Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Self-efficacy sebagai Pondasi Spirit Pemuda Era Kini

Sumber: www.kompasiana.com

Manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Bagaimana tidak, sedangkan manusia adalah satu-satunya mahluk yang diberikan anugerah terindah oleh Tuhan yaitu berupa akal fikiran. Dari akal tersebut, muncullah segala macam potensi yang luar biasa. Secara garis besar ada 2 potensi yang meliputi mereka, yakni potensi kebaikan dan keburukan. Hal ini berkaitan dengan self-efficacy. Namun, terlepas dari potensi yang bersifat negatif tersebut, manusia mampu menjadi satu-satunya mahluk yang menyandang gelar sebagai “Sang Penahluk Dunia”.

Merekapun ialah satu-satunya mahluk visioner dan revolusioner yang bisa merubah kehidupan dunia penuh dengan ragam warna yang indah. Walaupun pada awalnya terlahir dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, akan tetapi seiring berjalannya fase pertumbuh kembangan mereka. Ternyata mereka mampu berada dititik yang paling gemilang. Para peneliti mengatakan bahwa fase tersebut ialah terletak pada masa muda. Di mana darah muda masih mengalir deras beriringan dengan semangat optimisme yang menggelora.

Sadarlah, Betapa Berharganya Engkau Wahai Pemuda!

Pemuda adalah aset utama peradaban bangsa. Alasannya, karena dari spirit para pemuda telah terbukti mampu memberikan sumbangsih terhadap revolusi zaman demi zaman. Ghirah mereka tak pernah sirna terkikis masa, sampai-sampai mereka mampu menahlukkan dunia dan melakukan hal yang tak mungkin menjadi mungkin. Mereka sangat berjasa dalam perwujudan peradaban dunia yang gemilang seperti yang kita lihat dan kita rasakan saat ini. Mari kita ingat kata-kata yang pernah diucapkan oleh Presiden Perdana Negara Indonesia, Pak Soekarno. Beliau pernah berseru “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia”. Betapa dahsyatnya makna dari kalimat tersebut.

Baca Juga  Buletin Jum'at: Spirit Kemanusiaan Ibadah Puasa

Di usia muda, seseorang terkesan lebih berkharisma dan lebih besemangat tinggi. Jiwa-jiwa optimis mereka sebanding dengan tenaga yang masih powerfull. Memang, masih banyak saja mereka yang sudah tua namun berjiwa muda. Akan tetapi, keterbatasan di masa senja jauh lebih terasa dari pada masa muda, baik itu dari segi fisik atau psikisnya. Di samping sisi-sisi positif yang melekat pada anak muda, ternyata ada pula problema parah yang dapat menghancurkan masa depan mereka. Bila tidak disikapi secara bijak, tepatnya pada aspek mental atau psikis.

Jika berbicara tentang aspek psikis pemuda, pertama kali yang ada dibenak kita pasti mengarah kepada persoalan tentang asmara. Atau dilema, cemburu dan entah apapun sejenisnya yang berbau-bau cinta. Memang benar, pada masa muda seseorang sering mengalami problematika tersebut. Bahkan ada saja dari kaum muda bersedia diperbudak cinta yang berujung penghianatan. Itu tandanya, emosi pada masa muda ini masih cenderung labil.

Bahkan, dalam kamus anak muda sekarang ini sedang nge-trend dengan istilah-istilah unik, seperti “bucin” (budak cinta), “baper” (terbawa perasaan) dan sebagainya. Mengapa bisa muncul istilah-istilah tersebut? Bucin menjadi istilah yang lekat dengan sikap mabuk cinta yang dialami oleh seorang muda sehingga dia rela melakukan segala-galanya untuk sang kekasih.Sedangkan, Baper maknanaya mudah memasukkan segala perkataan kedalam hati.

Say No to Baper!

Baper yang biasa terjadi pada seseorang, terlebih kaum muda identik dengan cinta-cintaan. Misal saja ketika chatting-an sama do’i, digombalin sedikit langsung meleleh dan terkadang sampai senyam-senyum sendiri. Sehingga membuat orang lain terheran penasaran. Di samping perihal gombalan cinta, ternyata istilah Baper juga tersemat kepada seseorang yang mudah tersinggung. Tersinggujg terhadap kata-kata yang kurang menyenangkan dari orang lain, yang mana kata-kata nyelekit tersebut itu ditujukan kepada dirinya. Hal ini tentu sangat berpengaruh dengan sikap yang harus kita ambil. Apakah kita akan membalas keburukan dengan keburukan? Ataukan kita bisa menepis emosi negatif dan akan menunjukkan versi terbaik dari diri kita dengan penuh kebijaksanaan.

