Air merupakan unsur paling mendasar dalam kehidupan dan menjadi komponen utama yang menopang keberlangsungan makhluk hidup di bumi. Dalam perspektif ilmu kimia, air dipahami sebagai senyawa yang tersusun atas dua atom hidrogen dan satu atom oksigen (H₂O) dengan karakteristik molekuler yang unik. Struktur polar yang dimiliki molekul air menjadikannya mampu melarutkan berbagai zat, menjaga kestabilan suhu, serta mendukung berlangsungnya reaksi biologis di dalam tubuh makhluk hidup.[1]
Al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia memberikan perhatian besar terhadap air. Air dipandang sebagai tanda kekuasaan Allah, karunia dan nikmat-Nya bagi kehidupan manusia, serta sumber adanya kehidupan. Hal yang demikian terlihat pada QS. al-Anbiya’ ayat 30 yang secara eksplisit menyatakan bahwa segala sesuatu yang hidup diciptakan dari air.[2] Dalam konteks ini, integrasi antara ilmu kimia dan Al-Qur’an menjadi penting untuk membangun pemahaman, bahwa wahyu dan sains bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan saling menjelaskan dan melengkapi.
Kajian Air Dalam Perspektif Ilmu Kimia
Air merupakan benda cair yang terdiri dari dua atom hidrogen dan satu atom oksigen. Air menjadi sumber kehidupan bagi setiap makhluk yang tinggal di muka bumi, di mana ia menutupi permukaan bumi sebanyak tiga perempat (71%) dari permukaan bumi.[3] Selain itu, air dipahami sebagai unsur paling esensial yang memungkinkan kehidupan berlangsung secara dinamis. Keberadaannya bukan hanya menopang struktur biologis, tetapi juga menentukan berlangsungnya berbagai proses energetik di dalam sistem kehidupan. Seluruh aktivitas biologis, baik pada tingkat sel maupun pada organisme secara utuh, terjadi dalam lingkungan yang sangat bergantung pada karakteristik air.[4]
Air berperan dalam menopang berbagai proses alam yang memungkinkan kehidupan terus berlangsung dan berkembang. Air berfungsi untuk mendukung kehidupan tumbuhan dengan menyediakan kebutuhan kelembaban yang diperlukan dalam proses fotosintesis dan pertumbuhan. Di samping itu, air menjadi habitat bagi berbagai organisme perairan, baik di laut maupun sungai, yang berkontribusi terhadap keberlangsungan keanekaragaman hayati dunia.[5]
Adapun manfaat air bagi manusia dapat terlihat dari seberapa bergantungnya kehidupan manusia dengan air dan berbagai unsur kimia yang dikandungnya. Air minum yang dikonsumsi manusia mengandung 75,3% bahan kimia anorganik (seperti magnesium, kalsium, nitrat, fosfat) dan 24,7% bahan kimia organik (seperti aluminium, barium, klorin, mangan, tembaga, fluor, timbal, kromium, kadmium).[6] Volume air dalam tubuh manusia rata-rata 65% dari total berat badannya. Volume tersebut sangat bervariasi pada masing-masing orang, bahkan juga bervariasi antara bagian-bagian tubuh seseorang. Beberapa organ tubuh manusia yang mengandung banyak air, antara lain, otak 74,5%, tulang 22%, ginjal 82,7%, otot 75,65, dan darah 83%.[7]
Penafsiran QS Al-Anbiya’ Ayat 30
أَوَ لَمۡ يَرَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَنَّ أَنَّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ كَانَتَا رَتۡقٗا فَفَتَقۡنَٰهُمَاۖ وَجَعَلۡنَا مِنَ ٱلۡمَآءِ كُلَّ شَيۡءٍ حَيٍّۚ أَفَلَا يُؤۡمِنُونَ
Artinya: Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi, keduanya, dahulu menyatu, kemudian Kami memisahkan keduanya dan Kami menjadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air? Maka, tidakkah mereka beriman. (Q.S Al-Anbiya’:30)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa air, sebagai sumber kehidupan, tidak hanya ditujukan kepada manusia saja, melainkan kepada seluruh makhluk hidup, termasuk hewan dan tumbuhan.[8] Allah menjadikan air sebagai sebab kehidupan setiap makhluk. Tanpa air, makhluk hidup tidak akan dapat bertahan hidup. Ayat tersebut juga menyiratkan makna bahwa Allah menciptakan setiap hewan dari air. Asal mula kehidupan hewan adalah dari air, yaitu air mani (nutfah) yang menjadi awal penciptaannya. Demikian pula tumbuh-tumbuhan yang tidak akan tumbuh kecuali dengan adanya air. Penafsiran ini juga sejalan dengan pendapat sebagian ilmuwan yang beranggapan bahwa kehidupan hewan pada awalnya bermula di lautan. Setelah itu, sebagian hewan berpindah ke daratan dan, seiring berjalannya waktu, menyesuaikan diri dengan lingkungan darat.[9]
***
Dalam tafsir kemenag dijelaskan bahwa terdapat tiga pendapat mengenai kehidupan yang dimulai dari air.
