Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Ramadhankan Hati di Bulan Suci Ramadhan

Sumber: istockphoto.com

“Yaa Allaah, anugerahkanlah kepada kami, keberkahan dan kekuatan untuk dapat melaksanakan Ibadah Puasa di Bulan Ramadhan 1444 H dengan sebaik mungkin. Sehingga kami dapat menggapai derajat ketakwaan di sisi-Mu. Yaa Allaah, mohon Engkau Ramadhankan hati kami, pikiran kami, perasaan kami, jiwa kami, raga kami, ruhani kami, dan jasmani kami. Karena sungguh, kami ingin menggapai-Mu dalam kedekatan lahir batin dengan-Mu yaa Rabbanaa. Aamiin Yaa Rabbal ‘aalamiin.”

Kita mengetahui bahwa Ramadhan memiliki dua dimensi ibadah dan manfaat, yaitu: dimensi fisik dan metafisik, dimensi lahir dan batin, dimensi jasmani dan ruhani. Ibarat makanan, puasa itu berguna untuk asupan tubuh karena menyehatkan, serta bermanfaat untuk asupan batin karena menenangkan dan membahagiakan.

Karena itu, Rasulullah Saw., pernah bersabda: Li al-sha’imi farhatani; farhatun ‘inda al-iftar, wa farhatun ‘inda liqa’I Rabbihi (Bagi orang yang berpuasa itu ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka puasa, setelah tubuh menahan dahaga dan lapar, ketika berbuka sirnalah rasa haus dan lapar itu; dan bahagia ketika berjumpa Tuhannya. Karena Tuhannya yang akan membalas langsung pahala puasa itu).

Makna Kata Ramadhan

Puasa itu menyehatkan lahir batin. Puasa itu menenangkan lahir batin dan menentramkan lahir batin yang dilaksanakan di bulan Ramadhan. Ada rahasia tersembunyi di dalamnya. Rahasianya terletak pada kata Ramadhan serta Shiyam dan Shaum.

Ramadhan secara bahasa berarti membakar. Ramadhan bermakna pemurnian dengan cara memanaskan benda pada kadar panas tertentu. Apa yang dibakar? Yang dibakar ada dua. Zat-zat makanan tak berguna pada tubuh kita. Dengan berpuasa diperbaharui, menjadi saripati makanan yang telah tersaring menjadi asupan makanan bergizi yang bermanfaat untuk tubuh. Perut kita menjadi mudah beradaptasi. Pencernaan kita menjadi sehat. Padahal pangkal penyakit ada pada perut. Sehingga, ketika perut dan pencernaan kita terlatih dengan baik, maka tubuh kita akan menjadi sehat paripurna.

Baca Juga  Dimensi Puasa: Saleh Sosmed, Ritual Hingga Sosial.

Ada penelitian menyatakan bahwa kesesuaian porsi makanan yang diasup oleh tubuh membuat tubuh kita tidak berat dalam mencerna makanan. Sehingga, metabolisme tubuh kita menjadi sehat dan tidak berat menyangga makanan. Disebutkan dalam penelitian ini bahwa keteraturan makanan telah membuat tubuh kita menjadi awet muda. Kenapa, karena tubuh dan terutama perut kita tidak terkontaminasi oleh makanan yang berat untuk dicerna oleh tubuh kita sendiri. Jadi, Ramadhan yang dibakar adalah lemak jahat. Yang dibakar adalah makanan jahat yang secara gizi tak berguna untuk tubuh kita. Yang dibakar adalah mekanisme makanan yang masuk ke dalam tubuh, dibuang dan disaring yang tidak bermanfaat untuk tubuh. Maka berpuasa di bulan Ramadhan memang sangat menyehatkan.

Ramadhan juga bermakna membakar. Ramadhan bermakna pemurnian dengan cara memanaskan benda pada kadar panas tertentu. Pande besi atau logam mulia, ketika membuat perhiasan membutuhkan kadar panas tertentu agar dapat membuat perhiasan yang indah. Ramadhan adalah daya bakar yang pas untuk tubuh dan ruhani kita. Maka secara ruhani, Ramadhan melatih kita untuk menjalankan ibadah semaksimal mungkin. Kita dilatih melihat ke dalam diri sendiri. Apa tujuan hidup kita? Kenapa kita harus hidup? Kehidupan apa yang patut kita jalani sebagai hamba Tuhan?

