malam Kemuliaan

Sumber: istockphoto.com

Salah satu keistimewaan umat Nabi Muhammad adalah malam dengan penuh kemuliaan. Malam ini hanya ada di bulan Ramadan. Ia disebut dengan lailatul qadar. Barang siapa yang mendapatinya, kemuliaan akan diperoleh baginya.  Malam ini lebih baik daripada seribu bulan sebagaimana firman-Nya, “malam penuh kemuliaan lebih baik daripada seribu bulan (QS al-Qadr: 3).

Sungguh istimewa bagi umat Nabi Muhammad Saw. Malam ini hanya diperuntukkan baginya, ia tidak diberikan pada umat nabi sebelumnya. Menurut satu riwayat, lailatul qadar berada pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Setiap orang didorong untuk beribadah di dalamnya dengan penuh kekhusyukan. Nabi Muhammad Saw juga mengajarkan untuk iktikaf pada malam-malam ini.

Argumen Kemuliaan Lailatul Qadar

Mengapa lailatul qadar ini istimewa? Dan mengapa setiap orang harus berupaya untuk mendapatkannya? Berikut ini penjelasannya.

Pertama, malam ini berhubungan dengan turunnya al-Quran. Allah menurunkan al-Quran pada bulan Ramadan di malam penuh kemuliaan, “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam penuh kemuliaan”(QS al-Qadr:1). Al-Qur’an penuh kemuliaan, ia menjadi petunjuk bagi manusia, menjelaskan petunjuk, dan membedakan antara yang hak dan batil (QS al-Baqarah:185)

Al-Qur’an menuntun manusia untuk meraih kemuliaan hidup. Ia menjelaskan jalan yang benar dan salah, sehingga manusia bisa selamat dalam kehidupan di dunia dan untuk meraih kebahagiaan tertinggi di akhirat. Untuk meraihnya, manusia hendaknya terus membaca, mempelajari, memahami, dan mengamalkan kandungannya. Termasuk juga informasi pada QS al-Qadr 1-5, manusia dituntun untuk memperoleh pengalaman spiritual diri yang mencerahkan jiwa dengan mendapatkan malam penuh kemuliaan. Kedamaian dalam hidup akan diraihnya.

Atau dalam ayat lain, al-Qur’an diturunkan pada malam penuh keberkahan (fi lailah mubarakah).  Malam penuh keberkahan disebut karena di dalamnya terdapat peristiwa luar biasa terjadi, yaitu turunnya al-Qur’an. Al-Qur’an diturunkan menjadi kabar gembira dan peringatan bagi manusia.

Baca Juga  Ketika Manusia Berharap Pada Tahun, Bukan Tuhan

***

Kedua, malam ini tidak ditentukan kapan waktu dan tanggalnya. Al-Qur’an menggugah penasaran manusia dengan pertanyaan, “apa yang kau ketahui tentang lailatulqadar?” Pertanyaan ini menegaskan bahwa pada awalnya lailatul qadar tidak diketahui apa hakikatnya. Kemudian setelah ayat ini turun, informasi tentangnya menjadi jelas.  Pada QS al-Qadr hanya disebutkan beberapa penjelasan mengenai kondisi malam ini.

  • Lailatul qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.
  • Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan
  • Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar (QS al-Qadr: 3-5)

Merujuk pada tiga ayat ini, setiap orang harus berupaya untuk mendapatkannya. Allah tidak menentukan pada al-Qur’an tentang waktu dan tanggalnya. Hal ini juga mendorong manusia untuk memenuhi ibadah pada malam-malam tersebut.

***

Ketiga, nilai ibadah di dalamnya lebih baik daripada seribu bulan. Secara matematis, seribu bulan setara dengan 83 tahun. Pencapaian anugerah yang luar biasa, apabila ada orang yang mendapatkannya. Sebab, usianya pun belum tentu mencapai 83 tahun. Bukankah umat Nabi Muhammad Saw tidak lebih usianya dari usia beliau? Ibadah satu malam hanya beberapa jam namun pahalanya sungguh luar biasa. Lailatul qadar menjadi anugerah terbesar bagi umat Nabi Muhammad Saw.  Pahala ini tidak diberikan pada umat nabi sebelumnya. Sungguh sayang, apabila ada orang yang acuh tak acuh pada malam penuh kemuliaan ini.

Dalam Tafsir Kemenag (2022) disebutkan bahwa kata alf syahr  (seribu bulan) bukan untuk ditentukan bilangannya. Hakikat maknanya adalah yang tak terhingga. Pahalanya tak terhingga sehingga disimbolkan dengan kata seribu.  

Pendapat ini juga diperkuat oleh Tafsir al-Bahr al-Muhith karya Abu Hayan. Menurutnya orang Arab biasa menyebutkan seribu untuk akhir atau puncak segala sesuatu.  Pandangan ini selaras dengan QS. Al-Baqarah:96,

Baca Juga  Imam Abu Hanifah: Penggagas Fikih Mazhab Rasional

يَوَدُّ اَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ اَلْفَ سَنَةٍۚ

Masing-masing dari mereka ingin diberi umur seribu tahun”.

Keinginan berusia panjang dinyatakan dalam seribu tahun. Bukan hitungan seribunya melainkan ingin panjangnya. 

***

Kemudian keempat, malam in mulai turunnya cahaya kebenaran dan hidayah. Malam ini sungguh agung. Jiwa Nabi Muhammad Saw diterangi oleh cahaya Ilahi sebagai rahmat untuk seluruh manusia. Malam ini hendaknya dijadikan idaman. Sebab, pada malam ini wahyu diturunkannya al-Qur’an.

Kelima, bagi orang yang mendapatkannya, ia akan memperoleh kedamaian jiwa.  Allah menyatakan bahwa malam tersebut dipenuhi keberkahan dan kebajikan dari awal malam sampai terbit fajar. Turunnya al-Qur’an juga disaksikan oleh para malaikat ketika dada Nabi Muhammad Saw dilapangkan untuk kemudahan dalam menyampaikan risalah.  Sesuai ayat ini, orang yang mendapatkan kedamaian pada malam ini akan dipenuhi kebaikan dan pencerahan diri.

Wallahu A’lam

Editor: An-Najmi