Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Antara Inzal dan Tanzil: Mengambil Hikmah Nuzul Al-Qur’an

Membersamai
Sumber: https://al-ain.com

Al-Qur’an turun dalam dua bentuk yang menakjubkan. Pertama, secara langsung sekaligus dalam satu waktu, bentuk ini disebut inzāl. Kedua, secara berangsur-angsur dalam kurun waktu 23 tahun, dikenal dengan istilah tanzīl. Dua bentuk nuzul Al-Qur’an terdapat secara rinci di berbagai kitab ulumul Qur’an seperti Al-Burhān, Al-Itqān dan At-Tamhīd. Namun, tulisan ini hanya akan mengulas secara ringkas dengan menghadirkan hikmah secara inzal dan tanzil.

Nuzul Al-Qur’an

Persitiwa turunnya Al-Qur’an menjadi babak baru dari hadirnya cahaya pengetahuan benderang di tengah kegelapan. Cahaya Al-Qur’an mampu menembus ruang dan waktu ke berbagai belahan dunia. Di Indonesia, nuzul Al-Qur’an dirayakan begitu meriah, megah dan penuh kegembiraan. Menghatamkan Al-Qur’an bersama, mengadakan kajian Al-Qur’an dalam berbagai bentuk dan tradisinya. Artinya, secara kultur sosial, masyarakat Indonesia merawat perayaan nuzul Al-Qur’an dengan baik.

“Bacalah Al-Qur’an seakan-akan ia diturunkan kepadamu.”

Begitu pesan indah Muhammad Iqbal, seorang filsuf-cum-penyair asal India. Pesan ini menjadi relevan dengan momen nuzul Al-Qur’an. Membayangkan membaca Al-Fatihah dan surat ini sedang diturunkan kepada kita, saat membaca, ayat demi ayat. Tentu, ada sebentuk penghayatan yang bersifat rohani untuk bergerak memahami dan mengamalkan kandungannya.

Antara Inzal dan Tanzil

Diturunkan langsung secara inzal kepada Rasulullah di bulan Ramadan, di malam lailatulqadar. Beberapa ayat yang mendukung ini adalah:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ

Artinya: “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).” QS. Al-Baqarah [2]: 185

Baca Juga  Menyoal Otensitas Dan Relevansi Hadis Tentang Cuka

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatulqadar.” QS. Al-Qadr [97]: 1

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ

Artinya: “Sesungguhnya Kami (mulai) menurunkannya pada malam yang diberkahi (Lailatulqadar).681) Sesungguhnya Kamilah pemberi peringatan.” QS. Ad-Dukhan [44]: 3

Tiga ayat di atas menjelaskan Al-Qur’an secara inzal. Perhatikan bentuk kata kerjanya, menggunakan kata inzal dan berbentuk fiil madi (kata kerja lampau, bermakna telah). Ketiga ayat ini menegaskan penurunan Al-Qur’an secara langsung di bulam Ramadan, di malam penuh berkah, malam lailatulqadar kepada hati Rasulullah Saw.

***

Sementara diturunkan secara berangsur, tanzil selama periode 23 tahun kehidupan Rasulullah ditunjukkan oleh ayat-ayat berikut ini:

وَاِنَّهٗ لَتَنْزِيْلُ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۗ

Artinya: “Sesungguhnya ia (Al-Qur’an) benar-benar diturunkan Tuhan semesta alam.” QS. Asy-Syu’ara [26]: 192

تَنْزِيْلُ الْكِتٰبِ مِنَ اللّٰهِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِ

Artinya: “Diturunkannya Kitab (Al-Qur’an) ini (berasal) dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” QS. Al-Jasiyah [45]: 2

وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْاٰنُ جُمْلَةً وَّاحِدَةً ۛ كَذٰلِكَ ۛ لِنُثَبِّتَ بِهٖ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنٰهُ تَرْتِيْلًا

Artinya: “Orang-orang yang kufur berkata, “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Nabi Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan, dan benar). QS. Al-Furqan [25]: 32.

Ketiga ayat menggunakan kata tanzil. Hal ini meneguhkan hati Nabi dan menjawab berbagai persoalan di masa Nabi. Turun berangsur bermakna beriringan dengan konteks sosio-historis zaman Nabi.

Hikmah Dua Cara Nuzul Al-Qur’an

Melalaui inzal dan tanzil kita dapat mengambil beberapa hikmah yang penting. Pertama, bahwa Al-Qur’an perlu diimani secara inzal keseluruhan ayat di dalam hati kita. Kedua, memahami dan mengamalkan secara tanzil, berangsur-angsur. Ketiga, inzal dan tanzil sebagai cara pandang dalam memahami kehadiran cahaya. Di malam lailatulqadar secara langsung, ke dalam hati, di malam lainnya berangsur ke dalam sanubari.

Baca Juga  Keutamaan Anak Perempuan dalam Al-Qur'an dan Hadis!

Mengamalkan pesan Muhammad Iqbal, membaca dengan kesadaran Al-Qur’an turun kepada kita. Baik secara langsung atau berangsur, maka akan ada gerak hati, pikiran dan jiwa yang dalam. Membawa kita menyelami kandungan Al-Qur’an dan mengamalkan dalam kehidupan.

Terlepas dari penjelasan mendetail tentang nuzul Al-Qur’an secara inzal dan tanzil, kita perlu mengambil hikmah. Bahwa seakan Allah ingin mengajarkan kita bahwa ada dua cara pandang dalam menjemput hidayah Al-Qur’an. Mengimani secara langsung dalam hati dan mengamalkan secara berangsur-angsur dalam kehidupan sehari-hari.[] Wallahu’alam.