Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Penjelasan Di Balik Fenomena Rasm ‘Utsmaniy

rasm
Mushaf Tashkent (Sumber: Islamic Awareness)

Beberapa mahasiswa sering kali mengajukan pertanyaan terkait penjelasan di balik penetapan kaidah rasm ‘utsmaniy. Pertanyaan-pertanyaan ini barangkali muncul seiring dengan banyaknya kaidah penulisan dalam rasm yang ‘cukup berbeda’ dengan kaidah penulisan Arab konvensional yang kemudian menimbulkan rasa penasaran.

Para ulama sendiri mengalami perbedaan pendapat dalam memberikan penjelasan di balik fenomena penetapan kaidah-kaidah rasm. Ada setidaknya tiga pendapat yang dapat dikemukakan dalam masalah ini. Ada yang menyebut dengan istilah ‘illah, ada yang menyebut dengan hikmah, dan bahkan ada yang menganggap rasm sebagai sebuah kesalahan penulisan.

‘Illah di balik Rasm ‘Utsmaniy

Penggunaan kata ‘illah  mungkin kurang begitu tepat diterapkan berkaitan dengan penetapan kaidah rasm. Hal ini dikarenakan ‘illah yang berarti alasan meniscayakan adanya penjelasan sebelum peristiwa tersebut terjadi. Sedangkan dalam konteks rasm, penjelasan ini justru dimunculkan setelah peristiwa tersebut terjadi.

Meskipun demikian, beberapa dari ulama dan pakar rasm dalam beberapa karyanya tampak memberikan beberapa penjelasan dari sebuah kaidah penulisan yang terkesan memberikan alasan (ta‘lil). Abu ‘Amr al-Daniy (w. 444 H./1052 M.) misalnya dalam karyanya Al-Muqni‘. Atau Al-Mahdawiy (w. 440 H./1038 M.) dalam karyanya Hija’ Mashahif al-Amshar, serta beberapa penyarah kitab Al-‘Aqilah karya Al-Syathibiy (w. 590 H./1194 M.) dan Maurid al-Dham’an karya Al-Kharraz (w. 718 H./1218 M.).

Ta‘lil yang diberikan umpamanya dengan mengatakan bahwa penulisan alif dalam bentuk ya’ (ى) yang disebabkan adanya fungsi imalah. Penulisan hamzah dalam bentuk salah satu huruf ‘illah (و-ي-ا) atas dasar mempermudah (tashil). Atau penambahan salah satu dari tiga huruf ‘illah tersebut untuk kepentingan pembeda (li al-farq).

Baca Juga  Tingkatan Makna dalam Kajian Al-Quran

Menurut Ganim Qadduriy, ta‘lil semacam ini merupakan penjelasan yang paling ‘logis’ berkaitan dengan penetapan kaidah rasm. Ta‘lil semacam ini juga umumnya lebih didasarkan adanya unsur linguistik –lugah dan gramatikal- yang mengitari penetapan kaidah rasm. Meski menurutnya, landasan ta‘lil ini belum diketahui dengan jelas karena alasan yang telah penulis sebutkan sebelumnya.

Hikmah di balik Rasm ‘Utsmaniy

Menurut beberapa ulama dan pakar lain, redaksi yang lebih tepat diterapkan berkaitan dengan hal ini adalah hikmah. Hal ini seiring dengan adanya anggapan keberadaan sirr atau rahasia yang terkandung di balik setiap kaidah rasm yang ditetapkan. Selain itu, penjelasan yang muncul pasca terjadinya peristiwa tampak lebih logis jika dinamakan dengan hikmah, dan bukan ‘illah.

Pendapat hikmah ini sebagaimana diikuti oleh kebanyakan ulama kontemporer (al-‘ashr al-hadits) yang menganggap bahwa ta‘lil yang didasarkan unsur linguistik, kendatipun sangat logis diterapkan, tetap tidak dapat memberikan penjelasan yang memuaskan. Al-Farmawiy misalnya, memberikan contoh penulisan kata sa‘au (سعوا) yang ditulis dengan dua versi: menggunakan alif setelah huruf wawu pada Surah Al-Hajj [22] ayat 51 dan tanpa alif setelah huruf wawu pada Surah Saba’ [34] ayat 5.

Lebih jauh, Al-Farmawy dalam Rasm al-Mushhaf wa Naqthuh bahkan menghimpun sejumlah hikmah dari adanya penetapan kaidah rasm serta aplikasinya dalam penulisan Alquran. Di antaranya adalah ketersambungan sanad Alquran, mengetahui ragam wajah perbedaan qira’ah, dan penyeragaman mushaf Alquran.

Rasm ‘Utsmaniy Sebagai Kesalahan

Di luar dominasi dua pendapat ini, ta‘lil dan hikmah, penetapan kaidah rasm oleh beberapa ulama ada yang dianggap sebagai sebuah kesalahan penulisan. Pendapat ini didasarkan pada kaidah penulisan konvensional yang terbentuk belakangan (baca ulasan selengkapnya dalam Rasm ‘Utsmaniy antara Harus Dipertahankan atau Disesuaikan), yang menganggap tulisan (al-kitabah) sebagai upaya transkripsi yang mengedepankan kecocokan tulisan dan lafal.

Baca Juga  Selayang Pandang Imam Al-Suyuti dan Karyanya dalam Studi Qur'an

Pendapat ini sebagaimana diberikan oleh Ibn Qutaibah (w. 276 H.) dan Ibn Khaldun (w. 808 H.) yang bahkan menisbatkan terjadinya kesalahan dalam penulisan sahabat terhadap Alquran. Salah satu pernyataan yang masyhur diberikan Ibn Khaldun menyebutkan bahwa tulisan Arab (al-kitabah al-‘arabiyyah) pada masa kodifikasi Alquran -dari era Nabi Saw. hingga khalifah ‘Utsman- masih berada pada tahap awal pembentukan (al-thufulah wa al-takwin). Oleh karenanya dianggap sebagai produk tulisan yang belum cukup matang.

Namun pendapat terakhir ini mendapatkan kecaman dan tanggapan yang cukup keras dari para ulama. Hal ini dikarenakan adanya penyematan kebodohan terhadap para sahabat atas upaya penulisan yang telah mereka lakukan. Sesuatu yang kontradiktif dengan penilaian terhadap para sahabat atas fashahah dan balagah yang mereka miliki.

Kesimpulan

Dari seluruh pendapat yang telah disebutkan sebelumnya, pendapat yang memilih hikmah sebagai penjelasan di balik rasm adalah pendapat yang sementara kini banyak dianut oleh ulama kontemporer. Sehingga tidak berusaha mencari alasan (‘illah) pasti atas penulisan rasm atau bahkan menganggap keliru penulisan yang ada. Wallahu a‘lam bi al-shawab. []

Penyunting: Ahmed Zaranggi