Cinta adalah sebuat istilah yang berarti kecenderungan terhadap sesuatu yang disenangi, jika kecenderungan itu semakin kokoh dan menguat, maka ia disebut Isyq (mabuk cinta). Isyq melampaui batas cinta hingga pelakunya menjadi teman (pendamping) bagi kekasih nya dan rela mengorbankan semu yang dimilik demi kekasihnya.
Sesungguhnya kejujuran cinta terlihat dalam tiga hal: memilih ucapan kekasihnya dibanding dengan ucapan selain kekasihnya, memilih duduk dengan kekasihnya dibanding duduk dengan selain kekasihnya dan memilih kerelaan (keridhoan) kekasihnya dibanding keridhoan selain kekasihnya.
Cinta adalah mengikuti Rasulullah Saw. Seorang ulama berkata, ”Cinta adalah selalu berzikir (mengingat) dan memprioritaskan kekasih, membenci kekal dunia. Semua menunjukkan buah-buah cinta. Sebagian ulama mengatakan ”Cinta adalah sebuah makna dari kekasih, yang memaksa hati untuk tidak mampu memahaminya dan mencegah lidah untuk menjelaskan nya”.
Esensi Cinta
Cinta yang sesungguhnya itu adalah cinta kepada Allah dan Rasulullahi SAW. Sebagai umat muslim berkewajiban untuk mencintai Rasulullah SAW. Bahkan mencintai Rasul saw merupakan bagian dari keimanan dan aqidah seorang muslim.
Allah berfirman dalam surah At-Taubah ayat 24
قُلْ اِنْ كَانَ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْ وَاِخْوَانُكُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَاَمْوَالُ ِۨاقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَبَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ
Artinya: “Katakanlah bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum kelurgamu, harta kekayaan yang kamu usahakan khawatir kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai dari pada Allah SWT. dan Rasulnya dari berijtihad dijalannya, maka tunggulah sampai Allah datangkan keputusannya dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.“
Ayat ini membuktikan keharusan untuk mencintai Rasullullah saw. Bahkan ayat tersebut menunjukan begitu besar hak Rasulullah saw untuk dicintai. Sebab dalam ayat tersebut Allah Swt memberikan ancaman bagi orang-orang yang lebib mencintai harta, keluarga dan anak-anak dari pada mencintai Allah dan Rasulnya. Bahkan diakhir Allah SWT menggolongkan orang-orang yang melakukan hal tersebut sebagai orang yang sesat dan tidak mendapatkan hidayah dari Allah SWT.
Cinta Kepada Rasulullah
Kualitas iman kita sangat ditentukan dengan kecintaan kita kepada Rasulullah saw. Orang yang memiliki iman yang sempurna selalu memposisikan cintanya kepada Rasulnya dengan posisi urutan pertama dibandingkan cintanya kepada manusia lain. Cintanya kepada Rasul saw melebihi cintanya kepada orqng tua, istri, suamu dan anaknya, bahkan dirinya sediri. Sebagaimana sabdanya Rasulullah saw Tidaklah sempurna iman salah seorang kamu sehingga aku lebih mencintai dari kedua orang tuanya anaknya dan semua manusia (HR.Bukhari).
قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ
Artinya: katakanlah: ”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (Q.S. Ali-Imran : 31).
Ditafsirkan Ibnu Katsir mengenai ayat ini yakni: Kalian akan memperoleh balasan yang lebih dari pada apa yang dianjurkan kepada kalian. Kecintaan Allah kepada kalian dinilai lebih besar dari pada yang pertama, yaitu kecintaan kalian kepadanya. Seperti yang dikatakan oleh sebagian ulama, bahwa duduk perkaranya bukan lah bertujuan agar kamu mencintai, melainkan akan sebenarnya ialah bagaimana agar kamu dicintai.
Ibnu al-Jala’ berkata bahwa Allah Swt. mewahyukan kepada Nabi Isa, ”jika aku melihat sirr (hati yang sangat dalam) hambaku, lalu aku tidak menemukan cinta dunia dan akhirat dalam sirr-nya, maka aku memenuhi sirr-nya dengan cinta-ku dan aku menanggung penjagaanku untuknya.
Cinta dan Intropeksi
Ada riwayat bahwa suatu hari Samnun berbicara tentang cinta. Tiba-tiba ada seekor burung yang mampir dihadapannya dan terus menerus mematuk tanah dengan paruhnya, hingga mengalirkan darah dan mati. Ibrahim berkata, ”wahai Tuhanku, engkau mengetahui bahwa surga, bagiku tidak setara dengan berat aku nyamuk dibandingkan dengan cinta-mu yang engkau berikan untuk memuliahkanku, engkau membuatku senang berzikir kepada mu dan menyempatkan waktuku untuk memikirkan keagunganmu. Barang siapa mencintai Allah Swt. maka dia hidup. Barang siapa yang cenderung kedunia, berarti dia hilang akal. Orang bodo berangkat pagi dan malam dalam omong kosong, orang berakal sangat meneliti aib-aibnya sendiri”.
Allah Swt. memerintahkan introspeksi diri, dalam firman nya:
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلۡتَـنۡظُرۡ نَـفۡسٌ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٍ ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَؕ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيۡرٌۢ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah Swt. dan hendaklah setiap orang yang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (kiamat)” (Qs al-Hasyr [59] : 18)
Ayat ini merupakan petunjuk untuk intropeksi terhadap amal perbuatan yang telah lalu. Oleh karena itu, Umar berkata, ”Hisablah diri kalian, sebelum kalian dihisap. Timbanglah amal kalian sebelum kalian ditimbang.”
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa seorang laki laki mendatangi Rasulullah Saw. dan berkata, ”Wahai Rasulullah Saw. berilah aku nasihat !” Rasulullah Saw. bersabda, ”Apakah engkau meminta nasihat? Laki laki-laki itu menjawab ”iya”. Rasulullah Saw. bersabda, ”jika engkau ingin melakukan sesuatu, maka renungkanlah akibatnya. Jika ia petunjuk, maka laksanakanlah. Jika ia kesesatan, maka berhentilah!”
***
Dalam hadis disebutkan, seharusnya seseorang yang berakal mempunyai empat waktu. Di antara waktu itu ada waktu untuk introspeksi diri. Allah Swt. berfirman:
وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
“Dan bertobatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung” (QS an-Nur [24]: 31)
Tobat adalah sebuah melihat sebuah perbuatan setelah selesai mengerjakannya dengan cara menyesalinya. Rasulullah Saw. bersabda, Aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepadanya seratus kali sehari.”
Allah Swt. berfirman:
اِنَّ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا اِذَا مَسَّهُمْ طٰۤىِٕفٌ مِّنَ الشَّيْطٰنِ تَذَكَّرُوْا فَاِذَا هُمْ مُّبْصِرُوْنَۚ
”Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).” (QS al-A’raf [7]: 201)
Diriwayatkan dari Maimun bin Mahran, seorang hamba tidak termasuk dari orang-orang yang bertakwa sebelum dia menhisab dirinya lebih ketat dari menhisab teman kerjanya. Dua teman kerja saling introspeksi setelah bekerja.
Editor: An-Najmi



























Leave a Reply