Pertama, kehidupan dimulai dari air (laut). Teori ini percaya bahwa kehidupan muncul dari rantai reaksi kimia yang panjang dan kompleks. Rantai kimia ini dipercaya dimulai dari dalam air laut, karena kondisi atmosfer saat itu belum berkembang menjadi kawasan yang dapat dihuni makhluk hidup karena radiasi ultraviolet yang terlalu kuat. Diperkirakan, kehidupan bergerak menuju daratan pada 425 juta tahun yang lalu saat lapisan ozon mulai ada untuk melindungi permukaan bumi dari radiasi ultraviolet.[10]
Pendapat kedua menyebutkan bahwa peran air dalam kehidupan dapat dilihat dari proses penciptaan makhluk hidup. Khususnya pada hewan, kehidupan bermula dari sperma yang berbentuk cairan, sehingga air menjadi salah satu unsur yang berkaitan erat dengan keberlangsungan kehidupan.[11]
Dan terakhir, pendapat berikutnya menyebutkan bahwa air memiliki peran yang besar terhadap keberlangsungan makhluk hidup. Sebagian besar bagian tubuh makhluk hidup terdiri dari air. Contohnya adalah manusia yang 70% bagian berat tubuhnya terdiri dari air. Manusia tidak dapat bertahan lama apabila 20% saja dari persediaan air di dalam tubuhnya hilang. Air juga menjadi bahan pokok dalam pembentukan darah, cairan limpa, air kencing, air mata, cairan susu, dan semua organ lain yang ada di dalam tubuh manusia.[12]
Integrasi Penafsiran Q.S Al-Anbiya’ Ayat 30 dengan Ilmu Kimia
Kajian tafsir terhadap Q.S. Al-Anbiya’ ayat 30 menunjukkan bahwa air berfungsi sebagai sumber kehidupan dan tanda kekuasaan Allah. Allah menjadikan air sebagai asal mula segala sesuatu yang hidup. Pemahaman tersebut dapat dijelaskan lebih lanjut melalui perspektif ilmu kimia yang menguraikan karakteristik air dan sifat-sifat molekulnya (H₂O) menjaga kehidupan. Struktur molekul air (H₂O) yang bersifat polar memungkinkan air melarutkan berbagai senyawa yang diperlukan dalam proses metabolisme makhluk hidup. Sifat tersebut menjadikan air berperan sebagai media transportasi berbagai zat, seperti nutrisi, oksigen, hormon, dan sisa metabolisme, serta membantu menjaga kestabilan suhu dan mendukung berlangsungnya berbagai reaksi biokimia. Selain itu, tingginya kandungan air dalam tubuh makhluk hidup serta keterlibatannya dalam metabolisme sel, fotosintesis, dan berbagai proses fisiologis menunjukkan bahwa air memiliki peran yang sangat penting dalam keberlangsungan kehidupan.
Berdasarkan uraian tersebut, terdapat titik temu antara kajian tafsir dan ilmu kimia dalam menjelaskan kedudukan air bagi kehidupan. Kajian tafsir memberikan pemahaman mengenai makna air dalam Q.S. Al-Anbiya’ ayat 30 sebagai unsur yang berkaitan dengan keberadaan makhluk hidup dan sebagai salah satu tanda kekuasaan Allah. Di lain sisi, ilmu kimia memberikan penjelasan mengenai karakteristik dan mekanisme ilmiah yang memungkinkan air menjalankan berbagai fungsi tersebut. Dengan demikian, integrasi antara kajian tafsir dan ilmu kimia dapat memperkaya pemahaman terhadap Q.S. Al-Anbiya’ ayat 30, khususnya mengenai pentingnya air sebagai sumber kehidupan dan penunjang keberlangsungan kehidupan.
Catatan Kaki
[1] Fahdah Afifah, “`Air Menurut Konsep Al-Qur’an dan Sains Medika”, Prosiding Konferensi Integrasi Interkoneksi Islam dan Sains, Vol.04, (2022), 167.
[2] Muhammad Alvin, “Manfaat Ekologis Air Dalam Perspektif Al-Qur’an Dan Sains Pada Sebuah Studi Tafsir Ekologi”, Al-Kareem: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Vol.02, No.02, (September, 2024), 53.
[3] Fahdah Afifah, “`Air Menurut Konsep Al-Qur’an dan Sains Medika”, 167.
[4] Rifqi Syahputra, “Air Sebagai Energi Kehidupan Dalam Surah Al-Anbiya’ Ayat 30: Integrasi Tafsir dan Ilmu Hayati”, Jurnal Ruhul Islam, Vol.04, No.01, (Maret, 2026), 178.
[5] Muhammad Alvin, “Manfaat Ekologis Air Dalam Perspektif Al-Qur’an Dan Sains Pada Sebuah Studi Tafsir Ekologi”, 60.
[6] Dewi Mariyam, dkk, “Rahasia Molekul Unsur Yang Terdapat Dalam Air Putih Bagi Tubuh Manusia Dalam Pandangan Islam”, Jurnal Religion: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya, Vol.01, No.03, (2023), 99.
[7] Abdillah, “Urgensi Air dalam Perspektif Mufassir dan Saintis”, Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Vol.09, N0.01, (Juni, 2024), 199.
[8] Muhammad Mutawalli Al-Sha’rawi, Tafsir Al-Sha’rawi Jilid 13, (Kairo: Media Protech, 2020), 268.
[9] Wahbah al-Zuhayli, Al-Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa al-Shari’ah wa al-Manhaj Jilid 9 (Damaskus: Dar al-Fikr, 2014), 48.
[10] QuranWeb, QS. Al-Anbiya’: 30, QuranWeb: Al-Qur’an Online Terjemahan dan Tafsir Bahasa Indonesia, dalam https://quranweb.id/21/30/, diakses 9 Agustus 2026.
[11] Ibid.
[12] Ibid.
Editor: Tim Redaksi Tajdeed ID
























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.