Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Terminologi Waktu Dalam Al-Quran Prespektif M. Quraish Shihab

waktu
Sumber: istockphoto.com

Al-Qur’an berbicara banyak tentang terminologi waktu, bahasanya singkat tapi lugas, disertai wawu qasam yang artinya sumpah. Menunjukkan sedimikan besar peranan waktu, sampai-sampai Allah Swt. berkali-kali bersumpah dengan menggunakan berbagai kata yang menunjukkan pada waktu-waktu tertentu seperti terminologi: wa al-Alail (demi malam), wa an-Nahar (demi siang), wa al-Dhuha (demi waktu duha) dan masih banyak lagi.

Pepatah arab mengatakan Al-Waqtu Kassyaif (waktu bagaikan pedang) barang siapa yang tidak mahir menggunakanya bersiaplah akan terpotong oleh pedang itu sendiri. Waktu adalah uang, orang waras tidak akan membuang-buang uang, apalagi menyia-nyiakanya. 

Malik bin Nabi dalam karyanya Syuruth An-Nahdhah saat memulai urainya dengan mengutip suatu ungkapan yang dinilai oleh sebagian ulama sebagai hadis Nabi Saw.:

مَا مِنْ يَوْمٍ يَنْشَقُّ فَجْرُهُ اِلَّا وَيُنَادِى يَا بْنَ اَدَمَ اَنَا خَلْقٌ جَدِيْدٌ وَعَلَى عَمَلِكَ شَهِيْدٌ فَاغْتَنِمْ مِنِّى فَاِنِّى لَااَعُوْدُ اِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Artinya: Tidak terbit fajar suatu hari, kecuali dia berseru, “wahai anak adam, aku waktu, aku ciptaan baru, yang menjadi saksi usahamu. Gunakan aku karena aku tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat. (M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran, hal. 545).

Terminologi Makna Waktu Dalam AL-Quran

Menurut M.Quraish Shihab dalam karyanya wawasan Al-Qur’an, Al-Quran menggunakan beberapa terminologi kata untuk menunjukkan makna-makna waktu seperti kata:

  • Ajal, untuk menunjukkan waktu berakhirnya sesuatu seperti berakhirnya usia umat manusia.

Hal ini termaktub dalam QS Yunus: 49:

لِكُلِّ اُمَّةً اَجَلٌ

Artinya: Setiap umat mempunyai batas waktu berakhirnya usia.

Juga termaktub dalam QS Al-Qashash: 28 yang menceritakan kontrak perjanjian kerja antara Nabi Syuaib dan Nabi Musa.

Baca Juga  Pesan Indah Basmalah dalam Tafsir Al-Mishbah

Kata ajal memberi kesan bahwa segala sesuatu ada batasnya, sehingga tidak ada sesuatu yang langgeng dan abadi kecuali Allah Swt.

  • Dahr, implementasinya alam raya yang waktunya perkepanjangan, yaitu kehidupan dunia ini. Ukuranya sejak diciptakanya bumi sampai digulungnya bumi pada hari kiamat. Allah Swt. berfirman dalam QS Al-Jatsiyah: 24: 

وَقَالُوۡا مَا هِىَ اِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنۡيَا نَمُوۡتُ وَنَحۡيَا وَمَا يُهۡلِكُنَاۤ اِلَّا الدَّهۡرُ‌ؕ

Artinya: Dan mereka berkata: “kehidupan ini tidak lain saat kita berada di dunia, ketika mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan (mematikan) kitta kecuali dahr (perjalanan waktu yang dilalui alam).

Juga termaktub dalam QS Al-Insan: 1 yang menunjukan kata dahr bermakna waktu. Terminologi kata dahr memberi kesan bahwa segala sesuatu pernah tiada, dan bahwa keberadaanya menjadikan ia terikat oleh waktu (dahr).

  • Waqt, digunakan dalam arti batas akhir kesempatan atau peluang untuk menyelesaikan suatu peristiwa. Oleh karena itu Al-Qur’an seringkali menggunakan dalam konteks kadar tertentu dari suatu masa. Allah Swt berfirman dalam QS Al-Nisa: 103:

اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتۡ عَلَى الۡمُؤۡمِنِيۡنَ كِتٰبًا مَّوۡقُوۡتًا

Artinya: Sesungguhnya shalat itu kewajiban kepada orang mukmin yang tertentu waktu-waktunya.

  • Ashr yang terdapat dalam QS Al-Ashr yang biasa diartikan waktu menjelang terbenamnya matahari. Kata ashr sendiri bermakna “perasan” seakan-akan masa harus digunakan manusia untuk memeras pikiran dan keringatnya, dan hal ini hendaknya dilakukan kapan saja sepanjang masa.

