Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Dilema Keilmuan: Sekularisasi, Islamisasi dan Pengilmuan Islam

Sekularisasi
Gambar: Ajaib

Selayang Pandang Sekularisasi

Tidak bisa dipungkiri bahwasanya umat Islam saat ini masih terkena dampak dari serangan sekularisme secara sadar maupun tidak. Sehingga pertarungan sekularisme dan pengetahuan Islam harus tetap dilanjutkan untuk mencapai kesadaran umat islam secara kaffah tentang bahaya sekularisme.

Singkatnya, latar belakang adanya sekularisme disebabkan beberapa hal yaitu pertama, karena aspek historis atau sejarah umat agama Kristen yang tidak puas dan mengira bahwa agama hanya candu dan tidak benar-benar mengantar ke dalam kehidupan yang lebih baik.

Kedua, adanya pengalaman buruk yang dirasakan oleh umat beragama terutama di daerah Eropa. Sehingga merasa bahwa agama malah menjadi beban dan tidak solutif. Hal ini bisa kita lihat dari beberapa tokoh salah satunya Karl Max. Dalam bukunya Das Kapital, Karl Marx menyatakan bahwa agama mengekang dan menghalangi kebebasan berfikir serta berpendapat karena harus mengikuti perintah para pemuka agama yang tidak masuk akal.

Pandangan Kuntowijoyo Terhadap Sekularisasi

Dalam konteks di Indonesia yang mayoritas muslim, Kuntowijiyo mengatakan adanya sekularisasi dikarenakan sumber ilmu yang kita gunakan tidak merujuk pada Al-Quran dan sunnah, dua pusaka tersebut cenderung hanya digunakan untuk mengintegrasikan dan menguatkan ilmu pengetahuan bukan sebagai sumber atau dalam bahasa Kunto sebagai aksi reaktif bukan pro aktif.

Dari beberapa pandangan di atas jelas bahwa umat muslim masih perlu meningkatkan kapasitasnya keilmuanya dan menjadikan kalam tuhan sebagai sumber.

Keilmuan adalah faktor penting dalam pembangunan peradaban, Nabi Adam sebagai manusia pertama yang diturunkan ke bumi beliau diajarkan oleh Allah Swt tentang nama atau ilmu di dunia seperti keyakinan kita dalam surat Al Baqarah ayat 31yang artinya:

Baca Juga  Tafsir Aktual: Bagaimana Al-Qur'an Menjawab Problematika Bunuh Diri

“Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!”. Di dalam Tafsir Ibnu Katsir dikatakan bahwa nama-nama yang di maksud adalah ilmu.

Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah mengajarkan ilmu kepada nabi Adam, ilmu itu terus berkembang hingga umat mengalami berbagai macam perjalanan spiritual, mulai dari kemusyrikan hingga titik dimana agama tidak lagi dibutuhkan bahkan menjadi beban, lalu munculah kaum pemikir sekular.

Corak Pemikiran Tokoh Sekular

Beberapa pemikir sekular barat terkenal seperti Pierre Simon de Laplace seorang astronom di perancis yang hidup di zaman kaisar Napoleon. Ketika dia melakukan riset astronomi, dia tidak menyinggung sama sekali soal tuhan dalam penilitiannya sehingga Kaisar pun bertanya mengapa demikian? maka Laplace menjawab “saya tidak butuh anggapan seperti itu tuan”. Yang artinya dia beranggapan tuhan dan agama tidak perlu dilibatkan dalam penelitiannya.

Charles Darwin yang terkenal dengan teori evolusinya pun juga terkena dampak dari sekularisasi. Darwin merupakan penganut Kristen yang taat tetapi setelah mendapatkan pengaruh dari Natural Theology milik Wiliiam Payle bahwa perubahan terjadi karena seleksi alam dan bukan kehendak tuhan dia tidak lagi percaya agama.

Begitulah pemikiran sekular di Barat berkembang. Mereka menjauhkan penelitiannya dari agama dan menghasilkan kemajuan dalam bidang teknologi, sains dan disiplin ilmu lainya. Tentu ini bertentangan dengan Islam sebagai ilmu yang dimana kita menjadikan sumber agama sebagai landasan dalam mencapai pengetahuan. 

Indonesia juga terkena dampak dari sekularisme. Dalam kajian yang disampaikan oleh Abdullah Syukri Zarkasyi (Trimurti Darussalam Gontor), “Entah secara sadar atau tidak, adanya sekolah umum dan sekolah agama yang seolah-olah ada pemisahan antara ilmu umum dan ilmu agama padahal ilmu sejatinya satu (Integrasi Interkoneksi) dari Allah SWT”. Dari keresahan itulah akademisi islam berangkat untuk menghadapi sekularisme dengan cara Islamisasi ilmu maupun pengilmuan Islam yang akan kita bahas dibawah.

