Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Refleksi: Keramahan Sebagai Bentuk Pengejawantahan Muru’ah

Muru’ah
Gambar: https://suaramuhammadiyah.id

Konsep keramahan merupakan bentuk pengejawantahan atas sikap (akhlak) yang ada pada diri muslim. Disebabkan ia telah mendapat petunjuk (hidayah) dari-Nya. Terlepas dari bagaimana proses mendapatkan petunjuk tersebut, para ulama dan ahli tafsir membedakan hidayah ke dalam empat tingkatan. Hidayah pertama berupa naluri, tingkat kedua berupa pancaindra, tingkat ketiga berupa akal, dan tingkat keempat adalah agamaatau din (Ahmad Sutarmadi, 1999, h. 2–7).

Macam-Macam Hidayah

Hidayah pada tingkat pertama sangatlah terbatas perannya bagi kehidupan manusia. Demikian juga panca indra, kemampuannya minim sekali untuk melihat dan mengamati benda (fisik), apalagi untuk melihat dan menjangkau hal yang metafisik. Bumi yang menurut penglihatan pancaindra terhampar, sebenarnya adalah bulat. Bintang yang kelihatannya kecil, adalah lebih besar dari planet bumi. Itulah di antara kelemahan panca indra.

Dengan hidayah Allah berupa akal, manusia mampu mengolah dan mengembangkan informasi yang diperoleh pancaindra menjadi ilmu pengetahuan, yang pada gilirannya melahirkan teknologi. Memang sungguh mengagumkan apa yang dihasilkan oleh ilmu dan teknologi dewasa ini.

Berkat teknologi di bidang transportasi dan informasi, dunia pun menjadi semacam “desa kecil”, memperpendek jarak dan waktu hubungan antar masyarakat di berbagai belahan dunia. Inilah yang disebut dengan era globalisasi, dengan segala kemudahan dan masalahnya bagi kehidupan manusia.

Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berdampak negatif, bukan berarti kita menafikan dan memusuhi akal. Karena akal merupakan hidayah dari Allah. Bahkan, dalam Al-Qur’an dan hadis banyak kita temukan anjuran untuk menggunakan akal pikiran sebagai alat untuk memikirkan dan mengelola alam semesta ini.

Tetapi, akal pikiran itu harus dibimbing dan berpedoman pada agama sebagai sumber moral dan pedoman hidup manusia. Tanpa bimbingan agama, akal pikiran dengan ilmu dan teknologi yang dihasilkannya tidak akan membawa rahmat, malah bisa jadi membawa bencana.

Baca Juga  Empat Klasifikasi Anak dalam al-Quran

Oleh karena itulah, manusia membutuhkan petunjuk lain yang melebihi petunjuk akal –sekaligus sebagai petunjuk keempat– yang meluruskan kekurangan dan kelemahan akal, yaitu hidayah agama.

Jika Seseorang Telah Meraih Hidayah Agama

Jika seseorang telah sampai pada tingkat perolehan hidayah agama, maka sikap dan perbuatannya akan terkendali melalui norma-norma agama. Kemudian, sikapnya tersebut akan melahirkan akhlak mulia sebagaimana yang diajarkan oleh agama.

Akhlak mulia, atau moralitas sendiri merupakan salah satu esensi dari muslim yang hendaknya setiap jiwa memperhatikan betul mengenai hal ini. Sebagaimana disebutkan dalam beberapa riwayat berikut :

ما شىء اثقل فى ميزان المؤمن يوم القيامة من خلق حسن وان الله ليبغض الفاحش البذىء

Bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih berat bagi timbangan amal seseorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik. Sesungguhnya Allah membenci seorang yang keji dan senonok” (Sunan Tirmidzi, Juz 6, hlm. 213).

ان من احبكم الي واقربكم مني مجلسا يوم القيامة احاسنكم اخلاقا

Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya dari sisiku pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya di antara kalian” (Ihya’ Ulumiddin, 3/51).

انما بغثت لاتمم مكارم الاخلق

Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak” (Ihya’ Ulumiddin, 3/49).

Muru’ah

Pada akhirnya, jika seseorang telah mencapai tingkat hidayah agama dan memiliki akhlak yang mulia. Maka ia pasti menjadi seorang yang ramah dan penuh kasih sayang. Dan hal inilah yang biasa disebut dengan sikap muru’ah. Sebagaimana perkataan dan anjuran para ulama mengenai muru’ah, yakni Jadilah engkau seorang yang memiliki sikap muru’ah, karena sikap muru’ah adalah bagian dari adab(M. Ali Ghanim Ath-Thawil, 2005, h. 25).

Baca Juga  Urgensi Musyawarah Dalam Perspektif Al-Qur’an

Muru’ah dalam lisan adalah berbicara dengan manis, lemah lembut, dan baik serta membasahinya dengan zikrullah. Muru’ah dalam akhlak adalah dengan berlapang dada dan bersikap ramah kepada orang yang dicintai dan yang dibenci. Sementara muru’ah dalam harta adalah mendistribusikan harta secara tepat ditempat-tempat yang terpuji, baik menurut akal, kebiasaan, maupun syariat. Muru’ah dalam kedudukan adalah mencurahkan pertolongan kepada yang membutuhkan dan tidak terlena dengan kedudukannya.

Kemudian muru’ah dalam kebajikan adalah dengan menyegerakan, memudahkan, dan melimpahkan kebajikan serta tidak memandang kebajikan itu pada saat melakukannya dan melupakan kebajikan itu setelah melakukannya. Sedangkan muru’ah dalam meninggalkan hal-hal yang dilarang yakni seperti meninggalkan permusuhan, caci-maki, perdebatan, dan pertentangan. Muru’ah dalam dakwah yakni dengan menghormati yang tua dan menyayangi yang lebih muda atau kecil.

Refleksi tentang Muru’ah

Sebagaimana hikmah dari orang terdahulu, orang yang cerdas adalah orang yang mengetahui siapa dirinya dan siapa Tuhannya. Perlu kiranya setiap manusia yang cerdas, terutama bagi setiap muslim, agar memerhatikan seluruh rangkaian kegiatan keseharian. Demi menyongsong hari kemudian yang tidak aka ada satupun manusia dapat menolong sesamanya, melainkan sibuk dengan urusan pribadi masing-masing.

Sebelum keadaan merugi selamanya, maka memanajemen diri sebagai bentuk keramahan dalam hal beragama adalah kewajiban untuk menertibkannya. Berawal dari aktivitas bangun pagi yang penuh berkah sampai dengan akan tidur kembali di malam hari, dengan harapan mendapatkan ridho-Nya, agar dijadikan berkah di setiap aktivitas.

Oleh karena itu, dengan jalan meneladani Rasulullah ﷺ melalui petunjuk Al-Qur’an serta sunnah beliau dalam hal keramahan, merupakan bentuk persaksian sejati bagi seorang muslim agar selamat dan senang di dunia maupun kelak di akhirat.

Baca Juga  Semantik Al-Quran: Makna Dasar dan Relasional Itsmun

Penyunting: Bukhari