Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tafsir QS. Luqman Ayat 18: Ujub Dalam Menuntut Ilmu dan Dampaknya

Sumber: dictiocomunity.com

Orang yang sombong ketika memiliki ilmu dan merasa cukup berilmu, ia akan kagum dengan ilmunya. Sehingga ia salah mempergunakan ilmunya bukan untuk mengamalkan kepada orang lain. Akan tetapi melainkan menjadi bahan aduan akan ilmu dirinya dengan orang lain seakan akan dialah yang lebih tau segala-galanya ketika orang memberi saran bukan menerima tetapi menyepelekan hal tersebut seakan akan semua perkataannya lah hal paling benar. orang yang sombong akan ilmu sering membanggakan dirinya seolah olah amal dan ilmu itu datang darinya bukan dari Allah SWT. Dan tanpa ia sadari ia termasuk orang yang ujub terhadap sesama orang terdekatnya.

Defenisi Kata Ujub

Kata ‘ujub atau I’jab bi an nafs memiliki dua makna. pertama, kata tersebut diartikan sebagai senang, menganggap baik, dan tertarik. kedua, ujub dimaknai sebagai bangga, memandang agung, dan besar. Ujub juga seringkali diartikan sebagai kagum. Lawan dari ujub adalah dzikrul minnah atau mengingat karunia Allah SWT.

Ayat dibawah Qs. lukman ayat 18 menjelaskan mengenai tentang ‘ujub:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ – ١٨

Artinya: “Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Lukman: 18)

Penafsiran Quraish Shihab Terhadap Ujub

Kata (تصعر) terambil dari kata  ( الشعار) ash-sha’ar yaitu penyakit yang menimpa unta dan menjadikan lehernya keseleo sehingga ia memaksakan dia dan berupaya keras agar berpaling sehingga tekanan tidak tertuju kepada syaraf lehernya yang mengakibatkan rasa sakit. Dari kata inilah ayat di atas menggambarkan upaya keras dari seseorang untuk bersikap angkuh dan menghina orang lain. Memang, sering kali penghinaan tecermin pada keengganan melihat siapa yang dihina.          

Baca Juga  Pengungkapan Manna dan Salwa: Analisis Q.S Al-Baqarah Ayat 57

Kata ( فِى الْاَرْضِ ) fi al-ardhidi bumi disebut oleh ayat diatas untuk mengisyaratkan bahwa asal kejadian manusia dari tanah sehingga dia hendaknya jangan menyombongkan diri dan melangkah angkuh di tempat itu. Demikian kesan al-Biqà’i. Sedang, Ibn ‘Asyûr memperoleh kesan bahwa bumi adalah tempat berjalan semua orang, yang kuat dan yang lemah, yang kaya dan yang miskin, penguasa dan rakyat jelata. Mereka semua sama sehingga tidak wajar bagi pejalan yang sama, menyombongkan diri dan merasa melebihi orang lain.

Kata (مختالا) mukhtalan terambil dari kata yang sama dengan (خَيَالٌ) khayal/khayal. Karenanya, kata ini pada mulanya berarti orang yang tingkah lakunya diarahkan oleh khayalannya, bukan oleh kenyataan yang ada pada dirinya. biasanya, orang semacam ini berjalan angkuh dan merasa dirinya memiliki kelebihan dibandingkan dengan orang lain. Dengan demikian keangkuhannya tampak  secara nyata dalam kesehariannya. Kuda dinamai     ( خيل ) khail karena cara jalannya mengesankan keangkuhan. seorang yang mukhtal membanggakan apa yang dimilikinya, bahkan tidak jarang membanggakan apa yang pada hakikatnya tidak ia miliki. Dan inilah yang ditunjuk oleh kata (فَخُورًا ) fakhuran, yakni sering kali membanggakan diri.

***

Memang, kedua kata ini, yakni mukhtal dan fakhur, mengandung makna kesombongan. Kata yang pertama bermakna kesombongan yang terlihat dalam tingkah laku, sedang yang kedua adalah kesombongan yang terdengar dari ucapan-ucapan. Di sisi lain, perlu dicatat bahwa penggabungan kedua hal itu bukan berarti bahwa ketidaksenangan Allah baru lahir bila keduanya tergabung bersama-sama dalam diri seseorang. Tidak! Jika salah satu dari kedua sifat itu disandang manusia, hal itu telah mengundang murka-Nya. Penggabungan keduanya pada ayat ini atau ayat-ayat yang lain hanya bermaksud menggambarkan bahwa salah satu dari keduanya sering kali berbarengan dengan yang lain.

Baca Juga  Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 155: Cara Menyikapi Musibah

Dampak Negatif Sikap Ujub

Sifat ‘ujub dapat berdampak negatif bagi diri sendiri dan sifat ujub tersebut dapat menjerumuskan seseorang dalam kesyirikan. Berikut beberapa yang ditimbulkan dari sifat ujub:

  1. Sifat ujub akan membentuk kepribadian negatif dan dapat mendekatkan pada perilaku tercela.
  2. ujub dapat mengahapus amal perbuatan shaleh yang telah dilakukan.
  3. Mendatangkan kebencian dan murka dari Allah SWT.
  4. Orang yang berbuat ujub tidak akan dipercaya oleh manusia lainnya.
  5. Ujub dapat menutupi kebaikan seseorang dan mendatangkan celaan baginya.

Oleh karena itu, ujub adalah sifat  yang tercela meski hanya terbesit di dalam hati. Contohnya saat seseorang merasa bangga akan kepintarannya sehingga memandang rendah orang lain. Tetaplah rendah hati dan jauhi sifat yang sombong akan ilmu yang engkau dapatkan karna itu semua dari allah SWT.

Editor: An-Najmi