Baca Juga  Nizam Al-Mulk: Pasar Ada Untuk Melayani Kebutuhan Konsumen

Apabila cemoohan tersebut berhasil membuat kita patah dan jiwa kita lemah, artinya kita masih perlu banyak berusaha untuk bisa menentukan jati diri kita yang sebenarnya. Sikap menjadi salah satu tolok ukur dari seberapa bijaknya seseorang menghadapi problema hidup. Agar seseorang tidak mudah terseret arus yang melemahkan. Sehingga masuk kedalam pemikiran liar yang menjerumuskan kedalam jurang kehancuran. Maka sebagai pemuda tangguh hendaklah kita menyelam kedalam lautan ilmu dan hikmah agar mendapat solusi dari problema yang sedang kita alami. Dalam ilmu psikologi, dikenallah sebuah teori yang relevan dengan hal tersebut, yaitu teori “Self-efficacy”.

Apa itu Self-efficacy?

Istilah Self-efficacy pertama kali dicetuskan oleh seorang psikolog asal Kanada, Albert Bandura. Menurut beliau, pengertian dari Self-efficacy ialah sebuah persepsi pada diri sendiri yang berkaitan dengan evaluasi pribadi, tentang seberapa bagus diri sendiri dapat berfungsi dalam menghadapi situasi tertentu. Dari sini, seseorang dituntut untuk menjadi pribadi yang terkontrol. Merenungkan kembali tentang kualitas diri dan berusaha memacunya agar terus melakukan yang terbaik untuk mendapat hasil terbaik pula. Lebih tepatnya, “Berproses sambil Berprogres”.

Beliau juga mengungkapkan bahwa faktor yang dapat mempengaruhi Self-efficacy ialah Budaya dan Gender. Pengaruh dari budaya kental kaitannya dengan sistem kepercayaan yang ada pada kebudayaan tersebut. Sedangkan pengaruh gender lebih menyinggung pada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Terkadang, seseorang hanya sibuk berkutat dalam lingkaran perbedaan yang seakan-akan dianggap sebagai kutukan. Dengan segala alasan gender, mereka merasa pesimis dan minder, padahal dengan perbedaan tersebut justru akan menciptakan sebuah harmoni yang indah. Karena sejatinya, Tuhan tidak pernah salah. Tuhan menyelaraskan segala komponen yang ada di dunia ini dan membuatnya semakin keren dan serasi walau dalam perbedaan. Maka, kita harus lebih percaya diri dengan apa adanya kita.

Baca Juga  Akal dan Wahyu Itu Pasangan Serasi

Go Berperan!

Menjadi pemuda yang hebat tidak dapat dilakukan secara instan. Semua membutuhkan proses dan keyakinan untuk mencapai hasil yang luar biasa. Para pemuda harus menyadari betapa pentingnya peran mereka dalam hidup ini, terutama dalam membangun megahnya mahligai peradaban. Berkarya, tak hanya berlaku untuk mereka yang kaya lagi sempurna. Bahkan, dunia telah menunjukkan kepada kita orang-orang hebat tanpa fisik sempurna. Akan tetapi mampu menyodorkan karya terbaik mereka yang tidak main-main, bagaimana dengan kita?

Misalnya saja Nick Vujicic, seorang motivator luar biasa dari Negeri Kanguru, Australia. Walaupun perjalanan menuju kesuksesan yang ia capai tidak semulus yang dibayangkan, penuh dengan cemoohan, hinaan serta hujatan. Akan tetapi berkat mental baja yang ia miliki, ia pun tak mampu bangkit dari keterpurukan dan bahkan berhasil menjadi salah satu dari berderet-deret tokoh pengukir sejarah dunia yang sangat menginspirasi. Tentunya masih banyak orang-orang hebat yang tak mungkin bisa dicantumkan satu per satu.  Maka sobat, salah satu kuncinya adalah “No Baperan, Go Berperan!” Karena semua orang berhak untuk bermimpi dan menunjukkan karya terbaik mereka kepada dunia.

Penyunting: Ahmed Zaranggi Ar Ridho