Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Membaca Kunci Keberhasilan Dakwah Perspektif Ludwig Wittgenstein

dakwah
Sumber: nu.or.id

Ludwig Josef Johann Witgenstein adalah yang mempengaruhi perkembangan filsafat Analitik Bahasa pada abad ke 20. Ia lahir di Wina, tepatnya di negara Austria pada tanggal 26 April 1889. Ludwig adalah anak bungsu dari delapan bersaudara. Ayahnya berasal dari keturunan Yahudi yang telah memeluk agama Kristen Protestan sedangkan ibunya beragama Katholik.Diakhir masa hidupnya, Ludwig Wittgeinstein berhasil menulis buku Philosophical Investigation yang membahas tentang permainan bahasa. Dimana dalam berbagai kehidupan manusia, ternyata memiliki aturan main bahasa dalam penggunaanya masing-masing.

Buah pemikiran Ludwig Wittgeinsten ini dapat diaplikasikan sebagai sarana berdakwah dalam agama, terutama agama Islam. Seorang pendakwah yang menyebarkan agama Islam, dituntut untuk mampu dalam menyampaikan ajaran-ajaran Islam dengan bahasa yang baik dan benar agar mudah dicerna bagi para pendengar. Maka,peran bahasa di sini sangatlah diperlukan bagi seorang pendakwah.

Pengertian Dakwah

Secara Etimologi (bahasa),dakwah berasal dari kata kerja bahasa Arab :دعا-يدعو-دعوة   yang memiliki arti mengajak,menyeru dan memanggil seruan,permohonan dan permintaan. Adapun dalam sumber lain,kata dakwah dapat diartikan sebagai seruan,panggilan,undangan atau do’a. Sedangkan pengertian dakwah secara terminologi (istilah) menurut beberapa tokoh sebagai berikut:

  1. Menurut Prof Dr. Hamka, dakwah adalah seruan atau panggilan untuk menganut suatu pendirian yang ada dasarnya berkonotasi positif yang terletaj pada aktivitas yang memerintahkan amar ma’ruf nahi mungkar.
  2. Menurut Prof Toha Yahya Oemar, dakwah adalah upaya mengajak umat dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Tuhan untuk kemashlahatan dunia dan akhirat.
  3. Menurut Syaikh Muhammad Abduh, dakwah adalah menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran adalah fardlu yang diwajibkan kepada setiap umat muslim.
Baca Juga  Quraish Shihab: Tafsir Dakwah Kekinian dan Kekeliruannya

Berdasarkan penjelasan beberapa tokoh terkemuka diatas,dapat disimpulkan bahwa dakwah adalah ajakan atau seruan dalam hal kebaikan dan larangan terhadap keburukan yang diajarkan dalam tuntunan agama islam oleh pendakwah kepada masyarakat atau mad’u.

Teori Permainan Bahasa Ludwig Wittgeinstein

Sejarah munculnya ide pemikiran bahwa bahasa bersifat seperti halnya permainan yang di dalamnya memiliki atuaran-aturan main menurut Ludwig Wittgeinstein berawal saat ia menyaksikan suatu pertandingan bola. Dari pengamatannya, muncul selintas ingatan bahwa tidak hanya sepak bola saja yang bisa disebut permainan, bahasa pun dapat disebut sebagai permainan karena di dalamnya juga terdapat aturan-aturan main dan khas. Hal ini dapat diumpamakan ketika kita memperhatikan suatu permainan. Dalam suatu permainan, terdapat beragam permainan yang ada di dalamnya, seperti, halnya permainan sepak bola,futsal,basket,volly, dan tennis meja dimana semua permainan ini ada dalam bidang olahraga.

Apabila bahasa diumpamakan seperti bola yang dimainkan di setiap bidang olahraga yang ada pada cabang olahraga, maka tentunya setiap permainan akan mendapat aturan main yang berbeda-beda. Apabila bola yang digunakan untuk bermain dalam bidang olahraga tersebut dimainkan tidak sesuai dengan aturan mainnya, maka permainan tersebut dianggap menyalahi aturan dan merusak aturan yang ada dalam permainan. Akhirnya, permainan tersebut tidak akan diakuikarena telah meyalahi aturan mainnya.

Selain memiliki aturan main, bahasa juga mempunyai pola permainan yang berbeda-beda.Contohnya sepertimemberi perintah,membuat lelucon, memberikan beberapa perumpamaan,melaporkan suatu berita,bertanya, menjawab, dan menghardik. Bahkan, dalam menyatakan cinta pun terdapat aturan bahasa yang harus digunakan.

