Pada hakikatnya, manusia dianugerahi nafsu oleh Allah sehingga keinginan apapun yang dikehendakinya mendorongnya untuk melakukan apapun yang diinginkannya. Perlu dicatat bahwa kata ‘nafsu’ didalam al-Qur’an tidak selamanya bermakna buruk, ada juga nafsu yang memiliki kecenderungan berbuat kebaikan, yaitu nafs muthmainnah. Seperti yang difirmankan Allah dalam Q.S. Al-Fajr : 27-30
Prof. Quraisy Shihab beranggapan bahwa sebenarnya potensi manusia dalam berbuat kebaikan lebih kuat dibanding potensinya dalam bermaksiat, hanya saja, daya tarik keburukan lebih kuat daripada daya tarik kebaikan. Maka dari itu, Allah selalu mengingatkan kepada hambanya agar selalu menyucikan jiwanya, dan mencegahnya dari segala hal yang mengotorinya.
Hawa dan Nafsu
Berbicara tentang nafsu, sangat tidak relevan jika tidak membicarakan tentang hawa. Kalau melihat dari semantik al-Qur’an, hawa merupakan kecenderungan manusia untuk keluar dari jalan Allah (dhalal). Bisapula dimaknai sebagai kecenderungan alamiah jiwa manusia, yang muncul dari nafsu dan selera kebinatangan.
Sebagian orang pada masa pra-Islam menganggap hawa adalah sesuatu yang baik. Salah satunya ada dalam syair dari Ta’abbath Sharran yang terkenal :
Qalil al-tashakki lil-muslim yusibuhu katsir al-hawa shuta al-nawa waa al-masalik
(ia adalah orang yang) jarang mengeluh apapun bencana yang menimpanya, karena ia banyak memiliki hawa, memiliki banyak arah untuk bergerak dan jalan untuk dilalui.
Dahulu, orang jahiliah memang mengkonsepsikan pengalaman pribadi dan kepercayaan turun temurun dari kesukuan mereka sebagai ‘ilm, bukan zann (dugaan). Apabila melihat dari konsep al-Qur’an, pandangan ‘ilm –nya orang Jahiliah tentu saja dipandang rendah yaitu hanya sekedar bersifat zann karena merupakan pengetahuan palsu yang tidak memiliki landasan kebenaran.
‘Ilm dan Pengetahuan
Sedangkan kata ‘ilm di dalam al-Qur’an dimaknai sebagai pengetahuan yang senantiasa berlandaskan pada kebenaran, kebenaran (haqq) yang dimaksudkan yaitu semua hal yang bersumber daripada wahyu Ilahi. Lalu apakah hal itu bisa menjadi alasan untuk tidak mempelajari ilmu-ilmu selain ilmu Islam? Tentu tidak.
Perkembangan zaman menuntut ilmuan muslim untuk memperluas wawasannya. Terlebih lagi, keadaan dizaman nabi dan dizaman sekarang sudah jauh berbeda. Sebagaimana Prof. Dr. M. Amin Abdullah mengembangkan metode ilmu pengetahuan Islam. Beliau membangun sebuah gagasan keilmuan yang bersifat integrasi-interkoneksi yang diilustrasikan ke dalam “spider web”. Hal tersebut merupakan peta konsep ilmu pengetahuan yang mana beliau menjadikan al-Qur’an dan sunnah sebagai pusat dari berbagai macam ilmu pengetahuan lainnya. Dan beliau mengaitkan segala macam ilmu pengetahuan agar saling melengkapi satu sama lain.
Dari runtutan penjelasan diatas, ada dua sisi manusia yang saling bertolak belakang. Pertama, manusia sebagai pelaku kerusakan di muka bumi adalah mereka yang mengikuti hawa nafsunya, dan yang kedua, manusia sebagai makhluk yang akan mengembangkan bumi. Untuk menjadi hamba yang diharapkan Allah sebagai khalifah dibumi, maka salah satu yang bisa kita lakukan adalah menjadi manusia yang cerdas dalam menuntut ilmu. Pergunakanlah daya pikir akal yang diberikan Allah untuk menganalisa ataupun menyaring segala sesuatu yang diterima baik dalam ilmu teorinya maupun dalam penerapannya.
Perlu diketahui juga bahwa sesungguhnya orang yang berilmu dengan nafsu sama saja mereka digolongkan sebagai orang-orang yang dzalim. Dan orang yang memperturutkan hawa nafsunya dan tidak berusaha untuk mencari ilmu, maka ia termasuk orang yang sesat (dhalal). Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah (2) : 145 dan Q.S. Ar-Rum (30) : 29
Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu berada di jalan-Nya. Amin yaa rabbal ‘alamin.. waAllahu a’lam bishshawab.
Editor: An-Najmi



























Leave a Reply