Dalam tradisi keilmuan Islam, berpikir dengan akal yang salim (sehat) merupakan hal mendasar yang harus dimiliki oleh seorang muslim ulul albab. Misalkan, seorang muslim yang mampu mencapai akal sehatnya memiliki kemampuan berpikir secara terbuka dan mampu mencari kebenaran dengan beramal ilmiah. Sehingga kebermanfaatan di setiap prosesnya dapat membantunya meraih hakikat yang hakiki.
Masuk ke dalam ruang lingkup interkoneksi ala Islam. Sebagai objeknya, hadis yang merupakan sumber kedua setelah Al-Qur`an di dalam Islam memiliki andil besar dalam terbentuknya kerangka berpikir yang akrab disebut dengan istilah “paradigma”. Dalam pembahasannya, Ian G. Barbour sangat terbuka dalam menyatakan diagnosa pada sebuah hubungan keterikatan dan keterkaitan yang dialami agama dan sains.
Sangat menarik bila umat Islam mampu mengkritisi pandangan Ian G. Barbour dan menjadikannya batu loncatan. Dalam menghadapi pemikiran kaum rasionalitas yang kerap menegasikan antara kebenaran mutlak dengan kebenaran nisbi.
Pandangan Ian G. Barbour terhadap hubungan antara agama dan sains melahirkan empat buah poin pembahasan. Pertama adalah konflik, pembahasan ini lebih merujuk pada sebuah penganalogian agama dan sains, bak air dan minyak yang saling menegasikan dan bertentangan satu sama lain.
Kedua, independensi, pembahasan yang menerangkan bahwasannya agama dan sains adalah suatu hal yang mampu berdiri sendiri tanpa saling menegasikan satu sama lain. Meskipun, masih terdapat sebuah paham “halus” yang mampu menyusup dan berkembang di tengah era perkembangan peradaban manusia 4.0.
Ketiga, dialog, disebut juga dengan interkoneksi versi lite karena hampir mendekati makna interkoneksi itu sendiri. Lalu yang keempat adalah integratif, dalam pembahasannya, integratif terbagi menjadi dua bentuk, yakni natural theology dan theology of nature, di mana kedua bentuk integratif tersebut hadir sebagai penguat kajian spiritual sekaligus menjadi bahan refleksi penghambaan kepada Tuhan.
Problematika Paradigma Islam
Dalam hal ini, Prof. Syamsul Anwar turut mengemukakan pandangannya perihal term interkoneksi dan integrasi yang muncul belakangan ini. Menurutnya, term interkoneksi dan integrasi merupakan dua “pendekatan” yang berbeda.
Interkoneksi sendiri hanyalah sebuah alat untuk melahirkan pemaham baru, berbeda dengan integrasi yang memiliki kemampuan untuk merestukturisasi tata keilmuan sehingga lahir sebuah keilmuan baru dengan segenap uji kompetensi ahli yang beredar di dalamnya. Pada akhirnya, paradigma interkoneksi ala Islam bisa menjadi tawaran yang relevan. Dalam hali ini seorang muslim mampu membentuk dalam mengentaskan ketegangan antara agama-sains yang akan dibahas lebih lanjut di bawah ini.
Penyebab kemunduran dan degenerasi umat Islam menurut Naquib al-Attas dikarenakan kelalaian dalam perumusan dan pengembangan rencana pendidikan yang sistematis berdasarkan prinsip-prinsip Islam. Selain kemunduran, stagnasi yang begitu panjang dalam dunia pendidikan Islam diakibatkan dengan dikotomi pendidikan agama dan sains.
Hal senada juga dikemukakan oleh seorang cendekiawan muslim Ismail Raji` al-Faruqi terhadap problem kurikulum pendidikan Islam yang selama ini terkelompokkan secara dikotomis menjadi keilmuan Barat (sekular) dan agama, oleh karena itu seluruh kurikulum keilmuan, proses, dan tujuan pendidikan Islam harus diwarnai dengan nilai-nilai Islam secara utuh dan menyeluruh demi terciptanya keadaan di mana agama dan sains jalan beriringan melintasi peradaban tanpa saling menegasikan satu sama lain.
Ragam Pemikiran dalam Islam
Dalam konteks keindonesiaan yang telah berkembang sejak abad ke 18 Masehi hingga sekarang. Gerakan pembaharuan Islam di Indonesia begitu menggeliat disebabkan oleh empat faktor. Menurut Karel A. Steenbrink hal ini berangkat dari keadaan realitas sosial Indonesia yang banyak dipengaruhi oleh tindak-tanduk responsif para ulama Nusantara terhadap fenomena sosial yang ada.
