Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Begini Budaya Berpikir Kritis Sahabat Perempuan Nabi!

budaya kritis
Sumber: https://www.mdpi.com

Sifat malu memang menjadi sifat alami bagi manusia. Rasulullah juga mengajarkan kepada umat muslim untuk memiliki rasa malu yang bahkan dalam hadits disebutkan bahwa malu adalah sebagian dari iman. Namun ada rasa malu yang tercela dan harus dihindari. Yaitu rasa malu atau kurang percaya diri ketika menuntut ilmu. Karena hal itu menyebabkan seorang pelajar dapat tertinggal dan bahkan menjadi bodoh. Dan diubah menjadi budaya semangat menuntut ilmu untuk budaya kritis.

Pada faktanya, perasaan malu dalam forum pembelajaran kebanyakan dirasakan oleh kaum perempuan. Sebab memang mahkota paling berharga seorang wanita adalah rasa malu. Namun jika melihat apa yang terjadi di masa Rasulullah, justru sahabat perempuan tidak pernah malu, mereka berani dan proaktif menanyakan apapun yang berkaitan dengan masalah agama kepada Rasulullah. Hal itu membuat mereka turut menyumbang pengaruh besar dalam bidang keilmuan.

Sahabat Perempuan dan Budaya Kritis

Satu diantaranya adalah Asma binti Abu Bakar yang merupakan golongan Assabiqun al-Awwalun yakni orang-orang pertama yang memeluk Islam dan menjadi salah satu wanita berpengaruh pada zaman Rasulullah, selain mendapat gelar Dzatun Nithaqain ia juga sebagai salah satu wanita penyebab turunnya ayat Alquran. Ayat yang berkaitan dengan Asma binti Abu Bakar adalah surat al-Mumtahanah ayat 8― yang menanyakan persoalannya tentang muamalah dengan orang non muslim kepada Nabi Muhammad.

Sebagaimana pendapat Imam al-Qurtubi, mayoritas Ahli Takwil (ulama yang selalu melakukan interpetasi atas teks ayat) menegaskan “ayat tersebut adalah ayat muhkamat.” Mereka berargumentasi dengan menyatakan tentang pertanyaan Asma binti Abu Bakar kepada Nabi Saw. (Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, Jilid 18, h. 361)

Baca Juga  Penetapan Awal Bulan Qomariyah: Antara Metode Rukyat dan Hisab?

Imam Jalaluddin As-Suyuthi mengutip hadits yang menjelaskan tentang sebab turunnya ayat tersebut yang diriwayatkan sendiri oleh Asma binti Abu Bakar. Dari Imam Bukhari, “Asma berkata, Ibuku Raghibah (dalam suatu riwayat: ia wanita musyrik) datang kepadaku pada masa Rasulullah. Maka aku bertanya, Apakah boleh aku menyambung silaturahmi dengannya? Maka Nabi Saw menjawab, Ya, boleh.” Ibnu Uyyainah berkata: “Kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat tentangnya: Allah tidak melarang kalian dari orang-orang yang tidak memerangi kalian karena agama. (Lubaab an-Nuquul fii Asbaabi an-Nuzul, h. 556)

***

Dari rasa penasaran Asma yang meminta kejelasan tentang apakah boleh ia ingin menyenangkan ibu yang tidak beragama Islam bertamu ke rumahnya dan menerima hadiah darinya, karena sebelumnya ia khawatir jika hal itu tidak dibenarkan oleh Rasul. Hal ini secara khusus menunjukkan konteks bolehnya menjalani hubungan baik dengan kaum non muslim.

Dari pertanyaan Asma kepada Rasulullah, dapat diambil pelajaran bahwa toleransi antar umat beragama dianjurkan bagi kaum muslimin, prinsip kemanusiaan yang menjadi dasar dari toleransi ini adalah rasa saling cinta (mawaddah) yang sudah terbina sebelumnya, seperti cinta kepada kedua orang tua yang non muslim atau juga prinsip perintah untuk berbuat baik (tabarrû) sebagai kewajiban anak kepada kedua orang tuanya, serta perintah untuk berbuat adil (tuqṣitu) seperti menerima hadiah yang dibawakan orang tua non Muslim. (Tafsir Fi Zhilalil Quran, Juz VI, h. 849-851)

