Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Konsep Karbohidrat dalam Al-Qur’an

Karbohidrat
Karbohidrat

Makanan merupakan kebutuhan dasar manusia yang memiliki peranan penting dalam menjaga keberlangsungan hidup. Makanan bukan hanya sumber energi bagi tubuh, tetapi aspek mendasar kesejahteraan manusia. Tubuh manusia, seperti mesin yang membutuhkan bahan bakar yang bagus, membutuhkan makanan bernutrisi sebagai bahan bakarnya. Makanan yang bernutrisi akan berdampak pada terbentuknya tubuh yang sehat.[1]

Salah satu nutrisi utama yang tubuh manusia butuhkan adalah karbohidrat. Karbohidrat memberikan kontribusi terbesar pada total energi harian seseorang. Manusia memerlukan energi untuk melangsungkan kehidupannya.[2]

Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam juga memberikan perhatian terhadap makanan. Banyak ayat al-Qur’an yang menyebutkan berbagai jenis tumbuhan dan bahan pangan yang menjadi sumber nutrisi bagi manusia. Contohnya pada Q.S. Yasin ayat 33 dan Q.S. Al-Nahl ayat 11.

Perkembangan ilmu pengetahuan modern membuktikan bahwa makanan yang tersebut dalam Al-Qur’an memiliki kandungan nutrisi penting bagi tubuh manusia, terutama karbohidrat sebagai sumber tenaga. Sebagai seorang muslim, seyogyanya kita tidak hanya mengetahui karbohidrat dari keilmuan sains saja, tetapi juga mengetahui bagaimana Al-Qur’an menjelaskannya sebagai landasan teologis.

Definisi Karbohidrat dalam Ilmu Kimia

Karbohidrat adalah zat pati atau zat tepung atau zat gula. Ia tersusun atas unsur Karbon (C), Hidrogen (H), dan Oksigen (O). Bentuk karbohidrat paling sederhana tersusun dari satu molekul gula. Namun, tidak sedikit yang tersusun dari rangkaian molekul gula yang menjadi rantai panjang (susunan gula polimer).[3]

Karbohidrat, dalam ilmu kimia, adalah polihidroksi aldehida dan polihidroksi keton, atau zat-zat lain yang merupakan turunan dari kedua senyawa tersebut. Karbon menjadi aldehida (CHO) jika oksigen karbonil berikatan dengan suatu atom karbon terminal. Di lain sisi, karbohidrat menjadi keton (C=O) apabila oksigen karbonil berikatan dengan suatu karbon internal.

Pada umumnya karbohidrat adalah zat berwarna putih yang sukar larut dalam larutan organik, tetapi larut oleh air. Sebagian karbohidrat dengan berat molekul rendah memiliki rasa manis, sehingga disebut juga dengan istilah gula.[4] Karbohidrat memiliki nama lain sakarida, yang berasal dari bahasa arab “sakkar” yang bermakna gula. Hal ini menunjukkan adanya korelasi antara penamaan, makna, dan cita rasa dari karbohidrat.[5]

Baca Juga  Molekul dalam Ilmu Kimia dan Isyaratnya dalam Al-Qur'an

Berdasarkan besar molekulnya, karbohidrat terbagi menjadi monosakarida, disakarida, dan polisakarida. Monosakarida merupakan karbohidrat paling sederhana yang tidak dapat dihidrolisis lagi, larut dalam air, dan umumnya memiliki rasa manis, seperti yang terdapat pada buah-buahan, madu, dan tebu.[6] Sementara itu, disakarida tersusun atas dua molekul monosakarida, seperti sukrosa, laktosa, serta maltosa, yang umumnya memiliki rasa manis, larut dalam air, dan menjadi sumber energi bagi tubuh.[7] Dan terakhir, polisakarida merupakan karbohidrat kompleks yang tersusun atas sepuluh atau lebih unit monosakarida dan umumnya tidak berasa manis, seperti amilum, dekstrin, glikogen, dan selulosa.[8]

Penyebutan Bahan Makanan yang Mengandung Karbohidrat dalam Al-Qur’an

Karbohidrat memang tidak disebutkan secara langsung dalam Al-Qur’an, tetapi Al-Qur’an banyak menyebutkan bahan pangan yang mengandung karbohidrat. Seperti yang terdapat pada Q. S. Yasin: 33, lafal tersebut berbunyi

وَءَايَةٞ لَّهُمُ ٱلۡأَرۡضُ ٱلۡمَيۡتَةُ أَحۡيَيۡنَٰهَا وَأَخۡرَجۡنَا مِنۡهَا حَبّٗا فَمِنۡهُ يَأۡكُلُونَ

Artinya: Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan.

Dalam Tafsir al-Misbah dijelaskan bahwa ayat ini menguraikan bukti kuasa Allah yang membangkitkan dan menghidupkan apa yang telah mati. Pada ayat ini, Allah menjelaskan, terhadap bumi yang kering kerontang, Ia-lah yang menghidupannya. Caranya pun beragam, baik dengan menurunkan air maupun menumbuhkan tumbuhan yang subur supaya dapat dimakan oleh manusia.[9]

Penggunaan bentuk jamak’ pada kata “ahyaynahaa” dan “akhrajnaa” mengisyaratkan adanya keterlibatan selain Allah dalam menghidupkan tumbuhan. Hal ini diperkuat dengan penggunaan kata “’amiltahu” (ayat 35) yang bermakna mengerjakan. Berbeda dengan “fa’ala”, lafal “’amila” digunakan untuk pekerjaan yang dibarengi dengan niat pelakunya, biasanya adalah manusia.[10]