Dimensi Spritual dan Jasmani di Bulan Ramadhan

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menegaskan tentang Ramadhan menyiapkan diri kita secara ruhani untuk dapat mengarungi hidup tidak sekedar berada dalam balutan materi duniawi. Tetapi, lebih dari itu, diri kita sejatinya berdimensi ruhani. Jika materi dunaiwi saja yang kita siapkan, tentu kita akan mengalami ketimpangan. Maka, yang perlu disiapkan juga adalah dimensi ruhani. Dimensi spiritual. Puasa ramadhan menyiapkan ruang untuk itu semua. Dimensi ruhani bermanfaat untuk mengisi dan mengarahkan hati, pikiran, dan perasaan kita menjadi terarah menuju keridhaan Allah Swt. Oleh karena itu, Ramadhan akan menjadikan kita sebagai insan mulia yang bertakwa, sama seperti pande logam mulia, ketika membakar logam mulia, untuk dibentuknya menjadi logam yang benar-benar mulia.

Baca Juga  Merespon Generasi Z Ketika Berbicara Agama

Oleh karena itu, puasa dalam bahasa Arab memiliki dua isim masdar yang berbeda implikasi maknanya. Shiyam, berpuasa secara fisik, secara jasmani. Menahan makan, minum, berhubungan suami istri, yang secara fisik dilakukan, dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Ini adalah kewajiban shariatnya. Seperti tercantum dalam QS. Al-Baqarah: 183.

Di atas itu, ada etika puasa. Puasa yang tidak sekedar fisik. Yakni ruhani kita yang berpuasa. Hati dan pikiran kita yang berpuasa. Hati dan pikiran yang berpuasa untuk mengendalikan diri dari berbicara yang tak berguna. Puasa dalam bentuk ini adalah puasa dengan isim masdar shaum. Seperti yang dilakukan oleh Sayyidah Maryam yang berpuasa bicara. Seperti tercantum dalam QS. Maryam: 26.

Jadi, berpuasa Ramadhan itu berpuasa untuk membakar apa yang tak bermanfaat dalam tubuh kita, sehingga tubuh kita menjadi sehat paripurna, dan awet muda. Juga untuk membakar hawa nafsu, agar kemurnian ruhani dapat kita gapai dalam derajat takwa. Berpuasa juga bermakna shiyam, yang berrarti berpuasa secara dimensi shariat. Berpuasa bermakna shaum, yang bermakna berpuasa yang berdimensi spiritual.

***

Akhirnya yaa Allaaah, Mohon Ramadhankan hati, pikiran, dan perasaan kami. Sehingga kami dapat menggapai keridhaan-Mu dalam derajat takwa. Aamiin.

Ramadhankan hati kami di bulan suci, ratunya bulan, bulan yang dikeramatkan, bulan ampunan Allah Swt., Tuhan alam semesta alam, bulan diturunkannya kitab suci Nabi akhir, al-Qur’an yang mulia.

Ramadhankan hati dan pikiran kami, untuk selalu bertadarrus kalam-Mu. Bersedekah terbaik dengan harta benda yang Engkau titipkan kepada kami.

Ramadhankan hati dan pikiran, dalam kelanggengan cinta dan kasih sayang yang abadi, di bawah panji persaksian syahadat kepada-Mu sebagai Tuhan yang Maha Esa, dan syahadat kepada Rasul-Mu sebagai utusan akhir zaman, yang diutus oleh-Mu untuk menyempurnakan Akhlak yang mulia.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah 183: Puasa Kendaraan Menuju Taqwa

Editor: An-Najmi

Penulis adalah Mahasiswi STIQSI Lamongan, Anggota Epistemic Community of STIQSI (ECOMS) dan Guru Abdi di Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan.