Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Prinsip Semantik Al-Qur’an Menurut Toshihiko Izutsu

Prinsip Semantik
Gambar: : iqt.unida.gontor.ac.id

Sumber rujukan pertama umat Islam memang tiada habisnya jika didiskusikan. Senantiasa menarik untuk dikaji dan digali kedalaman makna yang terkandung di dalamnya. Dalam prosesnya, pengkajian makna kata dalam Al-Qur’an bukanlah hal yang jika kita membuka kamus bahasa Arab akan terselesaikan. Ilmu kebahasaan merupakan salah satu ilmu bantu yang tak terlepaskan dari proses penafsiran kata dalam Al-Qur’an.

Sebelum Islam datang ke Arab, bangsa Arab memang sudah terkenal akan bahasanya yang tertuang dalam syair-syair. Jika kita memahaminya dengan bahasa kita, artinya kita menyimpulkan maknanya hanya dengan membaca terjemahan saja tentu akan menghasilkan maksud yang berbeda. Terkadang memang artinya sama, namun konteks yang dituju sangatlah berbeda. Oleh karenanya, penguasaan terhadap bahasa dinilai sangat penting dalam seluruh kajian, terlebih kajian makna kata dalam Al-Quran.

Tiga Prinsip Semantik Toshihiko Izutsu

Linguistik memiliki empat cabang keilmuan, satu di antaranya ada yang mengkaji tentang makna kata atau disebut semantik. Semantik sendiri merupakan sebuah keilmuan yang mempelajari mengenai makna suatu kata tidak hanya secara kebahasaannya saja. Namun juga mengenai kebudayaan pengguna bahasa serta suatu konsep yang terbentuk olehnya.

Kemudian jika dihubungkan dengan Al-Qur’an yang selanjutnya berperan sebagai pengguna bahasa, semantik Al-Qur’an merupakan kajian makna kata dalam Al-Qur’an. Dalam semantik Al-Qur’an Toshihiko Izutsu adalah nama pengkaji yang sering dibicarakan. Dalam bukunya, Relasi Tuhan dan Manusia: Pendekatan Semantik Terhadap Al-Qur’an Toshihiko menyampaikan bahwa ada tiga prinsip dalam semantik.

Prinsip pertama dari semantik yang diungkapkan oleh Toshihiko yakni adanya keterpaduan konsep-konsep individual, Artinya makna dari suatu kata akan bisa dideteksi dengan memperhatikan kata-kata di sekitarnya, dengan tanpa meninggalkan perhatian terhadap makna asli yang ada di dalamnya. Dalam mengkaji semantik Al-Qur’an kita harus mengidentifikasi hubungan antar kata dan konsep apa yang dimunculkannya.

Baca Juga  Penafsiran Khalifah dalam QS. Al-Baqarah Ayat 30: Perspektif Abduh

Karena salah satu ciri khas dari bahasa Al-Qur’an adalah penggunaan kosakata Arab yang telah ada, namun dalam struktur yang baru. Kata dzalim misalnya, dzalim dalam pengertian umum diterjemahkan sebagai “kejahatan”. Sedangkan dalam konteks al-Qur’an, karakter dzalim meliputi mereka yang menyekutukan Allah, mendustakan ayat-ayat Allah.

Prinsip Semantik Al-Quran: Makna Dasar dan Makna Relasional

Prinsip kedua yakni adanya dua level makna dalam semantik, makna dasar dan relasional. Suatu kata memiliki makna dasar, makna yang melekat dengan kata tersebut. Serta makna relasional, makna tertentu yang muncul dalam pemakaian kata. Jadi ketika kata itu digunakan dan berelasi dengan banyak kata yang lain muncul makna-makna baru dan level makna yang lain.

Kita bisa melihatnya dalam kata privasi yang dalam bahasa Indonesia memiliki makna dasarnya adalah keleluasaan pribadi. Kalimat pertamanya adalah “kita bisa menyewa kamar tanpa kehilangan privasi”. Makna privasi di sini berhubungan dengan layanan dan perlakuan di tempat penginapan.

Adapun kalimat keduanya adalah “merekam orang secara diam-diam merupakan suatu pelanggaran terhadap privasi” makna privasi dalam kalimat kedua berhubungan dengan hak seseorang terhadap kebebasan. Kata privasi pada kedua kalimat tadi makna dasarnya tetap “keleluasaan pribadi”. Pada kalimat pertama berhubungan dengan layanan, sedangkan pada kalimat kedua berhubungan dengan hak.

Pentingnya Bahasa dan Kosa Kata dalam Membentuk Pandangan Dunia

Prinsip ketiga yakni kosa kata dan weltanschauung atau pandangan dunia. Pada dasarnya, kosakata merupakan cerminan dari pengguna bahasa, yang dengannya kita bisa memahami bagaimana pengguna bahasa memahami dunia. Bahasa secara singkat memang hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, namun jika dipandang secara luas bahasa juga merupakan sarana untuk memahami serta menstruktur sesuatu.

Baca Juga  Beberapa Karakteristik Paradigma Tafsir Kontemporer (1)

Misal pada buah yang bagus dan buah yang kurang bagus. Hal tersebut bisa kita kategorikan melalui bahasa. Buah yang bagus itu yang harumnya seperti ini, yang warnanya seperti itu. Jadi bahasa memberikan struktur pemikiran tertentu bagi kita mengenai buah, bagaimana kita memandang buah.

Jadi, kosa kata dan weltanschauung sangat penting. Karena akan menentukan bagaimana pandangan Al-Qur’an terhadap dunia, bagaimana cara Al-Qur’an memandang dunia, dan bagaimana cara Al-Qur’an menstruktur dunia.

Ketiga prinsip semantik tersebut adalah prinsip analisis semantik yang digunakan oleh Toshihiko dan dia terapkan kepada Al-Qur’an, yang secara langsung disampaikan dalam bukunya. Ketiganya harus diperhatikan dalam melakukan analisis semantik terhadap Al-Quran. Bahwa semua kata itu harus diperhatikan relasinya dengan kata-kata yang lain, harus diperhatikan level maknanya baik dasar maupun relasional, dan analisisnya bukan hanya sekedar mengenal kata tetapi mengetahui weltanschauung Al-Qur’an.

Penyunting: Bukhari