Islam adalah agama dakwah. Agama yang dalam proses penyebaranya lewat melalui dakwah. Dakwah adalah suatu hal yang esensial, mengingat ajaran Islam harus dikomunikasikan kepada masyarakat dan harus dikenalkan ajaran-ajaran agamanya, agar masyarakat bisa percaya dan lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt. Hal ini seorang dai (pendakwah) menjadi sosok sentral yang sangat penting untuk keberlangsungan dakwah. Berhasil tidaknya dakwah ditentukan seorang dai dalam melaksanakan dakwahnya. Seorang dai harus menggunakan cara atau metode yang baik dalam melaksakanakan dakwahnya agar bisa diterima dengan baik pula oleh mad’u (sasaran dakwah).
Metode dakwah adalah jalan atau cara yang dipakai juru dakwah untuk menyampaikan ajaran materi dakwah Islam. (M. Munir, S.Ag, MM, Manajemen Dakwah hal.33). Dalam menyampaikan suatu pesan dakwah, metode sangat penting perananya, karena suatu pesan baik, tetapi disampaikan lewat metode yang tidak baik, maka pesan itu bisa saja ditolak oleh si penerima pesan.
Metode dakwah terkadang lebih penting perananya dari pada madda (materi dakwah). Sebagaimana pendapat sebagian ulama: At-Tariqatu Ahammu Minal Maddah (metode lebih penting dari isi atau materi). Dengan begitu cara atau metode ini harus benar benar dipegang oleh seorang dai agar proses dakwahnya direspon dengan baik oleh mad’u.
Tiga Metode Dakwah
Figur utama seorang dai adalah Rasulullah Saw. Bagaimana kesuksesanya dalam berdakwah sehingga Islam bisa menyebar dengan waktu yang relative singkat di Jazirah Arab. Konsepnya sederhana yakni berdakwah dengan cara yang lemah lembut, sebagaimana yang digambarkan oleh Allah Swt. dalam Surah Ali Imran ayat: 159 yang artinya: maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.
Selain sifat lemah lembut yang dimiliki Rasulullah Saw. yang menjadi sebab kesuksesan dakwah Rasulullah Saw. adalah metode atau cara dakwah, yang dipraktikkan Rasulullah Saw. Metode tersebut tidak gemeh-gemeh, langsung Allah Swt. yang memerintahkan kepada Rasulullah Saw. lewat firmanya yang termaktub pada surah An-Nahl: 125:
اُدۡعُ اِلٰى سَبِيۡلِ رَبِّكَ بِالۡحِكۡمَةِ وَالۡمَوۡعِظَةِ الۡحَسَنَةِ وَجَادِلۡهُمۡ بِالَّتِىۡ هِىَ اَحۡسَنُؕ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعۡلَمُ بِمَنۡ ضَلَّ عَنۡ سَبِيۡلِهٖ وَهُوَ اَعۡلَمُ بِالۡمُهۡتَدِيۡنَ
Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanya dan dialah yang lebih mengetahui orang orang yang mendapat petunjuk.
Menengok segi penafsiran ayat ini, Imam Ibnu Jarir At-Thabari menafsirkan اُدۡعُ اِلٰى سَبِيۡلِ رَبِّكَ wahai Muhammad kamu adalah utusan Allah Swt., maka serulah manusia untuk taat kepada Allah Swt, yakni dengan menjalankan syariat, yang disyariatkan kepada seluruh makhluknya, yakni Islam.
Kata بِالۡحِكۡمَةِ dikatakan dalam tafsir tersebut: dengan wahyu yang Allah Swt. wahyukan kepadamu dan kitab (Al-Qur’an) yang Allah turunkan kepadamu. وَالۡمَوۡعِظَةِ الۡحَسَنَةِ: dengan mengucapkan kata kata baik dan ber-argumen sesuai dengan apa yang diargumentasikan oleh Al-Qur’an. وَجَادِلۡهُمۡ بِالَّتِىۡ هِىَ اَحۡسَنُ: dan perdebatan dengan perdebatan yang baik, yakni dengan memperhatikan etika perbincangan perdebatan, jangan sampai melukai orang yang kita perdebat. (Imam Ibnu Jarir At-Thabari, Tafsir At-Thabari, juz 14, hal. 400).