Baca Juga  Analisis Semantik Al-Qur’an: Perbedaan Makna Qasam dan Hilf

Selain biji-bijian, Al-Qur’an juga menyebutkan bahan pangan yang mengandung karbohidrat, yaitu buah zaitun dan buah yang lain. Hal ini terdapat pada Q.S. al-Nahl: 11:

يُنۢبِتُ لَكُم بِهِ ٱلزَّرۡعَ وَٱلزَّيۡتُونَ وَٱلنَّخِيلَ وَٱلۡأَعۡنَٰبَ وَمِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya: Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Quraish Shihab menyebutkan dalam tafsirnya bahwa pada ayat ini disebutkan beberapa tumbuhan yang paling bermanfaat dan paling populer di masyarakat Arab. Pada ayat ini, Allah berfirman bahwa Ia menumbuhkan dari air hujan tanaman yang paling cepat layu hingga yang panjang usianya dan banyak manfaatnya. Ia menumbuhkan zaitun–pohon yang paling panjang usianya–juga kurma yang dapat dimakan mentah atau matang, mudah dipetik, sangat bergizi dan mengandung kalori tinggi.[11]

Konsep Karbohidrat dalam Al-Qur’an

Berdasarkan penafsiran ayat-ayat yang telah dibahas sebelumnya, dapat dipahami bahwa Al-Qur’an tidak menyebutkan istilah karbohidrat secara langsung. Namun demikian, Al-Qur’an banyak menyebutkan berbagai bahan pangan yang dalam kajian ilmu pengetahuan modern mengandung karbohidrat, seperti biji-bijian, gandum, kurma, anggur, serta berbagai buah-buahan lainnya.

Q.S. Yasin ayat 33 menyebutkan bahwa Allah menghidupkan bumi yang mati lalu menumbuhkan biji-bijian sebagai makanan manusia. Menurut Tafsir al-Misbah, ayat ini menunjukkan kekuasaan Allah dalam menghadirkan sumber kehidupan melalui tumbuh-tumbuhan yang menjadi bahan pangan manusia. Sementara itu, Q.S. Al-Nahl ayat 11 menyebutkan berbagai tanaman dan buah-buahan, seperti kurma, anggur, dan zaitun, yang tumbuh karena air hujan sebagai nikmat dan tanda kekuasaan Allah.

Dengan mengaitkan ayat-ayat tersebut dengan ilmu kimia, maka bahan pangan yang tersebut dalam Al-Qur’an merupakan sumber karbohidrat yang penting bagi tubuh manusia. Biji-bijian, seperti gandum dan padi, adalah sumber pati alami yang mengandung polisakarida.[12] Sementara itu, kurma, anggur, dan buah-buahan mengandung monosakarida dan disakarida yang merupakan gula sederhana.[13] Senyawa-senyawa tersebut merupakan karbohidrat yang berfungsi sebagai sumber energi utama bagi manusia.

Baca Juga  Air Sebagai Elemen Dasar Kehidupan: Integrasi Kajian Al-Qur’an dan Kimia

Dengan demikian, konsep karbohidrat dalam Al-Qur’an dapat dipahami sebagai konsep penyediaan sumber energi bagi kehidupan manusia melalui berbagai tumbuhan dan bahan pangan yang diciptakan Allah. Al-Qur’an tidak menjelaskan struktur kimia karbohidrat seperti dalam ilmu kimia, tetapi memberikan gambaran asal-usul, keberadaan, dan sumber karbohidrat melalui penyebutan biji-bijian dan buah-buahan.


Catatan Kaki

[1] Juwinner Dedy Kasingku, “Peran Makanan Sehat dalam Meningkatkan Kesehatan Fisik dan Kerohanian Pelajar”, Jurnal Pendidikan Mandala, Vol. 8, No. 3 (September, 2023), 854.

[2] Sri Rejeki, dkk, “Analisis Asupan Energi, Karbohidrat, dan Serat dari Pangan Pokok di Wilayah Non Pertanian di Kota Baubau 2022”, Jurnal Gizi Ilmiah, Vol. 11, No. 1 (Januari-April, 2024), 36.

[3] Atikah Rahayu, dkk, Buku Ajar Dasar-dasar Gizi, (Yogyakarta: CV Mine, 2020), 27-28.

[4] Riong Seulina Panjaitan, dkk, “Edukasi Terkait Berbagai Jenis dan Manfaat Dari Karbohidrat Untuk Gizi yang Seimbang Pada Anak”, Pharmacy Action Journal, Vol. 3, No. 2 (2024), 13.

[5] Mulono Apriyanto, Buku Ajar: Kimia Pangan, (Yogyakarta: Nuta Media, 2021), 1.

[6] Iseu Siti Aisyah, dkk, Gizi Kesehatan, (Sumatra Barat: PT Global Eksekutif Teknologi, 2022), 18.

[7] Aliwasa, dkk, “Uji Kandungan Karbohidrat Pada Mie Sagu Basah”, Jurnal Agroindustri Pangan, Vol. 3, No. 3 (November, 2024), 139-140.

[8] Iseu Siti Aisyah, dkk, Gizi Kesehatan…,9.

[9] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Jilid-11, (Tangerang: Lentera Hati, 2021), 147.

[10] Ibid. 148.

[11] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Jilid-7, (Tangerang: Lentera Hati, 2021), 543.

[12] Eva Papilaya, dkk, “Pengaruh Konsentrasi Kitosan Pada Sintesis dan Karakterisasi Bioplastik Berbasis Pati Sagu (Metroxylon Sp.) Asal Kabupaten Jayapura”, Jurnal Fisika dan Pembelajarannya, Vol. 6, No. 2 (April, 2024), 131.

[13] Hoerudin, “Indeks Glikemik buah dan Implikasinya dalam Pengendalian Kadar Glukosa Darah”, Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian, Vol 8, No. 2 (2012), 86.

Editor: Tim Redaksi Tajdeed ID