Contoh lain datang perempuan Anshar yang mendapat pujian dari Sayyidah Aisyah, sebab mereka tidak memiliki rasa malu dalam menuntut ilmu. “Sebaik-baik perempuan adalah perempuan Anshar. Mereka tidak malu untuk bertanya dalam rangka memahami agama.” (Shahih Muslim no. 332)

Baca Juga  Watak Sosiologis Suku Quraisy dalam Al-Qur'an
***

Abu Zahwu dalam kitabnya yang berjudul al-Hadits wa al-Muhadditsun juga menyebutkan bahwa wanita Arab penduduk Madinah atau yang disebut golongan Anshar-lah yang paling berani diantara wanita lain yang bertanya langsung kepada Rasulullah. Salah satunya adalah hadist yang terkenal tentang kasus mandi janabah bagi wanita yang mengalami mimpi basah. “Sesungguhnya Allah Swt tidak malu terhadap kebenaran. Apakah perempuan juga mandi ketika ia bermimpi basah.” (HR. Imam Bukhari no. 6091)

Semangat Belajar Wanita di Masa Rasulullah

Imam al-Bukhari dalam kitabnya menulis satu bab khusus tentang semangat belajar perempuan 14 abad yang lalu, yang ia beri judul, “Akankah ada waktu belajar khusus bagi perempuan bersama Rasulullah.” (Shahih al-Bukhari h. 37)

Salah satu pembahasan tersebut ia mengutip riwayat Abu Sa’id al-Khudri, yang mengatakan bahwa para sahabat wanita mengadu kepada Nabi Saw karena kalah dari kaum muslimin yang lebih banyak mendapat kuliah dari beliau dan meminta untuk meluangkan hari untuk mengajari mereka. Nabi pun menyanggupi dan menentukan satu hari khusus untuk mengajari mereka.

Di pertemuan pertama, Rasulullah memberi nasehat dan memerintahkan mereka agar bersedekah, kemudian beliau bersabda, “Setiap perempuan yang banting tulang menafkahi tiga anaknya, pasti amalnya akan menjadi tirai penghalang dari api neraka.” Lalu, Ummu Sulaim bertanya, “Bagaimana kalau dua?” Rasulullah menjawab, “Iya, dua anak juga demikian”.

***

Dari hadist di atas, dapat dilihat jelas semangat para muslimah di masa Rasulullah dalam menuntut ilmu. Mereka tidak mau kalah dengan laki-laki yang punya banyak kesempatan mengaji kepada Nabi. Hal ini menegaskan bahwa perempuan memiliki hak yang sama sebagaimana laki-laki dalam pendidikan. Sehingga menutup akses belajar untuk perempuan tidak sesuai ajaran Nab Saw. Sebab beliau Saw merestui perempuan untuk berpengetahuan serta berpendidikan tinggi. Ini satu bukti budaya kritis sahabat perempuan Nabi.

Baca Juga  Menadaburi Al-Qur’an Secara “Fresh” ala Sayyid Muhammad Rida Al-Husaini

Anjuran Nabi tentang kewajiban menuntut ilmu itu tanpa pandang bulu dan tak terbatas tempat dan waktu. Dengan demikian (meskipun tulisan ini berbicara dari sudut pandang perempuan), baik laki-laki dan perempuan seharusnya menyambut seruan Nabi untuk semangat dalam thalabul ‘ilmi sebagaimana para sahabat muslimah di zaman Rasulullah, serta menghilakan rasa malu atau kurang percaya diri dalam belajar. Karena itu tindakan yang rugi dan bisa saja berbahaya. Bahkan sejatinya bertindak berani dalam belajar dan menuntut ilmu adalah perbuatan terpuji. Bahkan merupakan budaya kritis yang baik.

Sebagai penutup, Sayyidah Aisyah pernah menegur Abu Musa al-Asy’ari. Abu berkata kepada Ummu al-Mukminin tersebut, sebenarnya ia ingin bertanya kepadanya tentang sesuatu, namun ia merasa malu. Kemudian, Siti Aisyah meresponsnya. “Tanyakan saja, tidak perlu malu. Saya ini ibumu,” ujarnya.[]