Hal ini menunjukkan bahwa dalam berbahasa tidak bisa disamakan  dalam penggunaannya. Hal ini dikarenakan pola bahasa yang relevan harus disesuaikan agar dapat berkomunikasi dan memasuki aturan bahasa lawan bicara. Pola pandang berbahasa seperti ini adalah bentuk perubahan dari paham bahasa yang dimiliki oleh Ludwig Wittgeinstein sebelumnya. Di mana pada karya sebelumnya yang berjudul Tractatus Logico Philosophicus, Ludwig Wittgeinstein berpendapat bahwa hanya pernyataan-pernyataan deskriptif yang mempunyai arti, atau bisa dikatakan meaning is picture , yang artinya bahwa bahasa akan berarti jika dipakai dalam menggambarkan suatu keadaan faktual (states of affairs) dan semua bahasa dapat dirumuskan dalam bahasa logika yang sempurna.

Baca Juga  Keselarasan Ajaran Stoisisme dan Islam

Teori Ludwig dalam Analisis Memahami Ayat-Ayat Dakwah

Hal pertama yang perlu diperhatikan oleh pendakwah ketika akan berdakwah adalah objek dakwah. Apabila objek dakwahnya adalah orang non muslim, maka seorang pendakwah harus bisa memasuki aturan permainan yang dimiliki oleh seorang non mulim tersebut dengan mengetahui latar belakang pemahaman beragama yang dimiliki oleh orang non muslim tersebut.

Hal ini juga seringkali digunakan oleh pendakwah internasional Muslim dari India yang terkenal menggemparkan dunia,yaitu Zakir Abdul Karim Naik. Beliau selalu memenangkan debat melawan tokoh agama non muslim dari berbagai negara. Keunggulan yang beliau miliki adalah telah menghafal kitab-kitab agama selain al-Qur’an. Sehingga, beliau dapat dengan mudah mempermainkan bahasanya untuk mengalahkan tokoh-tokoh non muslim dalam berdebat. Adapun surat al-Baqarah ayat 2 dapat menjadi contoh tentang bagaimana cara menjelaskan kebenaran al-Qur’an kepada orang-orang non Muslim.

ذٰلِكَ الْكِتٰبُلَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْن

Artinya: Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya;petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.

Pertama, Ayat tersebut mengandung pesan bahwa seorang pendakwah dilarang menggunakan diksi sebagaimana yang ia gunakan dalam berdakwah pada umat Islam, mengingat bahwa yang ia hadapi bukan umat Islam, melainkan non-muslim. Pendakwah dianjurkan untuk menggunakan diksi yang dapat dipahami oleh orang-orang non-muslim dalam menguraikan dan menyampaikan sesuatu.

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ. لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ

Artinya: Ini bukanlah sembarang kitab.Kitab ini di turunkan oleh Allah pada Nabi Muhammad saw dan masih terjaga kemurnian teksnya.

Kedua, ayat tersebut mengandung pesan bahwa Al-Qur’an bukanlah kitab biasa, melainkan kitab suci yang langsung Allah turunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Jika seorang pendakwah telah mampu mengolah permainan bahasanya, maka langkah selanjutnya ialah menunjukkan fakta-fakta yang ada dalam Al-Qur’an. Sebagaimana yang tertulis dalam Q.S ar Rahman ayat 19-22 yang menunjukkan kebesaran dan keagungan Tuhan dengan cara membiarkan dua air laut yang berbeda tidak bisa menyatu seolah-olah terdapat tabir gaib yang membatasinya. Pendakwah juga dapat menunjukkan bukti sains yang dapat menunjukkan adanya hubungan antara ayat-ayat Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan.

Baca Juga  Peluang Besar Berdakwah Melalui Tulisan

Ketiga, setelah dikemukakannya fakta-fakta realita dalam ayat-ayat Al-Qur’an, dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an memanglah bukan sebuah kitab biasa, melainkan firman Tuhan yang diturunkan kepada utusan-Nya sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Hal ini dapat diperkuat dengan ayat هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ sebagai penguat argumen bahwa Al-Qur’an adalah petujuk bagi orang orang yang bertakwa agar tidak meragukan firman Tuhan dan segala keagungan-Nya.

Editor: An-Najmi