Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Relasi Perintah Beribadah Dan Taqwa Di Dalam Al-Quran

Sumber: istockphoto.com

Beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT. merupakan salah satu dari dua tujuan penciptaan manusia di muka bumi. Secara garis besar, manusia memiliki dua tujuan penciptaan. Pertama, manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi sebagaimana tertuang dalam QS. Al-Baqarah ayat 30. Dan tujuan yang kedua adalah untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56 bahwa Allah SWT. Tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Nya.

Tulisan ini secara khusus membahas tentang sentral peribadatan manusia kepada Allah SWT. Yang termuat di dalam Al-Quran. Dimana, kita akan menemukan setiap ibadah yang diperintahkan di dalam Al-Quran selalu memiliki esensi yang sama, yaitu untuk meningkatkatkan ketaqwaan kepada-Nya. Hal ini sejalan dengan pernyataan imam As-Syaukani bahwa taqwa adalah puncak dari segala ibadah dan kebaikan yang dilakukan oleh seorang hamba.

 Definisi ibadah dan taqwa

Ibadah secara bahasa berarti penghambaan dan pengabadian. Sedangkan menurut istilah, ibadah adalah semua yang mencakup segala sesuatu yang disukai dan diridhai oleh Allah SWT. Baik berupa perkataan maupun perbuatan, baik terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi. Dalam rangka mengagungkan dan memuliakan Allah sebagai tuhan pencipta segala sesuatu.

Menurut imam Al-Ghazali dalam kitabnya Raka’iz al-iman baina al-‘aql wa al-qalb beliau mengutip perkataan Ja’far shadiq RA. Bahwa ibadah sesungguhnya dapat terwujud ketika seseorang memenuhi tiga hal. Pertama, tidak menganggap apa yang di tangannya sebagai hak kepunyaan dan milik pribadinya. Kedua, menjadikan segala aktifitasnya selalu berkisar kepada apa yang diperintahkan dan menjauhi segala larangannya karena takut kepada Allah SWT. Ketiga, selalu melakukan amal perbuatan dengan niat untuk mendekatkan dirinya kepada Allah SWT.

Baca Juga  Hikmah di balik Syariat Puasa pada Bulan Ramadan

Sedangkah Wahbah Az-Zuhayli dalam tafsir Al-Munir, menjelaskan bahwa ibadah bermakna tunduk dan merendahkan diri kepada Allah SWT. Dalam rangka mengesakan-Nya, melaksanakan hukum-hukum agama-Nya dan menjauhi segala bentuk larangan-Nya. Hal ini dikarenakan hasil dari sebuah ibadah adalah ketaqwaan yang dapat mengantarkan seseorang mencapai keberuntungan dan kesuksesan di dunia maupun di akhirat.

***

Taqwa menurut bahasa berarti menjaga diri. Maksudnya menjaga diri dari segala sesuatu yang dapat membahayakan diri dari siksa dan azab Allah SWT. Dengan cara mengerjakan segala yang diperintahkan-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Kata “taqwa” disebut sebanyak 258 kali dalam bentuk dan konteks yang beragam, akan tetapi kata itu selalu memiliki makna yang sama, yaitu perintah untuk mengerjakan segala yang diperintahkan dan menjauhi segala yang dilarang.

Menurut Ali bin Abi Thalib, taqwa adalah takut kepada Allah SWT. Dan beramal sesuai yang diturunkan (Al-Quran dan As-Sunnah), serta mempersiapkan amal ibadah untuk perjalanan yang panjang menuju-Nya. Sedangkan Umar bin Abdul Aziz menyatakan bahwa ketaqwaan kepada Allah SWT. Bukanlah terletak pada puasanya seseorang di siang hari dan shalatnya di tengah malam, akan tetapi ketaqwaan terletak pada meninggalkan apa-apa yang diharamkan Allah SWT. Dan mengerjakan semua kewajiban-kewajiban yang diperintahkan-Nya.

