Allah SWT menciptakan alam semesta dan segala isinya untuk manusia agar mempercayai bukti kebenaran-Nya. Bahwa alam semesta ini memang ada yang menciptakan. Allah adalah Maha Pencipta makhluk (al-khaliq). Allah menciptakan makhluk dengan sempurna dengan kelebihan masing-masing. Manusia wajib memanfaatkannya sebaik mungkin tanpa merusaknya.
Pencipta alam semesta tidak hanya membaca ayat-ayat Al-Quran saja. Akan tetapi juga melakukan perintah Allah sehingga dapat menemukan kebenaran. Sesungguhnya semakin dekat dengan-Nya, semakin tenang jiwa manusia. Di beberapa surat, Al-Qur’an juga menegaskan Allah-lah yang menciptakan alam semesta ini.
Langit dan bumi diciptakan dalam waktu tertentu. Yaitu “enam hari’ (QS. Al-A’raf:54), dengan prinsip kebenaran dan penciptaan itu bukanlah pekerjaan main-main atau sia-sia (QS. Ad-Dukhan:38-39). Karenanya, atas semua kejadian penciptaan itu, manusia diperintahkan untuk dapat memikirkannya (QS. Al-Baqarah:164).
Melalui pemikiran terhadap penciptaan alam semesta itu, manusia diharapkan memperoleh kesadaran ketuhanan dan “menemukan” Tuhan sebagaimana Nabi Ibrahim AS. Selain itu, pemikiran ini akan mengantarkan pada kesadaran pengetahuan untuk menyusun konsep-konsep dan berusaha mewujudkannya dalam realitas kehidupan manusia.
Lafal al-khaliq berasal dari kata fill khalaqa yang berarti dasar, yakin mengukur atau memperluas.
Al-Khaliq merupakan satu dari 99 Asmaul Husna yang menjadi nama atau sifat baik Allah SWT. Makna Al-Khaliq artinya menjelaskan tentang sifat besar Allah sebagai pencipta. Al-Khaliq artinya yang menciptakan sesuatu dari ketiadaan. Allah menciptakan apa yang “Dia” kehendaki dan dengan cara yang sempurna.
ذٰلِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمْۚ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوْهُ ۚوَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ وَّكِيْلٌ
“Itulah Allah, Tuhan kamu; tidak ada tuhan selain Dia; pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; Dialah pemelihara segala sesuatu.“
Al-Khaliq dan Tafsirnya
Setelah terbukti bahwa keyakinan mereka itu salah dan sesat, ayat ini sampai kepada kesimpulan bahwa yang memiliki sifat-sifat yang demikian mulia itulah Allah Yang Maha Esa, Tuhan pemelihara kamu; tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia; pencipta segala sesuatu, karena itu maka sembahlah Dia; Dialah pemelihara segala sesuatu.
Allah menerangkan kepada orang-orang musyrik, bahwa Allah memiliki sifat-sifat seperti disebutkan dalam ayat yang lalu. Itulah sebenarnya Tuhan yang wajib mereka sembah. Yang menciptakan segala sesuatu, tidak ada tuhan yang lain kecuali Dia, bukan tuhan-tuhan yang mereka ciptakan seperti berhala-berhala, atau malaikat-malaikat yang dianggap sebagai anak Tuhan; karena semuanya itu adalah makhluk ciptaan Allah yang tidak pantas diperserikatkan kepada-Nya. Di akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa Dialah pemelihara segala sesuatu yaitu menguasai segala urusan, mengurusi jagat raya dan isinya dengan ilmu, hikmat dan kekuasaan-Nya.
اَللّٰهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۙوَّهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ وَّكِيْلٌ
“Allah pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu.”
Allah Sebagai Pencipta Segala Sesuatu
Pada ayat-ayat ini, Allah menegaskan bahwa Dialah Pencipta segala sesuatu yang ada, baik di langit maupun di bumi. Dialah Pencipta alam seluruhnya, tak ada sesuatu pun yang dapat menciptakan selain Dia. Ini adalah suatu hakikat kebenaran yang tidak seorang pun dapat mengingkarinya. Tidak ada seorang pun dapat menyatakan bahwa dirinya pencipta alam, karena tak akan diterima akal bahwa seseorang mempunyai kekuatan dan kekuasaan untuk menciptakan jagad raya ini, dan tidak dapat pula diterima akal bahwa alam ini terjadi dengan sendirinya tanpa ada penciptanya. Oleh sebab itu, pastilah alam ini diciptakan oleh Zat Yang Mahakuasa dan Maha Mengetahui segala sesuatu, itulah Dia Allah.
Allah-lah yang mengurus segala yang ada, ilmu-Nya sangat luas, mencakup semua makhluk-Nya. Dialah yang mengendalikan alam sejak dari yang sekecil-kecilnya sampai kepada yang sebesar-besarnya. Dia mengendalikan semua itu sesuai dengan ilmu, hikmah dan kebijaksanaan-Nya. Tak ada suatu makhluk pun yang ikut campur tangan dalam penciptaan dan pengendalian itu. Inilah yang dapat diterima oleh akal yang sehat dan dapat diterima oleh hati nurani manusia.
Kesimpulan
Meskipun demikian, masih banyak orang yang mengingkari hakikat ini dan mengatakan bahwa dialah yang berkuasa, dan dialah Tuhan, seperti yang dinyatakan oleh Fir’aun atau mengemukakan berbagai macam teori mengenai alam ini untuk menetapkan bahwa alam jagad raya ini terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakannya.
Orang yang seperti ini adalah orang-orang kafir yang selalu mengingkari bukti-bukti kekuasaan Allah baik di langit maupun di bumi dan tidak mau mempergunakan akal pikirannya yang sehat yang telah dianugerahkan Allah kepadanya. Mereka inilah yang dikatakan Allah sebagai orang-orang yang paling merugi baik di dunia apalagi di akhirat nanti.
Penyunting: Bukhari





























Leave a Reply