Agama Islam memiliki perjalanan sejarah yang cukup panjang. Mengutip Harun Nasution, sejarah Islam secara garis besar terbagi menjadi tiga periode besar. Pertama, awal tahun 650 sampai dengan tahun 1250 masehi dinamakan periode abad Klasik. Adapun yang kedua, dari tahun 1250 sampai dengan 1800 masehi dinamakan periode abad pertengahan. Ketiga, dari 1800 sampai saat ini dinamakan periode abad modern. Dari rentetan sejarah tersebut banyak melahirkan berbagai disiplin keilmuan, termasuk di dalamnya bidang teologi. Satu pemikir yang unik adalah Abduh.
Teologi bergantung pada pemikiran ulama atau pemimpin umat (pemikir). Dari pemikiran tersebut akan berdampak besar pada kemajuan peradaban umat kedapanya. Mulai dari memecahkan permasalahan serta memberikan manfaat serta jalan terbaik dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Dari dasar pemikiran menciptakan suatu peradaban.
Setiap pemikir pasti akan menghasilkan pemikiran yang berbeda-beda. Perbedaan pemikiran memberikan warna pada pengetahuan umat. Berbagai macam pengetahun akan menjamin keberlangsungan dalam pembelajaran umat, dan akan membawa kemajuan serta kebaharuan dalam kehidupan.
Pembaharuan Islam
Di masa ini, yaitu abad modern. Banyak di antara kita pasti tidak asing dengan Pembaharuan Islam atau modernis Islam. Satu di antara tokoh di dalam gerakan modernis Islam ialah Muhammad Abduh. Dalam tulisan ini penulis hendak menguraikan mengenai pemikiran teologi dari Muhammad Abduh.
Sebelum ke pemikiran teologi milik Muhammad Abduh, kita akan mengenal teologi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, teologi adalah pengetahuan Ketuhanan. Di dalam Islam teologi lebih dikenal dengan sebutan ilmu kalam. Menurut Muhammad Abduh, ilmu kalam merupakan sebuah ilmu pengetahuan yang digunakan sebagai jalan untuk mengetahui Tuhan. Di dalamnya tidak hanya menggunakan wahyu, namun juga menggunakan akal.
Muhammad Abduh lahir dalam lingkungan keluarga petani, yang taat, sederhana dan mencintai ilmu pengetahuan. Pada tahun 1265 H terkenal sebagai tahun kelahiranya yang bertepatan dengan tahun 1849 M. dalam riwayat pendidikannya, beliau belajar pelajaran dasar seperti membaca dan menulis, yang dibimbing langsung oleh orang tuannya sendiri di rumah. Selanjutnya, beliau menjadi hafizh dalam kurun waktu dua tahun dengan bimbingan seorang guru yang juga hafizh.
Profil Muhammad Abduh
Di awal tahun 1286 H, selepas ia menikah di usia 16 tahun beliau meninggalkan Thanta dan memilih untuk meneruskan studinya ke Al-Azhar di Kairo. Di sana beliau bertemu dengan seorang yang sangat alim, yang terkenal sebagai mujahid, dan mujahidin dalam islam, sosok alim itu ialah Jamaluddin al-Afghani. Muhammad Abduh mulai tertarik dengan al-Afghani sejak Abduh mendatangi rumahnya dan di saat itu terjadi diskusi mengenain tasawuf dan tafisr, dari diskusi tersebut menggambarkan keilmuan yang mendalam dan cara berfikir yang modern dalam diri al-Afghani.
Muhammad abduh mendapat pengaruh dari pemikiran al-Afghani, pengaruhnya cukup besar dalam hal ide-ide tentang pembaharuan dalam islam. Cara berfikir Abduh yang dipengaruhi dari apa yang dibacanya seperti buku-buku filsafat, dan juga belajar tentang pikiran rasionalis islam yang dibawa Mu’tazilah. Membawanya dalam tuduhan-tuduhan dari guru-guru Al-Azhar bahwa Abduh telah meninggalkan mazhab Asy’Ari. Disamping itu tuduhan tersebut dijawab dengan tegas bahwa ”ia akan meninggalkan taklid kepada siapapun juga dan hanya berpegang teguh kepada dalil yang dikemukakan”
Teologi Rasional
Rasional berasala dari kata rasio yang memiliki makna masuk akal atau pemikiran yang nalar secara logis. Dalam pengertian lain rasional berarti suatu pemikiran yang masuk akal yang sesuai dengan pertimbangan logis. Jadi teologi rasional yang dikemukakan oleh Muhammad Abduh memiliki arti teologi yang menurut pemikiran yang masuk akal atau logis. Teologi yang dicetuskan oleh Muhammad Abduh ini mencoba membawa kita untuk menghindari taklid, yang biasa ada dalam teologi tradisional.
Tradisional merupakan lawan dari rasional, kata tradisi yang bermakna kebiasaan turun temurun yang masih dijalankan di masyarakat. Teologi ini menggambarkan bahwa apa yang telah ada merupakan hal yang baik, dan selalu berpegang teguh kepada tradisi. Sikap fanatik ini yang coba dikikis oleh Muhammad Abduh. Kekuatan akal mencoba menghabisi taklid yang ada, yang bahwasannya manusia mempunyai kebebasan dalam kemauan dan perbuatan. Akal adalah nikmat dari Allah dan harus senantiasa selaras dengan agama, jika melalaikan akal, sama saja menutup mata dari nikmat Allah.
Akal dijunjung tinggi dalam pemikiran Abduh, dalam rangka memerangi taklid. Di satu sisi, kedudukan akal sebagai toggak kehidupan manusia dan juga sebaga dasar yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Manusia diharuskan mengembangkan akalnya untuk mencapai taraf kehidupan yang lebih tinggi. Bahkan, dalam teologinya akal memiliki peranan yang khusus, baginya islam adalah agam yang rasional agama yang sejalan dengan akal dan juga didasarkan dari akal.




























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.