Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tafsir Q.S Al-Ahzab Ayat 21: Benarkah Nabi Hanya Perintah Tanpa Aksi?

Sumber: istockphoto.com

“Taatilah Allah dan Rasul. Jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” Begitulah firman Allah tentang perintah bertakwa kepada Allah dan Nabi Muhammad dalam QS. Ali Imran [3]: 32. Tidak diragukan lagi bahwa sumber pokok ajaran agama adalah dari al-Qur’an dan hadis Nabi. Jikalau kedua sumber tersebut tidak ditaati tentu agama akan menjadi tidak seimbang. Oleh karena itu Allah dalam firmannya memerintahkan untuk mentaatinya dan Nabi-Nya.

Dalam tafsirnya, Quraisy Shihab menjelaskan bahwa peringkat mengikuti dan meneladani Nabi saw. Yang mengantar kepada cinta kepada Allah adalah hal yang tidak mudah, maka QS. Ali Imran [3]: 32 ini mengajak kepada tingkat yang lebih rendah, yaitu mentaati Nabi dengan mengerjakan apa yang beliau wajibkan dan yang beliau larang atas nama Allah. Jika hal ini pun ditolak dengan berpaling maka Allah tidak menyukai orang-orang kafir. Untuk ditaati oleh manusia tentu butuh terhadap akhlak yang mulia.

Tidak mungkin seseorang yang semena-mena dalam berbuat akan diikuti segala ucapan dan perbuatannya. Nabi sendiri merupakan sosok yang indah, baik segi fisik, perilaku dan ucapan sehingga tidak heran jika dakwah Nabi dikatakan sukses. Dalam bukunya The 100, Michael H Hart menetapkan Nabi Muhammad sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia dan satu-satunya orang yang berhasil meraih kesuksesan yang luar biasa, baik dalam hal agama maupun duniawi

Suri Teladan Nabi Bukan Sekedar Perintah Tanpa Aksi

Pengaruh Nabi Muhammad memang sangat besar bagi peradaban. Hal itu tidak lain karena kelembutan akhlak yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Suri teladan Nabi bukanlah sekedar ucapan belaka ataupun perintah tanpa aksi, melainkan ketika memerintah, Nabi sudah melakukan terlebih dahulu. Oleh karena itu Qur’an menyebut Nabi sebagai Uswah hasanah (suri tauladan):

Baca Juga  Mengenal Nabi Muhammad di Dalam Al-Qur'an

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِی رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةࣱ لِّمَن كَانَ یَرۡجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلۡیَوۡمَ ٱلۡـَٔاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِیرࣰا

            Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21)

Uswah dalam bahasa Arab berarti qudwah (panutan). Artinya didalam diri Nabi terdapat role model yang harus ditiru. Quraisy Shihab menambahkan dalam tafsirnya, bahwa ayat tersebut seakan-akan menyindir orang kafir yang telah melakukan kedurhakaan, padahal sesengguhnya di tengah mereka ada Nabi Muhammad yang semestinya diteladani.

Bagaimana mereka mendurhakai Nabi padahal Nabi sudah memberikan contoh yang baik. Terbukti dalam berbagai contoh Nabi berada di garis depan dalam melakukan kebaikan, salah satunya dalam perang Ahzab. Perang Ahzab adalah perang yg cukup menyulitkan umat muslim. Dimana orang islam yg hanya berjumlah 3000 pasukan harus melawan partai koalisi Yahudi, kafir Quraisy beserta para pengikutnya yang berjumlah sekitar 12.000 pasukan.  Tentu tidak imbang dari segi jumlah dan untuk orang yang imannya lemah beserta ada kemunafikan dalam hatinya akan memilih mundur tidak ikut perang.

Mengikuti Jejak Nabi

Namun tak disangka berkat rahmat Allah dan sosok Nabi yg selalu mengawal; juga hadir ditengah-tengah pembuatan parit menjadikan stimulus tersendiri bagi orang-orang mukmin. Sosok nabi yang tidak hanya sekedar memerintah namun juga ikut terlibat dalam penggalian parit hingga punggung nabi kotor penuh akan tanah. Sosok Nabi yang juga ikut merasakan apa yang dirasakan oleh seluruh pasukan kaum muslim. Baik suka dan duka hingga lapar dan dahaga menjadikan salah satu kunci kemenangan dalam perang Ahzab. Oleh karena itu tidak salah dalam surat Ahzab Allah menyebut nabi dengan “Uswah Hasanah”. (Tafsir Showi, Jilid 3, hal 337)

Baca Juga  Apakah Nabi Muhammad SAW Menafsirkan Seluruh Al-Qur’an?

Mengikuti perilaku Nabi memang tidaklah mudah. Hanya orang yang benar-benar beriman yang selalu mengharap pahala, hari akhir, akhirat, dan bertemu Allah yang mampu mencontoh segala perilaku Nabi. Di akhir firmannya Allah menutup dengan hanya orang yang selalu mengingat Allah dan kemudian berimplikasi pada ketakwaan yang mampu mengikuti jejak suri teladan Nabi (TafsirAnwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil, Jilid.4, hal.228.)

Editor: An-Najmi