Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Bertakwa dan Jadilah Manusia Mulia

Manusia mulia
Gambar: muslim.okezone.com

Menjadi manusia yang mulia tentunya menjadi keinginan semua orang. Bagaimana tidak? Seorang yang mulia, maka derajatnya akan tinggi di sisi Allah. Menjadi mulia berarti siap untuk menjadikan diri ini sebagai hamba yang taat. Seorang manusia yang taat tentunya akan memiliki iman yang tebal dan kuat. Iman yang kuat menjadikan seseorang bertakwa. Dengan ketakwaan itulah seseorang akan menjadi orang yang mulia.

Manusia Mulia dalam Al-Qur’an

اَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi maha mengenal.” (Q.S Al-Hujurat:13)

Kemuliaan manusia dijelaskan dalam Q.S Al-Hujurat 13. Dalam ayat tersebut terdapat kalimat yang berbunyi inna akramakum indallahi atqakum yang artinya manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang bertakwa.

Ketakwaan menjadikan manusia mulia. Lantas bagaimana orang tersebut bertakwa? Apakah dia harus sholat setiap saat dan selalu berdzikir sampai lupa kalau ada orang mengajak bicara? Tentunya tidak, dalam bertakwa sendiri kita akan menemukan jalannya sendiri. Jalan tersebut tentunya bukan hanya soal kepercayaannya tentang apakah dia sudah bertakwa atau bukan, melainkan bahwa apakah seorang tersebut sudah melakukan hal yang diperintahkan dan menjauhi larangan Allah.

Ketaatan sendiri diterangkan oleh Al-Ghazali sebagai bentuk upaya dalam membersihkan diri dari dosa. Dosa tersebut bisa dari dosa lampau yang membuat seseoang bertaubat ataupun dosa yang belum dia kerjakan sehingga orang tersebut termotivasi untuk tidak melakukan dosa tersebut.

Baca Juga  Harta Tak Lebih Baik Dari Amal Saleh: Tafsir Surah Al-Kahfi Ayat 46

Dalil tentang perintah takwa sendiri diejlaskan dalam Q.S Al-Maidah 35 yang berbunyi:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِه لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya dan berjihadlah pada jalan-Nya supaya kamu mendapatkan keberuntungan.” (Q.S Al-Maidah 35)

Bertakwa Kepada Allah

Hal yang ditekankan pada ayat tersebut adalah bahwa seseorang harus beriman kepada Allah, mencari jalan yang mendekatkan diri kepadanya, dan berjihad. Tiga hal tersebut saling berkaitan yang mana mencari jalan yang mendekatkan diri kepada Allah yakni dengan melaksanakan hidup seperti apa yang ditetapkan oleh Allah dan menjauhi larangannya. Berjihad berarti membuktikan keimannnya dan ketakwaannya.

Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Wahai Tuhanku, cukuplah kemuliaan bagiku sebagai hamba-Mu dan cukuplah kebanggaan bagiku bahwa Engkau adalah Tuhanku.” Kalimat ini adalah kalimat yang mengindikasikan bahwa seorang hamba yang mulia adalah hamba yang dipandang mulia oleh tuhannya.

Ciri-Ciri Manusia yang Mulia

Manusia memiliki tingkat keimanan yang beragam. Ada manusia yang imannya tinggi, ada pula yang imannya rendah. Namun dari kedua jenis manusai tersebut, mereka tetap memiliki kemuliaan dari amalan yang mereka perbuat.

Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, manusia senantiasa akan melakukan amalan yang sekiranya membuat dirinya nyaman. Amalan-amalan itu tentunya haruslah bersandarkan kepada syariat yang telah ditetapkan.

Dengan melaksanakan syariat yang ditetapkan, maka seorang hamba akan ditinggikan derajatnya. Derajat yang tinggi akan membantu manusia dalam melakukan amal shaleh. Dengan itu semua maka manusia akan menjadi mulia di sisi-Nya.

Adapun ciri-ciri manusia yang mulia telah dijelaskan oleh Allah dalam firmannya yakni Q.S Al-Anfal ayat 3-4. Adapun isi kandungan ayat tersebut yang berkaitan dengan ciri-ciri orang yang mulia adalah sebagai berikut:

  • Orang-orang yang takut kepada Allah SWT dalam hati mereka. Yaitu orang yang takut terhadap kebesaran dan kekuasaan Allah yang menjadikan dia orang yang makin taat.
  • Orang-orang yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Allah, maka makin bertambah yakinlah dia dalam beriman.
  • Orang-orang yang bertawakkal kepada Allah dan hanya berserah diri kepadanya. Golongan ini adalah golongan yang hanya berharap kepada Allah dan selalu memohon kepada-Nya.
  • Orang-orang yang menjalankan shalat dengan sempurna. Yaitu orang yang melakukan shalat dengan khusyu’ dan tuma’ninah.
  • Orang yang menafkahkan rezekinya yang dia dapat untuk dijadikan zakat, ataupun dibagikan kepada kerabat, orang-orang yang membutuhkan, dan juga untuk kemaslahatan umat.
Baca Juga  Pengaruh Perbedaan Qira'at dalam Q.S Al-Baqarah ayat 196 Studi Tematik Ayat Haji dan Umrah

 Orang yang beriman tentunya akan sangat bahagia apabila mengetahui dirinya termasuk golongan orang yang mulia. Dengan mengetahui hal itu, manusia akan berlomba-lomba untuk meningkatkan ketaqwaan.

Amalan yang Menjadikan Hamba Mulia

Dalam agama Islam, pandangan bahwa manusia memiliki fitrah suci yang mencintai kemuliaan tentu menjadi landasan bahwa seburuk apapun seseorang, pasti dia mencintai kemuliaan yang hakiki. Al-Qur’an menjelaskan dengan baik tentang hal-hal yang berkaitan dengan kemuliaan.

Berikut adalah beberapa amalan yang menjadikan seorang hamba mulia di sisi Allah:

  • Bertakwa kepada Allah sebenar-benar taqwa.

Hal tersebut seperti yang ada dalam firman Allah dalam surat Ali-Imran ayat 102:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ 

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam “.

  • Berbakti dan menyayangi orang tua.

 Seperti dalam firman Allah dalam surat Al-Isro’ ayat 23:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيماً

Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia “.

  • Memprbanyak rasa syukur kepada Allah.

Seperti yang dijelaskan firman Allah dalam surat Ibrahim ayat 7:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ 

Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Berlomba Melakukan Kebaikan

  • Berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan
Baca Juga  Psikologi Al-Quran: Menyelesaikan Permasalahan Keluarga ala Nabi

Seperti dalam firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 148:

 وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُواْ يَأْتِ بِكُمُ اللّهُ جَمِيعاً إِنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ 

Artinya: “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu “.

  • Menanamkan bahwa kebahagiaan di dunia itu semu, dan kebahagiaan di akhirat itu abadi.

Firman Allah dalam surat Ali-Imran ayat 185:

وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ

Artinya: “Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan “

Dan firman Allah dalam surat Ad-Dhuha ayat 4:

 وَلَلاخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الاولَى 

Artinya: “Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan “.

Maksud dari ayat tersebut adalah bahwa akhir(akhirat), itu lebih baik dari permulaan(dunia). Beberapa amalan-amalan tersebut memungkinkan seorang hamba untuk menjadi mulia di sisi-Nya. Akan tetapi perlu diingat, bahwa setiap amalan harus dilandasi dengan rasa ikhlas mengharap ridha Allh juga memiliki pedoman yaitu Al-Qur’an dan hadis yang sahih

Penyunting: Bukhari