Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Konsep Wahyu Menurut Abdullah Saeed

Sumber: https://alchetron.com/Abdullah-Saeed-(Professor)

Abdullah Saeed adalah cendekiawan muslim yang lahir di Maladewa. Ia merai BA dalam bidang bahasa Arab di Islamic University (Saudi Arabia). Gelar MA, serta PhD nya dalam bidang islamic studies didapat dari Melbourne University (Australia). Dalam bukunya yang berjudul Interpreting The Qur’an, Saeed mencoba menawarkan pendekatan dalam penafsiran Al-Qur’an. Pendekatan yang dimaksud adalah pendekatan “kontekstualis”. Pendekatan kontekstualis yang ditawarkan Saeed dimaksudkan untuk menjadi alternatif bagi pendekatan tekstualis dan semi-tekstualis yang terlalu fokus pada aspek kebahasaan Al-Qur’an, sehingga melupakan substansi ajaran Al-Qur’an serta kontekstualisasinya di zaman ini. Pemikiran yang diusung oleh Saeed bisa dipahami sebagai sebuah pendektan dalam penafsiran Al-Qur’an yang memperhatikan aspek linguistik Al-Qur’an dan konteks sosio historisnya, serta konteks kekinian.

Tulisan ini membahas mengenai konsep wahyu menurut Abdullah Saeed. Menurut Saeed, konsep wahyu yang ia tawarkan akan bermanfaat dalam menginterpretasikan ayat-ayat etika hukum dengan memperhatikan konteks sosio historis dan konteks umat Islam saat ini.

Wahyu Menurut Abdullah Saeed

Abdullah Saeed tidak tertarik untuk masuk dalam perdebatan “Al-Qur’an, makhluk atau bukan makhluk”, karena menurutnya tidak relevan dengan tujuannya. Yang ia tekankan terkait wahyu (Al-Qur’an) adalah bahwa ia (Al-Qur’an), memiliki hubungan erat dengan konteks masyarakat Arab abad ke-7.

Layaknya pemahaman muslim pada umumnya, Saeed menyatakan bahwa wahyu (Al-Qur’an) adalah kalam Allah dalam bahasa Arab, yang disampaikan kepada Muhammad saw, melalui perantara Jibril as. Menurut Saeed, Al-Qur’an (lafadz dan makan) datang langsung dari Allah, bukan ujaran Nabi saw. Hal ini banyak di jelaskna dalam ayat Al-Qur’an (Q.S. 10: 37-38, Q.S. 11: 13). Selain itu, menurut Saeed, malaikat Jibril dipercayakan dengan sebuah pesan langsung dalam bahasa Arab, bukan sekedar makna-makna dan ide-ide saja.

Baca Juga  Melirik Kembali Integrasi Ilmu Agama dan Sains

Terkait dengan mushaf utsmani, Saeed meyakini bahwa mushaf utsmani yang dikumpulkan semenjak pemerintahan Khalifah Utsman, merepresentasikan wahyu yang historis dan autentik. Terkait dengan beberapa ayat yang “Allah menjadikannya dilupakan” ataupun pembacaan-pembacaan yang direduksi menjadi satu versi bacaan, menurut Saeed tidak dianggap esensial untuk teks yang dikodifikasikan, serta untuk tujuan-tujuan saat ini mungkin diabaikan. Masih menurut Saeed, umat Islam tidak perlu mempertanyakan secara serius, terkait otentisitas mushaf utsmani, sebagai wahyu Tuhan yang telah dikodifikasi.

Pemahaman terkait wahyu seperti diuraikan diatas merupakan pemahaman mayoritas umat Islam. Saeed terlihat enggan masuk kedalam kontroversi-kontroversi para ‘ulama yang mempertanyakan otentisitas mushaf utsmani atau bahkan Al-Qur’an, sebagai wahyu Tuhan. Sikap ini diambilnya, karena menurutnya masuk dalam kontroversi tersebut, tidak memberi manfaat dalam proyeknya, yaitu membangun pendekatan penafsiran kontekstual.

Empat Level Wahyu Menurut Abdullah Saeed

Abdullah Saeed membagi wahyu menjadi empat level proses dengan mempertimbangkan konteks historis. Level satu, wahyu Tuhan diturunkan oleh Allah ke lauhul mahfudz kemudian diturunkan ke langit dan dihafal oleh Jibril. Saeed tidak banyak memberi komentar terkait level pertama ini, karena menurutnya, wahyu pada level ini berada pada wilayah ghaib dan dapat dipastikan tidak dapat diketahui. Kendati demikian, Saeed meyakini bahwa wahyu yang diamanatkan kepada Jibril berbahasa Arab. Ia menolak pendapat bahwa, Jibril hanya membawa wahyu berupa ide atau makna saja.

Level dua, malaikat Jibril menyampaikan kepada Muhammad saw menggunakan bahasa Arab. Wahyu yang disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad saw ini, berkaitan erat denagn keadaan dan situasi masyarakat Arab saat itu. Wahyu dalam hal ini, bukan merupakan sesuatu yang abstrak yang terpisah dari keadaan-keadaan masyarakat Arab, sebagai audience awal.

Baca Juga  Akibat Penghianatan: Kisah Istri Nabi Luth dalam Al-Qur'an

Level tiga, Nabi saw menyampaikan, menjelaskan, serta mengaplikasikan wahyu ditengah-tengan para sahabat. Pada level ini wahyu menjadi sebuah teks (oral dan tertulis) yang dihubungkan secara langsung dengan konteks masyarakat Arab pada saat zaman Nabi saw.

Level empat, pasca Nabi wafat wahyu (profetik) telah berakhir dan tertutup. Kendati demikian Allah masih terus memberikan wahyu (non-profetik) kepada umat Islam bersamaan dengan upaya mereka dalam mempraktekan Al-Qur’an dan proses penafsiran dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dari konsep wahyu yang ditawarkan Abdullah Saeed diatas, konteks sosio-historis wahyu menjadi elemen wahyu yang paling mendasar. Wahyu tidak bisa dipisahkan dengan komunitas Nabi saw (masyarakat Arab abad 7). Sehingga pemahaman terhadap wahyu juga harus melibatkan konteks sosio-historis masyarakat Arab abad 7.

Penyunting: Ahmed Zaranggi