Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Analisis Lafal Al-Furqan dalam Al-Qur’an

furqon
Sumber: istockphoto.com

Lafal al-furqan berasal dari bahasa arab yang berasal dari kata kerja fa-ra-qa, yang berarti memisahkan antara perkara yang benar dan yang salah. Dalam kitab “al-Mausu’ah al-Qur’aniyah al-Muyassarah” lafal furqan diartikan sebagai memisahkan antara sesuatu. Lafal al-furqan ini merupakan bentuk masdar dari akar kata fa-ra-qa, sehingga jadilah lafal furqanan.

Makna Al-Furqan

Secara etimologi al-furqan berati pemisah atau pembeda. Sedangkan secara terminologi berarti pemisah atau pembeda yang memisahkan antara yang benar dan yang salah, atau memisahkan antara yang halal dan yang haram. Jika kita telisik lebih dalam lagi yaitu dalam kamus al-Muhit lafal al-furqan memiliki banyak arti, diantaranya ialah kitab al-Qur’an, pertolongan, bukti, subuh, menampakkan yang benar, anak laki-laki, kitab taurat, dan membelah laut. Sedangkan di dalam kitab “al-Wujuh wa an-Nadhair fii al-Qur’ani al-Kariim” disebutkan bahwa lafal al-furqan di dalam al-Qur’an memiliki tiga penafsiran, yaitu pertolongan (النصر), jalan keluar (المخرج), dan al-Qur’an (القر آن).

Penyebutan Al-Furqan

Lafal al-furqan ini disebutkan di dalam al-Qur’an sebanyak enam kali, yaitu sebagai berikut:

وَاِذْ اٰتَيْنَا مُوْسَى الْكِتٰبَ وَالْفُرْقَانَ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan kepada Musa Kitab dan Furqan, agar kamu memperoleh petunjuk.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 53)

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Artinya: “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 185)

Baca Juga  Amanat Allah Untuk Manusia dalam QS. Al-Ahzab Ayat 72

مِنْ قَبْلُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَاَنْزَلَ الْفُرْقَانَ ەۗ اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيْدٌ ۗوَاللّٰهُ عَزِيْزٌ ذُو انْتِقَامٍۗ 

Artinya: “Sebelumnya, sebagai petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al-Furqan. Sungguh, orang-orang yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh azab yang berat. Allah Mahaperkasa lagi mempunyai hukuman.” (Q.S. Ali Imran [3]: 4)

 وَاعْلَمُوْٓا اَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَاَنَّ لِلّٰهِ خُمُسَهٗ وَلِلرَّسُوْلِ وَلِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِ اِنْ كُنْتُمْ اٰمَنْتُمْ بِاللّٰهِ وَمَآ اَنْزَلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعٰنِۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Artinya: “Dan ketahuilah, sesungguhnya segala yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil, (demikian) jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. al-Anfal [8]: 41)

وَلَقَدْ اٰتَيْنَا مُوْسٰى وَهٰرُوْنَ الْفُرْقَانَ وَضِيَاۤءً وَّذِكْرًا لِّلْمُتَّقِيْنَ ۙ

Artinya: “Dan sungguh, Kami telah memberikan kepada Musa dan Harun, Furqan (Kitab Taurat) dan penerangan serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. al-Anbiya [32]: 48)

تَبٰرَكَ الَّذِيْ نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلٰى عَبْدِهٖ لِيَكُوْنَ لِلْعٰلَمِيْنَ نَذِيْرًا ۙ

Artinya: “Mahasuci Allah yang telah menurunkan Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia).” (Q.S. al-Furqan [25]: 1)

Penggunakan isim ma’rifat dari keenam lafal al-furqan tersebut menandakan bahwa objek penerima dari sesuatu itu sudah diketahui, seperti Nabi Muhammad, Musa dan Harun. Sebenarnya ada juga yang menggunakan isim nakirah, akan tetapi tidak masuk dalam pembahasan kali ini, yaitu terdapat pada QS. al-Anfal ayat 29 dengan redaksi sebagai berikut:

Baca Juga  Pakaian Menutup Aurat dalam Perspektif Al-Qur'an

يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَتَّقُوا اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّكُمْ فُرْقَانًا وَّيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil) kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Allah memiliki karunia yang besar.” (Q.S. al-Anfal [8]: 29)

Jika kita analisis dari keenam lafal al-furqan tersebut, maka keenam lafal tersebut akan berhubungan dengan lafal-lafal berikut yaitu nazzala, anzala dan ata. Nazzala berasal dari lafal nazala yang artinya turun, kemudian diikutkan wazan fa’ala (فعّل) dengan menambah ain fiil yang sama menjadi nazzala yang berarti turun secara bertahap atau berangsur-angsur. Kemudian lafal anzala yang berasal lafal nazala yang diikutkan wazan af’ala (أفعل) dengan menambah hamzah di awal lafal menjadi anzala yang berarti turun secara utuh. Dan yang terakhir ialah lafal ata yang mempunyai arti datang.

Editor: An-Najmi