Relasi Perintah Ibadah Dan Taqwa

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa perintah beribadah di dalam Al-Quran selalu memiliki esensi atau tujuan yang sama, yaitu untuk mencapai ketaqwaan kepada Allah SWT. Wahbah Az-Zuhayli menganalogikan ibadah seperti pohon dan taqwa adalah buah dari pohon tersebut. Maka dari itu, ibadah dan taqwa adalah satu kesatuan yang saling terhubung dan tidak dapat dipisahkan. Sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah [2]:21 berikut.

Baca Juga  Puasa Ramadhan: Bukti Cinta Hamba Kepada Allah

يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اعۡبُدُوۡا رَبَّكُمُ الَّذِىۡ خَلَقَكُمۡ وَالَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَ

“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”

Menurut imam Al-Baghawi dalam tafsirnya ma’alimu at-tanzil fi at-tafsir wa al-ta’wil, beliau mengutip pendapat Ibnu Abbas RA. Bahwa perintah “sembahlah” bermakna “esakanlah.” Karena semua turunan dari kata sembah dan ibadah dalam Al-Quran selalu bermakna pengesaan dan ketauhidan kepada Allah SWT. Ayat ini diakhiri dengan perintah “agar kalian bertaqwayaitu agar kalian selamat dari siksa dan azab-Nya.

***

Relasi antara ibadah salat dan taqwa. QS. Al-Ankabut [29]:45 berikut.

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِوَالْمُنْكَرِۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

“Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Dalam ayat ini Allah SWT. Menjelaskan hubungan erat antara ibadah salat seseoarang dengan ciri-ciri ketaqwaan. Yaitu, mencegah perbuatan  keji dan munkar. Ibnu katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa salat itu mengandung dua hikmah, yaitu dapat mencegah diri dari perbuatan keji dan mungkar. Beliau juga mengutip hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, bahwa barang siapa yang salatnya masih belum dapat mencegah dirinya dari perbuatan keji dan munkar, maka tidak lain ia makin jauh dari Allah SWT. Oleh karena itu, kaitan antara perintah salat dan bertaqwa kepada-Nya sangat erat tidak dapat dipisahkan.

***

Relasi antara ibadah puasa dan taqwa. QS.Al-Baqarah [2]:183 berikut.

Baca Juga  Mengambil Hikmah dari Ramadhan Tahun Lalu dan Sekarang

يٰٓـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا كُتِبَ عَلَيۡکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَۙ‏

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Ayat ini mengandung seruan dan perintah untuk melaksanakan puasa yang bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan kepada-Nya. Wahbah Az-Zuhayli dalam tafsir Al-Munir menjelaskan bahwa puasa adalah penyuci jiwa agar bertaqwa kepada Allah SWT. Karena esensi dan tujuan dari puasa yaitu, agar seseorang dapat bertaqwa kepada-Nya baik dalam keadaan sepi maupun ramai. Puasa juga dapat memupuk jiwa agar semakin takut kepada-Nya, serta dapat meredam syahwat duniawi yang terkadang mengikat manusia.

Kesimpulan

Perintah beribadah dan taqwa di dalam Al-Quran selalu berjalan beriringan. Oleh karena itu, keduanya tidak dapat dipisahkan. Jika ibadah seseorang tidak membuatnya merasa takut dan tidak menambah perasaan cinta kepada Allah SWT. Maka ibadah yang dijalaninya perlu dipertanyakan kualitasnya, kemungkinan ada yang kurang pas dari ibadah tersebut. Ibadah tanpa perasaan taqwa adalah sebuah kesia-siaan dan taqwa tanpa proses ibadah adalah sebuah kemustahilan Oleh karena itu, mari bersama- sama mengintrospeksi kualitas dan kadar ibadah kita kepada-Nya, agar ibadah dapat mengantarkan kita kepada taqwa dan keberhasilan dalam perihal agama, dunia dan akhitat.

Editor: An-Najmi