Empat faktor itu adalah: pertama, keinginan untuk kembali kepada Al-Qur`an dan hadis. Kedua, semangat nasionalisme untuk melawan penjajah dan sistem kepenjajahan. Ketiga, semangat dalam memperkuat basis gerakan sosial, ekonomi, budaya, dan politik. Keempat, adalah semangat pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia.
Dalam ragamnya, paradigma pemikiran Islam yang populer dewasa ini berkembang dan menjelma menjadi sebuah istilah “Islamisasi Ilmu Pengetahuan”. Sempat disinggung sedikit pada pembahasan di awal, di antara tokoh intelektual muslim yang menginspirasi ide-ide “islamisasi ilmu pengetahuan” adalah Ismail Raji` al-Faruqi dan Naquib al-Attas.
Atas dasar persepsi bahwa ilmu pengetahuan yang beredar dewasa ini mengandung sekularisme dan menjauhkan kerangka serta konsep tauhid (pengesaan Allah Swt) dari umat Islam. Namun pada kenyataannya, terjadi sikap pro-kontra terhadap islamization of knowledge ini.
Kebanyakan dari golongan pro-kontra tersebut mengandalkan sikap egosentris masing-masing tanpa menyadari benang merahnya, justru akibat disparitas yang terjadi antara agama dan sains yang mengakibatkan peradaban Islam berjalan lamban dan cenderung stagnan.
Melihat Realitas dengan Pembacaan Interkoneksi
Segala usaha yang dirancang oleh para intelektual muslim di atas seakan dianggap bak buih yang lambat laun akan menghilang. Hasil pemikiran yang sedemikian rupa tidak terlepas dari pengaruh pola pikir umat yang terkondisikan oleh sebuah anggapan. Yaitu agama yang bersumber dari wahyu dan sains yang bersumber dari akal pikiran manusia. Dua hal tersebut merupakan entitas yang berbeda dan tidak berkait-kelindan satu sama lain.
Sebagai objek yang lahir dari ijtihad integrasi-interkoneksi agama dan sains lainnya. Istilah seperti integrated twin towers turut meramaikan khazanah kajian integrasi-interkonesi agama dan sains secara umum.
Namun, patut untuk digaris bawahi dalam pemaknaan integrasi dan interkoneksi tidak selalu merujuk pada semua keilmuan agama yang diintegrasikan dengan sains. Seperti penjelasan Prof. Syamsul Anwar sebelumnya. Pada akhirnya paradigma keilmuan baik “islamisasi ilmu pengetahuan” dan “integrated twin towers” memiliki tujuan yang sama.
Yaitu mengintegrasikan sebagian keilmuan agama dan sains dalam lingkup pendidikan Islam. Meskipun kedua istilah memiliki desain yang berbeda-beda. Pada kenyataanya produk yang dihasilkan dari pemikiran seorang hamba bisa saja bernilai sebuah kebenaran ataupun sebaliknya.
Interkoneksi dalam Menjawab Problem Kekinian
Meskipun penuh resiko dan berada ditengah nuansa ketidakpercayaan diri, umat Islam harus sadar dan mampu bangkit berdiri. Umat Islam harus tampil menjawab setiap problem yang selalu hadir di setiap lini kehidupan yang ada. Kehidupan yang diberikan Allah Swt adalah sebuah ujian bagi orang yang beriman. Orang mukmin yang selalu bersemangat dalam beramal niscaya mendapat ganjaran sesuai dengan amal perbuatan di dunia serta menjadi bekal di akhirat kelak tanpa terputus dari rahmat Allah Swt.
Kembali lagi pada konsep wasathiyah, “Sebaik-baik suatu perkara adalah yang berada pada pertengahannya”, begitulah bunyi salah satu pepatah Arab. Adapun bentuk kompherentif agama dan sains yang sedang mengalami tren positif dan terlihat mesra dewasa ini harus dijaga dan dipertahankan agar tidak terjadi restukturisasi antara keduanya.
Agama sebagai rumah dan sains sebagai pilarnya mampu menghadirkan suasana nyaman dan aman bagi penghuninya. Terlintas pungkasan pernyataan seorang ilmuan karismatik Albert Einstein yang menyingkap kebenaran dari kehadiran agama dan sains, “Ilmu tanpa agama adalah pincang, sedangkan agama tanpa ilmu adalah buta”.
Penyunting: Bukhari




























Leave a Reply