Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Dinamika Wacana Antropologi Islam

Antropologi Islam
Sumber: https://saa.unida.gontor.ac.id

Diskursus tentang dinamika Antropologi Islam, yang diuraikan oleh seorang cendekia Islam; Talal Asad dalam tulisan berjudul “The Idea of an Antropology of Islam”. Tulisan ini salah satu kritikan Talal Asad terhadap tekstualisasi kehidupan sosial. Dia menganalisis dari interpretasi perilaku menuju penyelidikan tentang hubungan praktik dengan apa yang sebutnya sebagai “tradisi diskursif”. Talal Asad mengawali rumusan masalahnhya dengan mempersoalkan tentang apa sebenarnya Antropologi Islam? Apa objek penelitiannya?

Mengenal Antropologi

Antropologi menurut KBBI adalah ilmu tentang manusia; khususnya tentang asal-usul, aneka warna bentuk fisik, adat istiadat, dan kepercayaannya pada masa lampau. Seorang antropolog bernama Abdul Hamid El-Zein; melakukan penelitian yang diberi judul “Beyond Ideology and Theology: The Search for Anthropology of Islam (Melampaui Ideologi dan Teologi: Pencarian Antropologi Islam)”. Namun, tidak terlalu signifikan membantu. Hal ini karena agak membingungkan dengan pernyataan bahwa mereka (Muslim) semua pada akhirnya; ekspresi dari logika bawah sadar yang mendasarinya dan juga Islam bukan kategori analitis, tidak dapat dikatakan secara tegas, ada yang namanya antropologi Islam.

Michael Gilsenan menyatakan bahwa tidak ada bentuk Islam lain yang dapat dikecualikan dari minat antropolog dengan alasan bahwa itu bukan Islam yang benar. Islam tidak teridentifikasi sebagai objek studi analitis, disebabkan Islam yang mengklaim ada dimanapun tanpa masuk dalam dinamika sosial.

Antropologi dan Islam

Klaim tentang apa itu Islam akan diakui Antropolog, apabila berlaku untuk keyakinan dan praktik informan itu sendiri. Karena pada umumnya tidak mungkin mendefinisikan keyakinan dan praktik dalam kerangka subjek yang terisolasi. Keyakinan seorang muslim tentang keyakinan dan amalan orang lain adalah keyakinannya sendiri, seperti semua keyakinan semacam itu; mereka hidup dan ditopang oleh hubungan sosialnya dengan orang lain.

Baca Juga  Begini Budaya Berpikir Kritis Sahabat Perempuan Nabi!

Buku antropologis di Timur Tengah seperti Gulick atau Eickelmen menjelaskan tentang “Agama” sepenuhnya untuk Islam secara sangat intens. Berbeda dengan Yudaisme dam Kristen yang tidak terlalu menjadi perhatian para antropolog. Pada pembuka buku Gellner terdapat ungkapan bahwa Islam adalah cetak biru/blue print tatanan sosial; yang memiliki seperangkat aturan ada, kekal, disucikan/ditahbiskan secara ilahi, dan terlepas dari keinginan manusia yang mendefinisikan tatanan masyarakat secara tepat. Begitu pun Judaisme dan Kristen, namun lebih sedikit daripada Islam. Siapapun yang meneliti antropologi Islam harus menyadari bahwa ada keragaman varian yang sangat besar dalam keyakinan dan praktik muslim.

Salah satu cara para antropolog berusaha memecahkan masalah keragaman adalah dengan menyesuaikan perbedaan orientalis antara Islam ortodoks dan non-ortodoks ke dalam kategori Tradisi Besar dan Kecil. Dengan demikian menetapkan perbedaan yang tampaknya lebih dapat diterima antara kaum skripturalis, puritan, keyakinan kota-kota dan pemujaan-santo, serta agama ritualistik pedesaan.

Kompleksitas Praktik Masyarakat

Bagi para antropolog, tidak satu pun bentuk Islam yang diklaim “lebih nyata” dari yang lain. Mereka adalah apa adanya, dibentuk dengan cara berbeda dalam kondisi berbeda. Faktanya, agama pedesaan diambil sebagai satu bentuk hanya dalam arti yang abstrak dan kontras. Justru karena menurut definisi partikularistik, berakar pada kondisi dan kepribadian lokal yang berubah-ubah. Dan dikuasai oleh ingatan budaya lisan yang tak terkendali, Islam rakyat desa yang tidak terpelajar sangat bervariasi.

Artikel dari Eickelmen berjudul “The Study of Islam in Local Context (Studi Islam dalam Konteks Lokal)”; menyatakan bahwa ada kebutuhan konsepsi teoritis untuk mengimbangi antara studi desa atau suku Islam dengan studi Islam secara universal. Persoalan teoritis antropologi Islam bukan hanya perihal menemukan skala yang tepat, tetapi merumuskan konsep yang tepat juga benar.

Baca Juga  Fenomena Sosial Al-Qur’an: Perbedaan Antara Belahan Timur dan Barat

Poin penting tentang tradisi hanyalah bahwa semua praktik yang dilembagakan berorientasi pada konsepsi masa lalu. Penjelasan Talal Asad mengenai antropologi Islam adalah dia mencoba untuk mengkonseptualisasikan antropologi Islam. Nampak mudah, tetapi realitasnya mengalami kesukaran dalam proses tahap pengkonseptualan teori antropologi Islam.

Kutipan dari buku Gellner mengungkapkan bahwa Islam adalah blue print tatanan sosial yang memiliki begitu macam perangkat, baik yang bersifat ilahi maupun manusiawi. Tentu berbeda dengan Judaisme dan Kristen yang tak sebanyak Islam. Kemudian antropologi Islam ini melihat sebuah tradisi, karena sebuah tradisi yang dipraktikkan berorientasi pada konsepsi masa lalu.