Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tafsir Al-Quran: Bentuk-Bentuk Ketaatan dalam Islam

Ketaatan
Gambar: https://images.app.goo.gl

Ketaatan Kepada Allah

Orang-orang muslim tentunya tahu akan kewajiban mereka yaitu taat atau tunduk kepada Allah SWT, dengan mengikuti perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Akan tetapi tidak semua perbuatan yang berkualitas baik itu juga dapat bernilai baik. Seperti terkait dengan hal ibadah, yang mana ibadah sendiri memiliki pengertian yang merupakan suatu perbuatan untuk merealisasikan ketundukannya kepada Allah SWT, yang didasari ketaatan dengan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Kita ambil contoh yaitu dalam hal ibadah shalat. Shalat itu baik jika dilakukan, tapi jika pada ketentuan shalat sunnah rawatib, shalat ba’diyah subuh tidak boleh dilakukan karena tidak dianjurkan atau tidak disyariatkan dalam agama Islam. Maka, meskipun shalat itu bernilai baik tetap tidak diperbolehkan jika melakukan shalat tersebut. Adapun contoh lain seperti ibadah puasa. Puasa tidak boleh dilakukan setiap hari jika bukan pada bulan Ramadhan meskipun ibadah puasa itu bernilai baik karena yang ada hanya puasa sunnah daud, puasa sunnah Senin-Kamis, puasa Arafah, dll.

Taat Allah Sebagai Taat Kepada Rasul

Perintah untuk taat kepada Allah telah tertulis dalam Q.S An-Nisa’ ayat 59 :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Jika kita taat kepada Allah maka otomatis kita juga taat kepada Rasul-Nya. Salah satu hikmah taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya adalah kelak akan masuk surga bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah SWT. Hikmah ini dijelaskan dalam Q.S. An-Nisa ayat 69:

وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَ ۚ وَحَسُنَ اُولٰۤىِٕكَ رَفِيْقًا

Artinya: “Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para Nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”

Ketaatan Kepada Orang Tua

Taat merupakan kewajiban seorang hamba. Sedangkan taat kepada orang tua merupakan kewajiban seorang anak terhadap keduanya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia arti taat adalah menghargai (takzim, khidmat, sopan) dan arti taat adalah senantiasa tunduk (kepada Tuhan, pemerintah, dsb). Jadi, taat kepada orang tua diartikan mematuhi semua yang diperintahkan oleh keduanya.

Baca Juga  Menelusuri Berbagai Makna Bersyukur dalam Al-Quran

Dalam Islam, berbakti atau taat kepada kedua orang tua merupakan perilaku ataupun amalan yang memiliki nilai yang sangat mulia dan tinggi disisi Allah SWT. Di dalam Al-Qur’an berbakti atau taat kepada kedua orang tua sering sekali di sandingkan dengan pemenuhan hak-hak Allah SWT. Seperti perintah tentang bersyukur dan larangan menyekutukan Allah SWT. Dia menganjurkan kepada hamba-Nya untuk selalu berbakti kepada kedua orang tua. Berbakti atau taat kepada kedua orang tua merupakan salah satu sifat yang menonjol dari para Nabi dan Rasul Allah SWT. Di dalam Al-Qur’an Allah SWT memuji para Nabi dan Rasul karena bakti mereka kepada orang tuanya.

Dalam hal ketaatan ini terdapat batasan-batasan bagi kita tentang bagaimana bentuk menaati orang tua yang benar yaitu tidak semua yang diperintah oleh orang tua harus ditaati atau dilakukan, harus bisa membedakan mana perintah yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Jika perintahnya tidak boleh dilakukan bahkan haram untuk dilakukan, seperti dalam hal perbuatan menyekutukan Allah, dsb.

Maka janganlah sekali-kali kamu melakukan hal tersebut meskipun ada perintah untuk taat kepada orang tua. Yakni menolaknya dengan cara yang baik serta lembut, jangan sampai membentak ataupun berbuat jahat kepadanya. Kalaupun tidak bisa melakukan atau mengendalikan itu, maka cukup dengan diam serta tidak bertindak melakukan perintahnya.

Beda Perintah Tuhan dan Orang Tua

Bukan berarti jika kamu menolak perintah itu, kamu termasuk anak yang durhaka kepada mereka. Melainkan karena seperti yang telah dijelaskan tadi, ketaatan kepada orang tua itu ada batasannya dan dapat membedakan antara perintah yang boleh untuk dilakukan serta yang tidak boleh dilakukan. Adapun perintah orang tua yang baik atau yang boleh dilakukan yaitu seperti membantu meringankan pekerjaan rumah, membantu orang tua untuk mencari nafkah, dll. Tapi jika orang tua masih mampu mencari nafkah, maka seorang anak tidak wajib ikut mencari nafkah juga. Melainkan lebih baik anak tersebut melakukan kewajibannya seperti menuntut ilmu, dll.

Baca Juga  Bertakwa dan Jadilah Manusia Mulia

Jadi, seandainya kita sebagai anak tidak bisa memberikan sesuatu (materi) yang bisa membahagiakan orang tua. Paling tidak berikanlah perhatian, dengan kita memberi perhatian pada orang tua, maka secara psikologis orang tua akan senang sekali. Sebab orang tua pada dasarnya seperti anak-anak, yang juga masih perlu dan butuh perhatian dari anak anaknya. Tetapi seandainya dengan perhatian saja kita tidak bisa, maka berusahalah dengan senang hati mendengarkan keluh kesah kedua orang tua.

Berkaca Pada Surah Lukman

Dalam surat Luqman yang berkaitan dengan peran orang tua terhadap anaknya yaitu mengajarkan bagaimana sikap anak kepada orang tuanya. Dalam surat ini terdapat seruan untuk mengajarkan kepada seorang anak agar menghormati serta mentaati perintah orang tuanya. Karena jasa-jasa orang tua kepada anak tak terhitungkan. Bahkan seumur hidup pun, seorang anak tidak akan mampu membalasnya. Ayat yang menjelaskan tentang perintah menaati Allah dan berbakti kepada orang tua tertera dalam Q.S. Luqman ayat 15:

وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖوَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

Artinya: “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Dan Q.S. Al-Isra ayat 23 :

وَمَنْ كَفَرَ فَلَا يَحْزُنْكَ كُفْرُهٗۗ اِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ فَنُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌۢ بِذَاتِ الصُّدُوْرِ

Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaknya berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang dari keduanya atau dua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”

Penyunting: Bukhari

Baca Juga  Tafsir Surat Az-Zumar ayat 53: Inilah Ayat yang Penuh Harapan