Tidak sedikit istilah dalam Al-Quran yang berkaitan dengan kata syukur. Kata syukur dengan berbagai derivasinya dalam Al-Quran ditemukan sejumlah 75 kali. Pada umumnya, orang mengartikan kata syukur atau bersyukur dengan makna pujian, memuji, dan berterimakasih. Sedangkan pengertian syukur dalam kitab Al-Mufrodat fi Ghorib Al-Quran karya Imam Al-Ashfahaniy adalah: تَصَوُّرُ النِّعْمَةِ وإظْهارِها (menggambarkan nikmat dan menampakkannya). Adapun kebalikannya adalah kufur yang bermakna melupakan nikmat dan menutup-nutupinya. Sebagaimana ditemukan kajian semantik mengenai QS. Ibrahim ayat 7
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
Derivasi kata syukur pada ayat ini adalah berbentuk fi’il madhi yang berarti lampau. Begitu juga pada kata kufr. Kata kufr pada ayat ini bersanding dengan kata syukur sehingga arti umumnya sebagai pengingkaran bukan lagi mengenai lawan kata iman tetapi lawan kata syukur yakni tidak berterimakasih. Balasan orang yang bersyukur adalah bertambahnya kenikmatan yang diberikan oleh Allah SWT. Akan tetapi jika tidak berterimakasih maka siksaan dari-Nya pun sangat pedih.
Sedangkan kata syukur sendiri terdapat dua kali dalam Al-Quran; QS. Al-Furqon ayat 62
وَهُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ أَرَادَ أَن يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا
“Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur”.
Kemudian Al-Insan ayat 9:
إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا
“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.”
Adapun cara bersyukur ada tiga macam:
- Syukur dengan hati. Yakni memikirkan, membayangkan dan mengangan-angankan bahwasannya ia telah menerima karunia Allah
- Syukur dengan lisan. Yakni memuji kepada Allah SWT. Pujian dengan kata alhamdulillah wa syukru lillah (segala puji bagi Allah dan terimakasih kepada Allah)
- Syukur dengan seluruh anggota badan. Yakni mempergunakan nikmat atau karunia dari Allah sesuai dengan hak-hak nya. Sebagai contoh seseorang mempunyai tangan yang lengkap dan sempurna ia pergunakan untuk bekerja, juga membantu orang lain, mempunyai kecukupan harta digunakan untuk menunaikan kewajiban-kewajiban, bersedekah dan lain sebagainya.
Adapun dalam QS. Saba’ ayat 13 terdapat derivasi dari kata syukur yakni syukr dan syakur
….ۚ ٱعْمَلُوٓا۟ ءَالَ دَاوُۥدَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِىَ ٱلشَّكُورُ
“….Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.”
Dalam kitab Al-Mufrodat fi Ghorib Al-Quran karya Imam Al-Ashfahaniy, Maksudnya adalah perintah untuk berbuat, serta bekerja sebagaimana yang telah dikerjakan oleh keluarga Abu Dawud dalam rangka bersyukur kepada Allah SWT. Terdapat juga pendapat yang mengatakan bahwa diksinya adalah dengan اعْمَلُوا bukan اشكُرُوا. Hal ini menunjukan bahwasannya cara bersyukur yang diajarkan melalui ayat ini adalah seluruh dari tiga macam model bersyukur; dengan hati, lisan dan seluruh anggota badan.
Contoh lain dari derivasi kata syukur dalam Al-Quran:
Lalu QS. Luqman ayat 14. Derivasi kata syukur berbentuk fi’il amr atau kata perintah
أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ
“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”.
QS. Ali Imron ayat 145. Derivasi kata syukur berbentuk isim fa’il atau disebut juga pelaku
…. وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ
“Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.
QS. An-Naml ayat 40. Derivasi kata syukur berbentuk fi’il madhi
….وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّما يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ….
“Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri”.
QS. Saba’ ayat 13. Derivasi kata syukur berbentuk jama’ taksir (menunjukkan banyak)
….وَقَلِيلٌ مِنْ عِبادِيَ الشَّكُورُ
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.”
Terdapat pula peringatan bahwasannya bersyukur secara sempurna kepada Allah SWT. itu adalah perkara sulit. Oleh karena itu Al-Quran menyebutkan pujiannya hanya kepada dua kekasih Allah SWT. Yakni Nabi Ibrahim AS. dalam QS. An-Nahl ayat 121
شاكِراً لِأَنْعُمِهِ…
“(lagi) orang yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah..”
Dan Nabi Nuh AS. dalam QS. Al-Isro’ ayat 3
إِنَّهُ كانَ عَبْداً شَكُوراً
“Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur”.
Pada ayat ini terdapat derivasi kata syukur berbentuk jama’ taksir (menunjukkan banyak). Sedangkan Allah ketika mensifati zatnya dalam Al-Quran terdapat pada QS. At-Taghobun ayat 17
…وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ
“Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun”.
Pada ayat ini derivasi kata syukur berbentuk jama’ taksir. Di mana hal itu berarti banyak berterimakasih. Kata ini mensifati Allah SWT. jadi yang dimaksud adalah Allah memberikan karunia nikmat kepada para hamba-Nya dan Maha Memberikan Balasan terhadap ibadah yang dikerjakan oleh hamba-Nya.
Perbuatan syukur seorang hamba pasti akan dibalas oleh Allah SWT. bahkan oleh-Nya segala kebaikan bagi hambanya. Dan jikalau seseorang telah melakukan segala tindakannya atas dasar rasa syukur kepada Sang Pemberi Nikmat niscaya akan terasa lebih mudah dan menyenangkan.
Penyunting: Bukhari






























Leave a Reply