Jagongan (dibaca: nongkrong) atau dalam istilah keislaman tahaddust bil hikmah merupakan suatu tradisi yang tidak asing lagi di kalangan mahasiswa Jawa terkhusus Daerah Istimewa Yogyakarta tempat penulis saat ini berada. Suatu hari ketika saya menjalani aktivitas sepanjang hari di cafe yang terdekat dari kosan bersama-sama dengan teman seperjuang. Kegiatan kami tidak lain, selain menulis dan sharing pengalaman dan keilmuan melalui cerita yang dibungkus dengan candaan dan guyonan.
Pengalaman dengan Surat Yasin Ayat 82
Guyonan kami seakan-akan konyol dan tak berbobot. Namun, dengan pembacaan secara kritis kekonyolan kami jika dipikir secara kritis tentu mengandung suatu pesan yang tidak akan didapatkan di dalam bangku kelas maupun perkuliahan. Suatu hari kami membicarakan tentang “unforgettable memories” atau pengalaman yang tidak mudah untuk dilupakan. Seketika salah satu sahabat saya menceritakan pengalamannya yang bisa pada titik saat ini, berkumpul bersama temannya di bangku kuliah hanya bermodalkan QS. Yasin ayat 82.
Sebut saja namanya Yusril, pada awalnya ia begitu pesimis untuk melanjutkan sekolahnya ke bangku perkuliahan pasca tamat dari bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Faktor terbesar darinya bukan restu orang tua, atau kemampuan otaknya. Tetapi faktor utamanya yaitu faktor ekonomi. Bagaimana tidak, ia merupakan anak dari petani sawah yang berjuang di tengah terik matahari sepanjang harinya, dengan penghasilan yang pas-pas an. Belum lagi, ia mendapatkan berita yang hadir dari lisan ibunya yang berkakata “maaf nak, ibu dan ayahmu tidak bisa menyekolahkanmu ke perguruan tinggi (perkuliahan!)”. kata yang terdengar dari lisan sang ibu sontak bak tamparan keras yang membuat dirinya sesak nafas seketika itu juga. Bangku perkuliahan menurutnya sebuah posisi para akademis dan ilmuan dalam mendiskusikan berbagai macam khazanah keilmuan.
Dengan bermodalkan QS. Yasin ayat 82, Yusril kemudian menghadap ke beberapa tokoh masyarakat, kiyai dan guru-gurunya dengan mengharapkan arahan dan bimbingan terkait keinginannya untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Akhirnya, dari sowan ke beberapa tempat ada kata yang menginspirasinya untuk tetap melanjutkan keinginannya tersebut. Quote tersebut berbunyi: “Jika anda mempunyai keinginan kuat dengan melibatkan tuhan sebagai sandarannya, maka melangkahlah dan jangan ditunda-tunda.” Kemudian, quote itu dibawanya kepada orangtuanya guna dimusyawarahkan bersama keluarganya. Lalu keinginannya itu, disupport orangtuanya dengan memberikan ridho dan kepercayaan kepada Yusril untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi. Kemudian, Yusril akhirnya pamit lalu meninggalkan kampung halamannya.
QS. Yasin: 82 Buah Insprisasi dari Sifat Pesimis
Pengalaman Yusril kemudian berlanjut di bangku perkuliahan dengan mendapatkan beasiswa Bidikmisi hingga tamat mendapatkan gelar sarjana. Dia pun ikut berpartisipasi dalam beberapa kegiatan baik dari Intra maupun Ektra bahkan mendapatkan kesempatan untuk menjadi kesempatan menjadi delegasi dari berbagai forum Nasional maupun Internasional.
Adapun bunyi QS. Yasin ayat 82 :
إِنَّمَآ أَمْرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيْـًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ
Artinya: “Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.“
Berangkat dari cerita pengalaman Yusril tersebut, saya sontak berpikir begitu besar pengaplikasian dari seorang sahabat saya tersebut akan QS. Yasin ayat 82. Ayat ini mengjarkan sosok sahabat saya pesimisme terhadap ketentuan Allah Swt. Atau bahkan bisa jadi ayat ini mengajarkan akan kepercayaan ATM Allah akan diberikan kepada orang yang yakin akan perannya. Diksi kun fa yakun menurut M. Quraish Shihab dalam tafsirnya Al-Misbah merepresentasikan akan kekuasannya dalam mewujudkan akan ketidakmustahilan sesuatu di dunia maupun ukhrawi. Bahkan dalam tafsir Kementerian Agama menyatakan tidak hanya mewujudkan secara material tetapi termasuk dalam hal ini mematikan, menghidupkan, membangkitkan dan mengumpulkan.
Penjelasan Tafsir
Bahkan dalam refensi lainnya Tafsir Al-Wajiz Prof. Wahbah Az-Zuhaili mengatakan ayat ini sesungguhnya perintah Allah saat berkehendak menciptakan sesuatu itu hanya berkata kepadanya: Jadilah, maka terjadilah wujud ciptaan itu. Maknanya jika Dia menentukan sesuatu maka Dia akan memberlakukannya dengan sangat cepat. Begitulah kekusaan Allah yang tidak bisa dirumuskan secara matematis, karena hitungan Allah sungguh jauh berbeda daripada manusia.
Kisah ini, mungkin bagi beberapa kalangan hanya mendramatisir keadaan. Tetapi bagi saya pribadi begitu banyak cerita pengalaman yang sama dari berbagai kalangan. Artinya memang ketika kita melibatkan tuhan akan kejadian apapun justru akan diberi jalan keluarnya. Dalam ayat lain Allah bahkan menegaskan akan perannya untuk orang yang bertaqwa dan yakin kepadanya.
وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ.
Artinya: “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya diberi-Nya kelapangan dan diberi-Nya rezeki yang tidak diduga-duga. Siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya dijamin-Nya, sesungguhnya Allah sangat tegas dalam perintah-Nya dan Dialah yang mentakdirkan segala sesuatu.”.
Melalui kisah yang dilontarkan sahabat saya di atas, mengindikasikan akan optimisme dalam melalui bahtera kehidupan. Tidak hanya perkara menuntut ilmu yang dibiayai oleh Allah melalui ATM-nya, tetapi masih banyak lagi perkara lainnya yang akan dibiayai oleh Allah. Tingal balik lagi kepada keyakinan kita kepada Allah dan usaha keras kita.
Wallahu a’lam.


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.