Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

“Diam Itu Emas” Menurut Al-Qur’an dan Hadist

Sumber: istockphoto.com

Dalam upaya mendewasakan diri kita, salah satu langkah awal yang harus kita pelajari adalah bagaimana menjadi pribadi yang berkemampuan dalam menjaga dan juga memelihara lisan dengan baik dan benar. Salah satunya dengan diam, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw:

من كان يؤمن باالله واليوم الاخر فليقل خيرا, أو ليصمت

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata baik jika tidak maka diamlah”. Hr. Bukhari

Di zaman modern ini, ketajaman lisan sering kali terganti dengan jari-jemari yang setiap saat berbicara dalam bentuk tulisan. Media sosial riuh dengan berbagai status dan komentar. Sebagai umat Islam, tak semestinya membuat status atau berkomentar di media sosial yang menyinggung dan menyakiti orang lain. Sebab lisan diibaratkan sebagai pisau yang apabila salah menggunakannya akan melukai banyak orang. Sebagian besar dosa yang menjerumuskan manusia ke dalam neraka adalah yang dilakukan lisan mereka seperti berdusta, menuduh orang berzina tanpa bukti, suka memaki-maki orang lain, memfitnah, menggunjing, dan lain sebagainya. Penting untuk kita menjaga lisan karna keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan.

Allah SWT berfirman:

لاَّ خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَاهُمْ إِلاَّ مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاَحٍ بَيْنَ ٱلنَّاسِ وَمَن يَفْعَلْ ذٰلِكَ ٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِ ٱللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْراً عَظِيماً ١١٤

Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barangsiapa berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kami akan memberinya pahala yang besar.” (QS. An-Nisaa'[4]: 114).

Bahkan Allah juga memperingatkan bahwa setiap perkataan dan ucapan yang baik maupun yang buruk terdapat malaikat yang senantiasa mencatatnya.

Baca Juga  Al-Quran Mood Booster untuk Tidak Berhenti Menjadi Baik

Lalu bagaimana dengan paribahasa diam itu emas?

Diam itu Emas

Nah, ternyata Rasulullah bersabda bahwa diam itu lebih baik dari 4 perkara diantaranya:

  1. Shalat adalah tiang agama, tapi diam lebih utama
  2. Sedekah dapat memadamkan murka tuhan, tapi diam lebih utama
  3. Puasa adalah perisai dari siksa neraka, tapi diam lebih utama
  4. Jihad adalah puncaknya keutamaan agama, tapi diam lebih utama

Apa maksudnya?

Diam yang dimaksud disini ialah menghindarkan diri dari pembicaraan yang tidak bermanfaat bagi kepentingan dunia maupun kepentingan agama serta tidak membalas kata permusuhan. Banyak sekali dosa dan kesalahan yang timbul akibat tidak terjaganya lisan dan ucapan, seperti halnya mencemooh, menggibah, mengejek orang lain, dan sebagainya. Maka dari itu diam termasuk ibadah yang paling tinggi tingkatannya. Dalam satu kondisi, diam itu emas jika diamnya adalah diam dari membicarakan orang lain atau diamnya dari berbicara yang sia-sia atau berbau maksiat.

Meski diam disebut menjadi akhlak paling utama karna menghindari pembicaraan yang mengarah kepada maksat dan keburukan, masih sedikit orang yang mau menahan diri dari pembicaraan yang tidak berfaedah dan hal yang sia-sia.

Namun diam juga tidak selamanya menjadi akhlak yang paling utama karena zikir, membaca al-Quran, ataupun belajar ilmu agama jauh lebih baik dari diam. Dari Ibn Umar ra, bahwa Rasulullah bersabda “Diam itu hikmah, namun sedikit sekali yang melakukannya”. (Hr. Qadha’i)

Berpikir Sebelum Berkata

Betapa banyak di antara kita yang meremehkan peringatan Rasulullah ini. Mengucapkan satu kalimat tanpa dipikirkan dampaknya secara mendalam terlebih dahulu, atau membuat satu kalimat status atau komentar yang menggiring banyak opini buruk orang lain atau juga belum dipastikan kebenarannya dan menyakiti orang lain dan sebagainya. Lalu kalimat itu berbuah penyesalan. Sehingga benar bahwa keselamatan itu dengan menjaga lisan dan tulisan.

Baca Juga  Jangan Selalu Mengartikan Kata Kafir dengan Non-Muslim

Dahulu kita dapat mengukur lisan seseorang melalui lontaran ucapannya yang kerap keluar, namun sekarang kita dapat mengukur kehormatan seseorang melalui jari-jarinya yang mengekuarkan komentar dan statusnya di media sosial. Status sosial bisa menjadi cerminan dari dirinya. Melalui sosial medianya, status, dan komentarnya akan terlihat bagaimana pola hati dan pikirannya.  

Penulis kitab Hasan as-samat fi as-Shumti karya Imam Suyuthi menerangkan bahwa, tuntutan diam tidak bersifat mutlak. Yang artinya, hendaknya seorang muslim berbicara, tetapi tetap pada konteks kebaikan. Diamlah apabila menyangkut keburukan atau topik-topik yang tidak patut dibicarakan. Apabila belum mengetahui kebenarannya, maka lebih baik diam saja, dan janganlah menyakiti hati orang lain karena di akhirat setiap perkataan yang keluar dari mulut akan dimintai pertanggungjawabannya.

Wallahua’lam.

Editor: An-Najmi