Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Kritik Montgomery Watt Terhadap Keummian Nabi Muhammad

Sumber: https://islamigems.com/

Kajian terhadap al-Qur’an menjadi topik menarik bagi banyak kalangan, tidak hanya bagi ulama muslim melainkan juga orientalis atau sarjanawan Barat. Studi al-Qur’an yang dilakukan orientialis sejak abad 12 hingga saat ini terus berkembang. Secara umum terdapat tiga aspek yang menjadi fokus kajian mereka yaitu; pengaruh tradisi Yahudi dan Kristen terhadap kandungan al-Qur’an, aspek historis dan keotentikan al-Qur’an, serta kajian mengenai tema-tema tertentu dalam al-Qur’an. Dari ketiga aspek tersebut, William Montgomery Watt merupakan salah satu orientalis yang tertarik terhadap sisi historis al-Qur`an. Berbeda dengan guruya yaitu Richard Bell, seorang orientalis yang meragukan keotentikan al-Qur’an.

Watt justru beranggapan bahwa al-Qur’an adalah wahyu Tuhan dan bukan karangan Nabi Muhammad sebagaimana Alkitab yang juga merupakan wahyu Tuhan. Meskipun berlatarbelakang seorang pendeta, Watt menampakkan sikap netral dengan tidak membandingkan antara al-Qur`an dan Alkitab agar tercipta kedamaian antar umat beragama. Sebagai seorang orientalis, pemikiran Watt tidak lepas dari perhatian ulama muslim. Salah satunya yaitu pemikirannya mengenai pelabelan ummi kepada Nabi Muhammad yang dianggapnya hanya bertujuan untuk menaikkan citra al-Qur’an sebagai mukjizat Nabi Muhammad.

Pendekatan Watt Tentang Keummian Nabi Muhammad

Menggunakan pendekatan historis-fenomenologis, Watt berpendapat bahwa tradisi tulis-menulis sebenarnya telah dikenal oleh masyarakat Arabs. Sehingga hal ini mengindikasi bahwasanya Nabi Muhammad bukanlah seorang yang ummi atau tidak bisa baca-tulis. Menurut Watt, isu tentang keummian Nabi Muhammad menyebabkan sejarah penulisan al-Qur`an sukar untuk diterima kebenarannya. Jika Nabi Muhammad adalah seorang yang ummi, lantas bagaimana bisa Nabi Muhammad mengoreksi tulisan sahabat sebelum al-Qur`an dibukukan?

Baca Juga  Ibnu Abbas: Sahabat yang Paling Paham Penafsiran Al-Qur'an

Watt menyatakan bahwa Surah al-‘Alaq menjadi landasan umat Islam bahwa Nabi Muhamad asing dari tradisi tulis-menulis. Sehingga proses penulisan al-Qur`an menjadi suatu keajaiban. Watt menjelaskan bahwa redaksi yang terdapat dalam Surah al-‘Alaq ayat 4 dapat ditafsirkan dengan makna; yang mengajarkan kepada manusia melalui pena. Ayat ini secara jelas menyinggung mengenai pena sebagai alat tulis. Akan tetapi umat Islam masih saja menganggap bahwa tulisan adalah yang baru dan Nabi Muhammad asing dari tradisi tulis-menulis.

Watt juga menyinggung redaksi  laā ya’lamūna al-kitāb dalam Surah al-Baqarah ayat 78. Watt memaknainya dengan orang yang tidak memiliki sesuatu yang tertulis. Hal ini menimbulkan kesimpulan terhadap Watt bahwa Nabi Muhammad bukanlah seorang yang buta huruf. Ummi yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad dimaknai sebagai ketidaktahuannya terhadap Alkitab karena menurut Watt, Nabi Muhammad tidak pernah membaca maupun dibacakan Alkitab. Selain itu, ia menyebutkan perlu adanya pengkajian ulang atas penafsiran Surah al-‘Ankabūt ayat 48.

Penolakan Watt terhadap Keummian Nabi Muhammad

Watt mengkritik seharusnya ayat tersebut tidak diterjemahkan kamu tidak bisa membaca buku apapun sebelum ini, juga tidak bisa menulis dengan tangan kananmu. Seharusnya yang benar adalah engkau tidak membaca buku apapun sebelumnya dan tidak menulisnya dengan tangan kananmu. Oleh karena itu, atas dasar ayat ini Watt berpendapat bahwa tidak ada dalil yang jelas mengenai keummian Nabi Muhammad.

Pendapat yang dilontarkan Watt berkesimpulan bahwa Nabi Muhammad mampu baca-tulis sangat bertolak belakang dengan pendapat para ulama tafsir yang mayoritas sepakat bahwa Nabi Muhammad adalah seorang yang ummi. Menanggapi pandangan Watt terhadap Surah al-`Alaq ayat 4 yang dianggap sebagai landasan teologis umat Islam atas keummian Nabi Muhammad, perhatian Watt terfokus pada diksi kata pena dalam ayat tersebut. Baginya, kata pena dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa tradisi tulis-menulis sebenarnya telah dikenal oleh masyarakat Arab. Sedangkan menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, redaksi pena dalam ayat tersebut lebih mengarah pada pemahaman bagaimana cara Allah memberikan pengajaran kepada manusia.

Baca Juga  Hukum Menguasai Ilmu Bela Diri Bagi Perempuan

***

Hal ini mengindikasikan bahwa Allah mengajarkan ilmu kepada manusia dengan menggunakan perantara alat, seperti halnya pena dan tulisan. Argumentasi redaksi pena atau al-qalam yang dilontarkan Watt justru sebenarnya tidak digunakan umat Islam untuk mengukuhkan pendapat mengenai keummian Nabi Muhammad. Hal ini baru akan muncul ketika ayat ini dikaitkan dengan asbāb al-nuzulnya. Umat Islam mengetahui bahwa ayat ini merupakan bagian dari wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad ketika Nabi Muhammad sedang menjalani uzlah di Gua Hira’.

Pada saat itu, Allah mengutus Malaikat Jibril untuk meyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad. Akan tetapi ketika Nabi Muhammad diperintah Malaikat Jibril untuk membaca, Nabi Muhammad menjawabnya mā ana bi qari’. Jawaban Nabi Muhammad tersebut menunjukkan bahwa Nabi Muhammad tidak bisa membaca.  Meskipun ayat ini sangat terikat dengan sejarah, para ulama lebih cenderung memaknai ayat ini sebagai perintah untuk selalu menuntut ilmu sebagai suatu kewajiban bagi setiap umat Islam.

Editor: An-Najmi