Baca Juga  Sekilas Implikasi Manusia, Nafsu, dan ‘Ilm menurut Semantik Al-Qur’an

Corak Pemikiran Tokoh Muslim

Beberapa akademisi seperti Mulyadi Kartanega, Kuntowijoyo juga membahas soal ini. Meski dengan karakteristik yang berbeda tetapi memiliki keterkaitan dan tujuan yang sama. Sehingga menarik untuk dikaji dan dijadikan bahan diskusi oleh para intelektual yang menggeluti pengetahuan modern.

Mulyadi mengatakan bahwa Barat telah membatasi penelitianya berdasarkan indra dan realitas yang terjadi saja. Sehingga berakhir dengan penolakan hal gaib atau dunia metafisik. Adanya Tuhan sebagai hal yang gaib telah disingkirkan dari dunia keilmuan mereka. Namun kita sebagai muslim sepatutnya mengintegrasikan antara ilmu fisik dan metafisik. Juga menalar wahyu yang disampaikan lewat Nabi yang termaktub dalam Al-Quran & Hadis.

Menalar wahyu bukanlah hal yang seharusnya kita hindari. Karena Allah berfiman bahwa kita sebagai manusia sempurna karena di anugerahi akal untuk berfikir. Contoh dalam menalar wahyu adalah ketika Nabi 1400 tahun lalu mengatakan jikalau ada lalat hinggap di cawan. Maka tenggelamkan dulu baru dibuang. Tentu jika kita di posisi itu pasti akan merasa jijik dan tidak masuk akal karena lalat hidup di tempat yang kumuh.

Tetapi pada Era Modern kita bisa membuktikan secara ilmiah bawasanya di sebagian sayap lalat memang ada racun tapi di bagian lainnya juga ada obat sehingga ketika mencelupkan lalat itu secara utuh maka akan menetralkan air yang terkena mikroba jahat atau racun tersebut.

Kritik Mulyadi Terhadap Sekularisasi

Kembali ke sekularisme, menurut Mulyadi sekularisme kurang sempurna dalam pengembangan ilmu pengetahuan karena hanya mengandalkan indra sehingga observasi yang dilakukan hanya sebatas pada hal yang tampak.

Akhirnya, wahyu yang berasal dari yang gaib juga tidak berguna dan cenderung diabaikan. Sedangkan muslim mengabungkan antara indra, intuisi dan hal yang gaib dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Baca Juga  Kritik dan Cinta Tanah Air

Di samping itu ada Kuntowijiyo dengan semangat pengilmuan Islam menawarkan paradigma bahwa Al-Quran dan sunah seharusnya menjadi landasan berfikir dalam menghadapi realitas sosial atau sering disebut dari teks menuju konteks.

Kunto mengatakan kita harus mulai meninggalkan Islamisasi pengetahuan dan beralih ke pengilmuam Islam. Pengilmuan Islam yang dimaksud adalah pengetahuan tidak lagi diintegrasikan dengan Al-Quran dan sunnah. Tapi sebaliknya, Al-Quran dan sunnah harus menjadi sumber untuk mencapai ilmu pengetahuan yang kaffah.

Peran Umat Islam

Dua tokoh Islam dengan pemikiranya di atas merupakan contoh upaya akademisi Islam dalam menghadapi realita kemunduran umat Islam dibidang ilmu pengetahuan. Namun kenapa dengan berbagai upaya umat Islam tidak lebih maju dari kaum sekular? Mungkin salah satu penyebabnya adalah seperti yang disampaikan oleh Mulyadi. Bahwa kaum sekuler sudah meningkatkan metodologi observasi ilmu pengetahuannya di level yang canggih sedangkan muslim belum melakukanya.

Mungkin juga kita belum menjadikan Al-Quran sebagai paradigma seperti yang dikatakan Kunyowijoyo. Beliau mengatakan kita perlu memandang Al-Quran sebagai konstruksi pengetahuan yang memungkinkan kita untuk memahami realitas sebagaimana Al-Quran memandangnya. Maka tugas kita sebagai umat muslim yang menggeluti pengetahuan modern adalah mengawal dan mendalami berbagai macam pemikiran tokoh Islam agar kita tidak menjadi umat yang tertinggal. Wallahualam\

Penyunting: Bukhari