Mengisi Waktu Menurut Al-Quran

Al-Quran memerintahkan umatnya untuk memanfaatkan waktu semaksimal mungkin. Waktu yang diberikan oleh Allah Swt. tidak akan kembali lagi dan tidak bisa di beli dengan harga sebanyak apa pun. Al-Qur’an memerintahkan umat manusia untuk mengisi waktunya dengan berbagai amal dengan mempergunakan semua daya yang dimilikinya.

Baca Juga  Makna Surah Al-Ashr: Bukan Sekadar Menyia-Nyiakan Waktu

Menurut M. Quraish Shihab hendaknya waktu yang diberikan oleh Allah diisi dengan peribadatan. Merujuk kepada firman Allah Swt. QS Adz-Dzariat: 56:

وَمَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَالۡاِنۡسَ اِلَّا لِيَعۡبُدُوۡنِ

 Artinya: Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada ku.

M. Quraish Shihab dalam menafsiri ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an menuntut agar semua pekerjaan yang dilakukan manusia berorientasi kepada Allah Swt. apapun itu bentuk pekerjaanya dan jenis pekerjaanya.

Al-Quran juga mengecam secara tegas orang-orang yang mengisi waktunya dengan bermain tanpa tujuan tertentu. Al-Quran menegaskan agar waktu yang ada tidak dipergunakan hanya untuk menumpuk harta benda, memperbanyak anak dengan tujuan dibangga-banggakan.

Al-Quran menyuruh umatnya untuk bekerja dengan tujuan mencari karunia Allah Swt kerja dan amal dalam bahasa Al-Quran diidentifikasikan nakirah (umum). Bentuk ini oleh pakar bahasa dipahami sebagai memberi makna keumuman, sehinga amal yang dimaksudkan mencangkup segala macam dan jenis kerja. Artinya Al-Qur’an tidak membatasi pekerjaan tertentu, semua jenis pekerjaan, selagi tidak melanggar syariatnya Allah.

Bahkan Al-Quran tidak hanya memerintahkan asal bekerja saja, tetapi bekerja dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati. Ketika satu pekerjaan sudah selesai AL-Quran tidak menyuruh untuk leyeh-leyeh akan tetapi langsung mengesekusi pekerjaan lain. Hal ini termaktub dalam QS Al-Insyirah: 7.

Itu artinya Al-Quran tidak mau umatnya menganggur. Nabi Saw. menganjurkan umatnya agar meneladani Allah dalam sifat dan sikapnya sesuai dengan kemampuannya sebagai makhluk. Dan salah satu yang perlu dicontoh adalah sikap yang dijelaskan dalam QS Ar-Rahman: 29 “Setiap saat dia (Allah) berada dalam kesibukan” (M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, hal. 553-556).

Akibat Menyia-nyiakan Waktu

Menurut M. Quraish Shihab QS Al-Ashr menyingkap soal orang yang menyia-nyiakan waktu. Dalam surat ini Allah Swt mengawalinya dengan bersumpah wal ashr (demi masa), untuk membantah anggapan sebagian orang yang mempermasalahkan waktu dalam kegagalan mereka.

Baca Juga  Menghindari Bahaya Nifaq dengan Berkata “Aku Mukmin Insya Allah"

Muhammad Abduh menegaskan bahwa tidak ada masa sial, karena yang berpengaruh adalah kebaikan dan keburukan usaha seseorang. Dan inilah yang berperan di dalam baik atau buruknya akhir suatu pekerjaan, karena masa lalu bersifat netral.

Dalam surat Al-Ashr juga menegaskan bahwa manusia itu rugi.

اِنَّ الۡاِنۡسَانَ لَفِىۡ خُسۡرٍۙ

Artinya: Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian (QS Al-Ashr: 2).

Kerugian tersebut baru disadari setelah berlalunya masa yang berkepanjangan, yakni paling tidak akan di sadari pada waktu ashr kehidupan menjelang hayat terbenam. Sayyidina Umar Ra. berkata: “ketika pagi hari jangan tunggu sore, ketika sore hari jangan tunggu pagi, gunakan waktu sehatmu sebelum masa sakitmu, gunakan masa hidupmu sebelum masa ajalmu”.

Kerugian adalah wadah dan manusia berada dalam wadah tersebut. keberadaanya dalam wadah mengandung arti bahwa manusia berada dalam kerugian total. Mengapa demikian? Sebab manusia terkadang lalai pada ayat sebelumnya “demi masa”. Dan mencari kaitanya dengan ayat kedua “Sesungguhnya manusia berada di dalam kerugian”. (M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran, hal. 558-559).

Jika demikian waktu harus dimanfaatkan, apabila tidak diiisi dengan hal yang manfaat, maka yang bersangkutan akan merugi. Wallahua’alam.

Editor: An-Najmi