Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

3 Cara Membuat Puasa Ramadhanmu Lebih Berkualitas

Sumber: istockphoto.com

Bila bulan Ramdhan tiba, puasa menjadi ibadah khusus yang diwajibkan oleh setiap umat Muslim. Di mana kewajiban puasa ini adalah perintah untuk menahan lapar dan haus, serta menjauhi hal-hal yang dapat mengurangi kualitas puasa.  Selain pahala yang besar, ampunan (maghfirah) Allah adalah janji yang Allah berikan bagi hamba-Nya yang berhasil menjalakannya; sebagaimana yang ditandaskan Nabi غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ   (akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu). Sebab itu, dalam momen puasa Ramadhan ini banyak umat Muslim berlomba-lomba untuk lebih giat menggapai ampunan Allah Swt.

Namun pernahkah kita bertanya dalam diri kita, Ramadhan dari tahun ke tahun silih berganti kemudian juga datang dan pergi, sudah seberapa besar ampunan Allah yang kita dapatkan dalam menjalankan ibadah puasa? Benarkah puasa yang tiap tahun kita jalani selama ini diterima oleh Allah Swt? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini, bukanlah bermaksud meragukan ibadah puasa yang telah Allah perintahkan. Malah hal ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi kita, agar puasa yang kita lakukan tidak menjadi sia-sia, sebagaimana sabda Nabi Saw dalam hadist yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga

Dalam hadist tersebut, setidaknya dapat menjadi rambu-rambu bagi kita yang hendak menjalankan puasa. Bahwa puasa sesungguhnya tidaklah hanya sekedar menahan lapar dan haus saja. Namun ada beberapa hal yang harus kita pahami terlebih dahulu agar puasa yang kita jalani untuk menggapai ampunan, bernilai dan berkualitas di mata Allah Swt. Lantas, bagaimana cara membuat ibadah puasa kita menjadi berkualitas di mata Allah Swt?

Baca Juga  Penafsiran Ayat -Ayat Syukur Dalam Kitab Tafsir Al-Maraghi

Puasa dengan Penuh Keimanan

Iman adalah hal yang paling dasar dalam ajaran Islam (tauhid/aqidah). Konsekuensi keimanan melahirkan segala apa yang diperintahkan adalah bentuk ketaatan kepada Allah Swt. Termasuk dalam perintah ibadah puasa, landasannya adalah keimanan. Maka tidak heran, perintah puasa dalam Q.S al-Baqarah [2]: 183 ditunjukan hanya kepada orang-orang beriman (yaa ayyuhal-lazina amanu), bukan kepada setiap manusia. Frasa sapaan kepada orang beriman juga dijelaskan dalam Tafsir At-Tanwir Muhammadiyah, bahwa penggunaan seruannya untuk menunjukan pesan yang amat penting dan agar efek sapaan itu lebih membekas dan mengesankan.

Syarat keimanan menjadi syarat mutlak agar puasa kita diampuni oleh Allah Swt. Sebagaimana hadist populer yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah yang penulis sebutkan tadi di atas:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَقَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barang siapa yang berpuasa Ramadlan dengan keimanan dan mengharap pahala dari Allah ta’ala niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu

Apabila puasa yang kita jalani tanpa dilandasan keimanan menjalankan perintah dari Allah Swt, maka puasa kita hanya akan sia-sia. Begitupun tanpa dengan landasan iman yang kuat, puasa yang dijalakan seseorang akan terasa berat baginya. Pun, apabila seseorang itu mampu menjalankannya akan tetap sia-sia, karena kenyataannya banyak sekarang orang kafir juga ikut berpuasa, namun hanya ingin mengambil manfaat kesehatan di dalamnya.

Puasa dengan Ihtisaban

Melanjutkan kutipan hadist di atas, selain keimanan syarat puasa kita berkualitas agar dosa kita diampuni oleh Allah Swt adalah ihtisaban. Kata ini berasal dari kata hasiba-yahsabu yang artinya menghitung dan sewazan dengan iftitahan yang menjadi artinya menghitung. Maka, dimensi puasa sebenarnya tidak hanya menghitung-hitung dan mengatur waktu kita berhubungan dengan Allah Swt, namun puasa mengajarkan bagaimana menghitung waktu dalam mengatur segala macam aktivitas selama berpuasa dari sahur hingga sahur kembali pada esoknya.

Baca Juga  Pandangan Al-Qur'an terhadap Fenomena Hamil di Luar Nikah

Kebanyakan orang menganggap, karena puasa adalah kewajiban yang utama tetapi malah melupakan aktivitas-aktivitas ibadah sunnah lainnya maupun waktu produktifnya. Dengan berpuasa, kita akan mampu memanejemen waktu ibadah kita secara lebih teratur tanpa meninggalkan aktifitas yang biasa dilakukan. Bahkan waktu tidur yang sering kita lakukan saat puasa untuk istirahat, juga tidak boleh secara berlebihan. Agar puasa yang dijalankan memang benar-benar mengharapkan pahala dan ampun dari Allah Swt.

Puasa dengan Ilmu

Puasa adalah ibadah yang memiliki cara dan tuntunannya. Agar puasa kita berkualitas, tentu kita perlu memahami ilmunya terlebih dahulu. Contoh kecilnya, puasa tidak hanya sekedar menahan lapar dan haus saja tetapi menahan nafsu dan amarah. Karena sering kita melihat orang berpuasa, namun mulutnya tidak dipuasakan juga dari gosip, ghibah, menggunjing dan membicarakan yang buruk tentang orang lain. Maka menurut Nabi Saw, hal-hal seperti ini akan merusak kualitas puasa kita yang telah menahan lapar dan dahaga sepanjang hari.

Untuk memahami ilmu-ilmu puasa, ada berbagai macam cara yang dapat dilakukan. Misalnya dengan membaca buku-buku tentang fiqih puasa, mendengarkan majelis ilmu di masjid ataupun mendengarkan kajian puasa di internet. Berpuasa dengan ilmu yang telah ditetapkan Allah Swt dan dicontohkan Nabi Saw, bertujuan memotivasi kita untuk berpuasa yang lebih berkualitas dengan memahami ilmunya.