Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Karakteristik Tafsir Dawam Rahardjo

Dawam

Perkenalan Awal

Pertama kali saya mengenal karya tafsir Dawam Rahardjo adalah saat masih semester dua di UIN Jakarta. Saya ingat betul bahwa saat itu saya sedang asyik membaca karya lawas Komaruddin Hidayat. Judulnya “Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutik”. Pada satu bagian di buku itu, Komaruddin menjelaskan tentang tafsir tematik dan menyebutkan beberapa karya tafsir tematik yang populer di Indonesia. Salah satunya adalah “Ensiklopedi Al-Quran” milik Dawam Rahardjo. Selain di sana juga terdapat karya “Wawasan Al-Quran” milik Quraish Shihab dan “Tema-Tema Pokok Al-Quran” milik Fazlur Rahman.

Ketiga karya itu memiliki titik berangkat yang berbeda dalam menyusun karya tafsir tematik. Jika Quraish Shihab berangkat dari beberapa pembahasan-pembahasan yang dianggap mendesak di era modern (sebut saja kemiskinan, ilmu dan teknologi, perempuan dll.), maka Fazlur Rahman beranjak dari tema-tema yang dianggapnya sentral dalam al-Quran. Seperti pembahasan mengenai Tuhan, alam, manusia, ekskatologi dll.

Dawam menempuh jalan yang berbeda. Dawam memilih berangkat dari aneka kata dalam al-Quran yang telah populer di Indonesia dan bahkan telah menjadi bahasa sehari-hari. Seperti kata adil, amanah, takwa dll. Makanya kemudian para sarjana tafsir menyebut karya tafsir tematik Dawam menggunakan metode ensiklopedis. Yakni dengan mengambil beberapa kata yang dianggap penting untuk dibahas.   

Karakteristik Tafsir Dawam Rahardjo

Sebagaimana disinggung pada tulisan sebelumnya. Nasaruddin Umar menganggap bahwa karya tafsir Dawam adalah karya tafsir yang kental akan nuansa keindonesiaan. Dan setelah saya membaca beberapa bagian dari karya Dawam, saya mengamini komentar dari Guru Besar Tafsir UIN Jakarta tersebut. Bahwa karya Dawam memang sangat kaya akan penjelasan yang diteguk dari sejarah Indonesia. Di sini saya akan coba mengambil beberapa contoh.

Baca Juga  Aerodinamika dalam penafsiran QS. Al-Mulk ayat 19

Pertama, penjelasan soal kata adil. Bukalah buku “Ensiklopedi Al-Quran” halaman 366. Padanya akan terhampar jelas bagaimana Dawam Rahardjo menjelaskan kata adil. Ia memulainya dengan menguraikan bagaimana posisi kata “adil” di Indonesia. Dawam, dengan mengutip pendapat salah seorang kolumnis, mengatakan kalau kata adil sebenarnya tidak dikenal dalam kamus bahasa Jawa. Istilah adil adalah istilah yang berasal dari bahasa Arab yang kemudian disadur ke dalam bahasa Indonesia.

Hal itu menurutnya dikarenakan kultur Jawa yang dulunya sangat didominasi oleh ajaran Hindu yang menjunjung tinggi “kasta”. Di mana status sosial individu ditetapkan berdasarkan nasabnya. Jika ia adalah orang terpandang yang lahir dari keluarga bangsawan, maka ia akan mendapat penghormatan yang begitu tinggi.

Adapun jika ia lahir dari keluarga biasa-biasa saja dan bukan bangsawan, maka ia diperlakukan sesuai statusnya. Tidak dihargai dan cenderung direndahkan. Pada kultur masyarakat seperti itu, tegas Dawam, sangat tidak mungkin bagi kamus Jawa untuk mengadopsi kata “adil”. Sebab kata itu dianggap sebagai kata yang subversif. Karena nilai yang terkandung di dalamnya dinilai hanya akan mengganggu sistem sosial yang berlaku.

Namun demikian, kata Dawam Rahardjo, masyarakat Nusantara sebenarnya telah cukup lama mengenal kata “adil”. Hal ini diperkuatnya dengan  mitos Ratu Adil yang sejak dulu telah sering digunakan dan dibunyikan oleh masyarakat Indonesia, khususnya pada abad ke 19. Masyarakat Jawa bahkan pernah beberapa kali menyebut sejumlah tokoh sebagai Ratu Adil. Di antara tokoh-tokoh yang sempat dielu-elukan sebagai Ratu Adil itu adalah Pangeran Diponegoro dan HOS Chokroaminoto (Enklopedi Al-Quran: 367).