Metode Bil Hikmah
Etimologi bil hikmah adalah bijaksana. Para Mufassirin rata-rata dalam menafsiri kata bilhikmah adalah berdakwah sesuai ajaran Al-Qur’an dan sunnah (hadis) seperti: Imam Thabari, Ibnu Katsir Imam, Al-Baghawi dan lainya. Ini mengisyaratkan bahwa seorang dai harus menguasai kebijakan-kebijakan, hukum-hukum yang ada dalam Al-Qur’an dan sunnah, meliputi syariat dan hukum yang ditetapkan, untuk keberlangsungan dakwah.
Sedangkan menurut M. Arifin dan Wahyu Illahi dalam buku Manajemen Dakwah (hal.34) metode bil hikmati yaitu berdakwah dengan memperhatikan situasi dan kondisi sasaran dakwah dengan menitik beratkan pada kemampuan mereka, sehingga didalam menjalankan ajaran-ajaran Islam selanjutnya, mereka tidak lagi merasa terpaksa atau keberatan.
Dengan begitu seorang dai harus cerdas dalam melihat realita sasaran dakwah, bijaksana dalam melakukan kegiatan dakwah dan tetap melihat aspek landasan Islam.
Metode Mauidhatil hasanah
Imam Jalaluddin As-Suyuti dan Imam Jalaluddin Al-Mahali menafsiri wal mauidhatil hasanati dengan mengucapkan ucapan yang lembut. Sedangkan Al-Baidhawi menafsirinya dengan lafadz (Al-khitabati) khotbah-khotbah, menuturkan kata didepan publik berusaha meyakinkan dan menebar kemanfaatan. Lebih lanjut Al-Baidhawi mengatakan: “maka awwal dakwah diperuntukkan kepada mereka yang mencari hakikat (kebenaran tuhan) dalam artian orang-orang kafir, lalu diperuntukkan orang orang awam”.
Maka metode mauidhatil hasanati bisa diartikan berdakwah dengan memberikan nasihat-nasihat atau menyampaikan ajaran ajaran Islam dengan rasa kasih sayang, sehingga nasihat dan ajaran Islam yang disampaikan itu dapat menyentuh hati mereka. (Manajemen Dakwah, hal.34)
Metode Wajadilhum Billati Hiya Ahsan
Secara bahasa berarti berdebat dengan cara yang sebaik-baiknya. Atau bisa diartikan, berdakwah melalui cara bertukar pikiran dan membantah dengan cara yang sebaik-baiknya, dan tidak memberikan tekanan-tekanan yang memberatkan pada komunitas yang menjadi sasaran dakwah. (Manajemen Dakwah, hal.34).
Al-Baidhowi menafsirkan ayat ini: berdebat dengan sasaran dakwah dengan sebaik-baiknya. Yakni dengan cara memperdebat sasaran dakwah menggunakan kata kata yang lembut dan halus, menunjukkan kemudahan penangkapan nalar dan terukur logis argumentasi dai.
Metode ini memerlukan seperangkat ilmu yang mumpuni untuk mengalahkan sasaran dakwah. melalui cara ini bagaimana seorang dai memperdebat sasaran dakwah dan mengalahkanya tapi mereka tidak merasa kalah. Ini yang menjadi tantangan bagi dai yang dihadapkan metode perdebatan. Seorang dai harus tajam argumentasinya, luas pengetahuanya, cerdas dalam meng-analogikan realita, serta bisa mempengaruhi pembicaraanya kepada sasaran dakwah, juga adab berdebat yang baik mengalahkam lawan tanpa mereka merasa kalah.
Itulah tiga metode dakwah yang harus dipraktikkan para dai untuk kesuksesan dakwahnya. Metode ini harus benar benar di pegang oleh para dai sebagai pewaris para nabi yang menjadi utusan Allah Swt. Sekali lagi bahwa figur utama dalam segala hal, khususnya dalam berdakwahadalah Rasulullah Saw. maka tidak ada yang bisa kita contoh dalam berdakwah kecuali Rasulullah Saw. Wallahu a’alam.
Editor: An-Najmi



























Leave a Reply