Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

QS. Al-Hadid 20 : Hedonisme Antara Gengsi atau Fungsi?

Hedonisme
Gambar: dictio.id

Sejak pandemi Covid-19 menyebar di Indonesia terhitung dari tanggal 2 Maret 2020 yang lalu. Tentu memberikan perubahan terhadap aktivitas masyarakat sebelum maraknya virus membahayakan ini (Covid-19). Aktivitas masyarakat yang awalnya berjalan seperti biasa tanpa ada skat dan batasan justru berubah pada jejaring media online.

Mobilitas masyarakat seperti ini justru mengagetkan khalayak. Bagaimana tidak? Semuanya berubah dengan begitu masif dan cepat tanpa persiapan yang belum matang namun, keputusan harus diambil dengan cepat.

Kegiatan yang berbasis online atau daring justru meramaikan dunia media sosial (medsos) berbagai dinding media sosial yang ada kini diramaikan dengan video-video pendek dan juga foto dengan kualitas yang bagus dan terbaik. Media sosial pun merespon pasaran yang ada dengan fitur reels, TikTok, Snakvideo dan masih banyak lainnya.

Masyarakat Kita dan Gejala Hedonisme

Kualitas video dan foto yang baik lahir dari rahim smartphone yang baik pula. Meski smartphone yang mempunyai spesifikasi yang baik dibandrol dengan harga yang mahal justru tidak mengurangi hasrat netizen untuk membelinya. Tindakan yang seperti menjamur di kalangan netizen baik di kalangan menengah ke bawah dan menengah ke atas.

Sehingga kadang-kadang terkesan berlomba-lomba untuk membeli barang (smartphone) yang menghasilkan foto atau video terbaik tersebut. Bahkan akhir-akhir lagi marak berita tentang penyewaan Hp atau smartphone branded online yang cukup menggiurkan bagi yang belum mampu membelinya.

Di sisi lain, hasrat membeli barang branded hari-hari ini tidak hanya berfokus pada smartphone. Namun, barang-barang branded baik tas, outfit, aksesoris dan lainnya juga mewarnai perilaku netizen saat ini. Gaya perilaku hidup ini sering disebut dengan hedon atau hedonisme. Perilaku ini tidak hanya pandangan bersenang-senang belaka, tetapi memiliki ciri-ciri khusus diantaranya: tidak pernah merasa puas, berprilaku konsumtif serta mendatang sifat pamer dan sombong.

Baca Juga  Tak Sekadar Makan: Kembali ke Makna Walimah dalam Al-Qur’an

Hedonisme ini tentu memiliki beberapa faktor penyebab gaya hidup hedonis baik secara internal dan eksternal. Faktor-faktor yang melatarbelakangi hedonisme setidaknya adalah faktor pribadi, faktor keluarga, dan terkahir paling penting adalah faktor lingkungan sosial. Ketiga faktor tersebut harus lah menjadi konsep daripada individu masing-masing sebab budaya hedonisme itu akan memberikan kecacatan yang berkepanjang baik secara financial maupun psikologis.

Hedonisme dalam Tinjauan QS. Al-Hadid Ayat 20

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗوَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ.

Artinya: Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.

Ar-Razy dalam tafsirnya Mafatihul Ghaib menjelaskan ayat ini, bahwa kenikmatan yang hakiki adalah kehidupan. Namun perlu kehidupan yang merepresentasikan sebuah ketaatan terhadap sang khaliq. Bukan mengedepankan hawa nafsu dan bisikan setan karena itu merupakan kehidupan yang madzmum (tercela).

Di sisi lain, Al-Baghawi menafsirkan ayat ini dengan mengarahkan kepada janganlah seseorang di antara kalian terpengaruh daripada kemewahan yang ada di dunia ini. Hal itu dikarenakan kemewahan yang terdapat di dunia hanyalah halusinasi nikmat yang tidak baqa’ dan tak ada habisnya.

Zamakhsyari dalam tafsirnya Al-Kasyaf justru memberikan gambaran terhadap perilaku yang dilakukan di dunia berbeda dengan gambaran di akhirat. Gambaran tentang perhiasan, kemewahan, serta berpoya-poya di dunia, itu hanya lah nikmat yang sia-sia.

Baca Juga  Kalimatun Sawa: Pandangan Al-Quran tentang Keberagaman Agama

Pasalnya, ketika seseorang di akhirat gambarannya adalah pertanggung jawaban atas segala perilaku yang telah dilakukan selama di dunia yang nantinya akan mendapatkan azab atau keridhoa’an sang ilahi.

Hendaklah Bersikap Sederhana

Rosulullah Saw sebenarnya seorang yang kaya raya. Namun ia memberikan qudwah shalihah (suri tauladan)  bagi seluruh khalayak hingga hari ini. Kesederhanaannya beliau justru harusnya diadopsi semua khalayak. Beliau dalan bergaul tidak pernah mengedepankan gengsi dengan memperlihatkan kekayaannya beliau.

Justru anugerah dari Allah itu beliau lebih banyak membantu sesama umat manusia lainnya bahkan dalam sebuah riwayat beliau menjadi sosok yang tak pernah hitung-menghitung dalam memberi.

Akhirnya penulis ingin mengutip syair yang cukup masyhur yang artinya: sebaik-sebaik perkara ialah yang berada pada pertengahannya (yang sederhana). Sederhana bukan berarti tidak mampu, tidak berduit atau lainnya, tetapi sederhana hakikatnya pada memprioriraskan fungsi daripada gengsi.

Gengsi tidaklah harus dikedepankan demi hanya mendapatkan pengakuan dari banyak orang, buat apa mengedepankan gengsi jika financial akan sakit bahkan akan berimbas pada perut demo karena sakit. Wallahu A’lam

Penyunting: Bukhari

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir. Bisa dihubungi melalui: Twitter: @ayasriyan, Instagram: @ayasriyan