Menyisipkan Sejarah Indonesia      

Selepas dari penjelasan itu, barulah Dawam langsung beranjak pada pembahasan inti, yakni tentang kata adil dalam al-Quran dan bagaimana penafsiran terhadapnya. Sebenarnya bukan hanya kata “adil” yang diperlakukannya demikian. Ia juga melakukan hal yang sama ketika membahas kata “ulul albab”.

Baca Juga  Tanwir dan Intelektualisme Tafsir Kaum Muda

Dawam menceritakan bahwa ketika awal-awal pembentukan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) di Malang, banyak dari cendekiawan dan sarjana muslim di Indonesia yang mencoba mencari apa yang sebenarnya dimaksud dengan cendekiawan muslim itu. Bagaimana konsepnya? Di antara sumber yang menjadi tempat para sarjana dan cendekiawan itu mencari konsepsi dasar dari apa yang disebut sebagai cendekiawan muslim itu adalah al-Quran.

Pada proses pencarian itu, beberapa sarjana dan cendekiawan mengajukan beberapa kata dalam al-Quran yang bisa menjadi konsepsi dasar. Ada yang menyodorkan kata “ulama”, sedangkan sebagian lainnya menawarkan kata “ulul albab”. Dan tampaknya kata inilah yang mendapat banyak dukungan. Di antaranya ialah dari K.H. Ali Yafie, Prof. Dr. Quraish Shihab, Dr. Ir. Muhammad Imaduddin Abdurrahim Dr. Ir. M. Amin Aziz, dan M. Chabib Chirzin (Dawam: 2002).

Selain itu, selain memiliki sentuhan yang kuat akan keindonesiaan, karya ini juga memiliki karakteristik lain. Hal itu, sebagaimana diakui oleh penulisnya, dominannya penggunaan metode “tafsir al-Quran bi al-Quran” dalam perumusan penafsiran. Metode ini bermaksud menjelaskan makna satu ayat al-Quran dengan menggunakan ayat yang lain. Dijadikan ayat-ayat al-Quran itu saling menafsirkan satu sama lain.

Tafsir Al-Quran dengan Al-Quran

Sebagai contoh, kita akan mencoba mengambil satu cuplikan pembahasan dalam “Ensiklopedi Al-Quran”. Misalnya adalah ketika Dawam membahas kata “hanif”. Mula-mula ia melayangkan al-Baqarah ayat 135 yang berbunyi:

Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.” Katakanlah: “Tidak. Kami mengikuti agama Ibrahim yang lurus {hanif). Bukanlah dia (Ibrahim) dari golongaan musyrik (politeis).”

Pada ayat itu, kata Dawam Rahardjo, kata “hanif” diartikan sebagai “jalan yang lurus”. Dan untuk menjelaskan makna yang lebih lanjut dan lebih terang daripada kata “hanif”, Dawam meminta kita untuk membuka ayat berikutnya, yakni ayat 136:

Baca Juga  Buletin Jum'at: Menebar Rahmat Bagi Kehidupan

Katakanlah (hai orang-orang mu’min): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang dirurunkan kepada Ibrahim, Isma‘il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan ‘Isa, serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”

Bagi Dawam, ayat ini menjelaskan apa yang dimaksud dengan “hanif” itu. Jika pada ayat sebelumnya dijelaskan bahwa ciri-ciri orang yang hanif itu adalah mereka yang bukan mengikuti agama Yahudi dan Nasrani serta bukan menyembah berhala. Maka pada ayat ini dijelaskan bahwa ciri-ciri orang yang hanif itu adalah mereka yang beriman kepada Allah dan beriman kepada apa yang diturunkan Allah kepada para nabi. Seperti nabi Ishaq, Isma’il, Ya’qub, Musa, Isa dan seterusnya (Ensiklopedi Al-Quran: 64).

Demikianlah. Sebagai karya tafsir, tafsir Dawam memiliki ciri khas tersendiri. Ciri yang barangkali membedakannya dengan tafsir-tafsir sebelumnya. Di antaranya ialah Dawam membumbui penafsiran al-Qurannya dengan sentuhan keindonesiaan dan menempuh metode ensiklopedis. Metode yang mungkin Dawam lah orang pertama yang menggunakannya dan mengenalkannya. Selebihnya, jika ada karakteristik lain yang belum tertangkap, itu di luar kemampuan saya. Dan saya sangat senang bila ada dari pembaca yang budiman yang berkenan untuk menuliskannya.  

Alumni Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Jakarta, Mahasiswa Pascasarjana Universitas PTIQ Jakarta dan Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKU-MI), Bendahara Umum DPD IMM DKI Jakarta 2024-2026.