Tulisan kali ini akan membahas mengenai teologi Islam yng hanya berkutat pada perdebatan yang tidak lagi relevan hari ini. Penulis mencoba untuk mentranformasikan Kalam dalam tataran teologis menuju pada sosiologis sebuah wacana intelektual, yang di dalamnya akan banyak membahas mengenai nilai-nilai teologis itu agar dibawa kedalam kehidupan bermasyarakat. Tulisan ini sebenarnya terinspirasi dari bukunya Hasan Hanafi “Dari aqidah ke revolusi” yang mencoba untuk bagaimana perdebatan kalam itu tidak lagi mengenai dosa besar, muslim atau kafir, Tuhan itu ada dimana. Tapi kita harus membawa nilai-nilai teologis menuju sebuah aksi pembebasan dan perlawanan terhadap hegemoni barat yang kita sebut juga dengan revolusi.
Tapi apakah hegemoni dan penjajahan hari ini masih ada? Saya kira jawaban mengenai ini akan banyak opini dari sebagian orang. Ada yang menganggap bahwa kita masih terjajah dengan ekonomi neo liberalisme, yang mengakibatkan telantarnya kaum miskin karena dianggap pemalas yang tidak mau kerja. Padahal cari kerja susah, yang sejatinya kemiskinan itu diakibatkan oleh struktural. Namun ada sebagian orang juga menganggap penjajahan itu sudah tidak ada lagi karena adanya kebebasan dari setiap individu.
Dalam konteks ini kita tidak akan mengulangi teori dari dari Hasan Hanafi yang ingin adanya revolusi sosial. Tapi kita akan mentransformasikan itu dalam wacana keberagaman dan keharmonisan dalam bermasyarakat agar tidak terjadi konflik masyarakat sipil.
Makna Tauhid Sesungguhnya
Tauhid atau mengesakan Allah secara teks ayat Al-Quran Surat Al-Ikhlash ayat 1-4 yakni:
“Katakanlah (Muhammad), Dialah yang Maha Esa. Allah tempat Meminta segala sesuat. (Allah) tidak beranak dan tidak pula di peranakkan. Dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan dia. [QS Al-Ikhlas:1-4]
Sebuah teori yang tidak asing lagi ditelinga kita. Membahas tentang tauhid, yaitu Ibnu Taimiyah yang membagi Tauhid menjadi tiga. Sesuatu yang pernah kita ketahui dari bangku sekolah, yaitu uluhiyah, rububiyah, dan asma wa sifat. Tauhid uluhiyah adalah mengesakan dengan sesembahan, bahwa tidak yang disembah kecuali Allah SWT. Sedangkan Rububiyah adalah mengesakan Tuhan dengan mempercai bahwa Allah adalah sang pencipta, dan Asma wa Sifat adalah mengangungkan nama-nama Allah dan mempercai sifat Allah itu Sendiri.
Apa yang dituliskan oleh Ibnu Taimiyah menjadi sebuah perdebatan panjang karena dianggap ungkapan itu hanya dari Ibnu Taimiyah bukan berdasarkan dalil wahyu maupun hadits. Karena tidak ada teks yang yang tertulis harus harus menauhidkan Allah uluhiyah, rububiyah dan uluhiyah.
***
Inilah yang perlu untuk dibahas lebih jauh mengenai bagaimana itu adalah sebuah pendapat dari hasil memaknai teologi itu sendiri; dari Tauhid yang di dalamnya perlu untuk mengesakan Tuhan. Terlepas dari apakah itu dari Ibnu Taimiyah atau Quran itu sendiri, yang terpenting adalah pada teks dahulu memahami tauhid seperti itu.
Perdebatan teologi masa lampau mengenai keesaan Tuhan hanya untuk membela setiap golongan. Termasuk di dalamnya pembahasan mengenai eksistensi Tuhan, apakah Allah itu ada di “arsy dengan duduk di singgasananya atau itu hanya kuasanya saja. Dengan demikian itulah kalam masa lampau yang berbicara mengenai teologis tapi sekaligus miris. Karena setiap kelompok mempunyai pendapatnya masing-masing sampai menibulkan konflik antar ummat Islam itu sendiri.
Maka dari pada itu perdebatan masalah ini seharusnya sudah selesai karena itu menghilangkan nilai-nilai esensial. Ada yang lebih penting untuk dibahas yaitu sosial, transformasi sosial atau aksi yang perlu dilakukan. Meskkpun hal ini telah dilakukan oleh Ahmad Dahlan selaku pendiri Muhammadiyah dengan semangat Al-Ma’un, beliau tidak memperdebatkan siapa yang menistakan agama, tapi melakukan langsung dalam bentuk aksi, memberi makan orang miskin, menyantuni anak yatim, bahkan mreka dimasukkan ke sekolah yang Ahmad Dahlan sendiri pengajarnya. Transformasi dari teologi ke aksi sudah dilakukan oleh Ahmad Dahlan.
Dakwah Intelektual Islam
Makna intelektual adalah mereka yang punya kesadaran terhadap realitas sosial yang ia hadapi. Mampu mengubah itu dari sebuah paradigma yang komperehensif, membumikan nilai-nilai kemanusiaan, berpihak pada kaum tertindas dan membenci ketidakadilan. Sebagai orang Islam intelektual tanggung jawabnya lebih besar daripada orang biasa, mengesampingkan egoistik dan mendahulukan nilai-nilai altruistik.
Dakwah intelektual Muslim ada dua yaitu:
- Dakwah turun ke bawah. Artinya ialah tetap peduli pada orang miskin, yatim piatu, kaum buruh, petani, dalam artian dia tidak menelantarkan masyarakat kaum bawah, berpihak pada mereka, membangun sebuah peradaban, jika dia miskin maka seorang intelektual harus mampu memberikan solusi supaya mereka tidak miskin dan kelaparan, jika dia yatim piatu, di muliakan tidak dihardik, mengganggap mereka seolah anaknya, memajukan pendidikan jika mereka disana tidak layak pendidikannya.
- Dakwah ke atas, ialah menyampaikan sebuah nilai-nilai ke Islaman melalui penguasa, misalnya memberikan usulan kebijakan yang berpihak dengan masyarakat, mendistribusi keadlilan sosial. membantu terbentuknya penguasa yang demokratis, berdialektika terbuka dengan mahasiswa, mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan.
Tugas Intelektual
Seorang cendekiawan, intelektual, harus memenuhi dua syarat dan tugas tersebut. Jika dua hal itu tidak dilakukan, maka sejatinya dia bukanlah seorang intelektual melainkan hanya manusia biasa sama seperti yang lain. Lebih parahnya lagi jika dia punya kesadaran tapi tidak dilakukan dengan transformasi sosial maka itu disebut kemunafikan.
Pada akhirnya seorang muslim akan sadar bahwa teologi perlu untuk ditranformasikan, agar supaya Islam yang rahmatan lil ‘alamiin ini. Benar-benar dilihat dari sudut pandang yang lain bahwa itu adalah sebuah fakta. Cendikiawan muslim ialah orang yang punya kesadaran bahwa perlunya mendistribusikan keadilan dan aksi keberpihakannya terhadap kaum miskin, sekaligus juga membenci penguasa zhalim yang tidak berpihak kepada masyarakat.
Dakwah seorang intelektual tetap merujuk pada Al-Quran surat Ali-Imron ayat 110 yakni:
“Kamu(Islam) adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh berbuat yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan berimanlah kepada Allah. Sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah lebih baik dari mereka. [QS Al-Imron:110].
Editor: An-Najmi




























Leave a Reply