Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Penghayatan Etis terhadap Konsep Ujian dalam Al-Qur’an 

ujian
Sumber: istockphoto.com

Apa maksud dari Al-Qur’an ketika menyatakan bahwa penciptaan dunia dan kehidupan adalah ujian? Respons seperti apa yang Al-Qur’an inginkan dari manusia dalam menghadapi ujian tersebut? Mengapa Tuhan menetapkan ujian bagi umat manusia? Apa kaitan antara dinamika kehidupan, keberadaan ujian, dan kondisi keimanan dan moralitas seseorang? Pertanyaan-pertanyaan demikian merupakan rangkaian pertanyaan yang mengitari benak saya ketika membaca ragam pernyataan dalam lembaran-lembaran Al-Qur’an yang menyinggung persoalan ujian.

Atensi utama dari tulisan ringkas ini adalah bagaimana pertanyaan di atas kita bicarakan melalui perspektif etika. Secara khusus, saya akan berupaya untuk menguraikan penghayatan saya ketika berinteraksi dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan ujian. Sebagai hasil dari penghayatan personal, saya tidak akan berpretensi menemukan makna yang sesungguhnya dari Al-Qur’an dengan mengklaim objektivitas, universalitas, dan kontekstualitas dari penghayatan saya. Kontras dengan itu, penghayatan ini merupakan ajakan bagi para pembaca agar memandang Al-Qur’an sebagai teks preferensi yang mengundang penghayatan personal, bukan sekadar “manual book” yang secara dingin mengatur ritme kehidupan seseorang!

Al-Qur’an, Ujian, dan Penilaian Moral Ilahi

Apabila kita menelusuri penggunaan Al-Qur’an, pengertian mendasar dari b-l-w adalah pengenalan dan penilaian yang cerdas. Menurut Q. 10:30, pada hari pembalasan, “setiap individu akan dinilai dengan apa yang telah mereka lakukan sebelumnya (ketika mereka hidup). Senada dengan itu, Q. 86:9 menguraikan penilaian terakhir Tuhan sebagai hari yang mana seluruh rahasia-nya akan Ia perkenalkan kepada semua ciptaan-Nya. Dalam Baṣā’ir Żawī al-Tamyīz, M. Ibn Ya’qub al-Fairuzabadi mengidentifikasi bahwa makna balā’, sebagai derivasi dari akar kata di atas, adalah imtiḥān wa ikhtibār (tes dan ujian).

Tatkala menguraikan visi teologisnya, Al-Qur’an dengan sangat tegas menyatakan bahwa Tuhan menciptakan dunia dan kehidupan dengan sungguh-sungguh (bi al-ḥaqq) (Q.14:19; 16:3; 30:8; 39:5; 45:22; 46:3; 64:3. Menurut penulis Ethical Theories in Islam, Majid Fakhry, penggunaan istilah ḥaqq, selain dapat kita terjemahkan sebagai kebenaran, juga mengandung konotasi keadilan. Dalam konteks itu, tindakan penciptaan Tuhan senantiasa akan berdasar pada, dan dituntun dengan, prinsip keadilan-Nya. Pada saat yang sama, Al-Qur’an juga menegaskan bahwa Tuhan tidak menciptakan dunia dan kehidupan secara sia-sia, tanpa tujuan, maupun untuk bermain-main belaka (Q. 3:191; 23:115; 38:27).

Bertolak dari latar belakang tersebut, penggunaan kata balā, ablā, dan ibtalā memainkan peran teologis yang sentral dalam mengartikulasikan vitalitas dari ujian dan penilaian moral bagi manusia dalam rancangan kosmos Ilahi. Dengan nada yang sangat eksplisit, Q. 67:2 menyatakan bahwa Tuhan menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji performasi moral manusia. Deklarasi serupa juga dapat kita temukan dalam Q. 11:7, di mana Al-Qur’an menghubungkan penciptaan bumi dan doktrin eskatologi dengan ujian moral bagi manusia. Sejalan dengan itu, afirmasi Al-Qur’an terhadap mandat kekhalifahan yang diamanahkan Tuhan bagi manusia (2:30) tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab moral yang mereka emban dan tugas-tugas etis yang mesti mereka realisasikan selama hidup di dunia (6:165).

Baca Juga  Menadaburi Al-Qur’an Secara “Fresh” ala Sayyid Muhammad Rida Al-Husaini

Implikasi dari penegasan penilaian moral ini adalah suatu afirmasi positif terhadap kebebasan manusia. Dengan mengakui keberadaan fakta-fakta moral, yaitu kebaikan dan keburukan, di dunia sebagai realitas yang eksis dan tidak bergantung pada emosi, pikiran, maupun subjektivitas individu, Al-Qur’an menegaskan bahwa umat manusia, sebagai peserta ujian moral Ilahi di dunia, diberkati kebebasan untuk memilih jalan kehidupannya (Q. 7:168; 21:35. Lihat juga Q. 18:29; 10:108; 91:8-10). 

Kebebasan Manusia sebagai Sarana Menavigasi Tujuan

Melalui eksaminasi detail terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, kita akan menemukan bahwa teks ini mengidentifikasi penggunaan kebebasan manusia sebagai sarana dalam menavigasi tujuan dari perjalanan spiritual-moralnya, demikian tulis Abdulaziz Sachedina dalam Islam & The Challenge of Human Rights. Atas dasar itu, Q. 5:48 kemudian mendorong umat manusia agar berlomba-lomba untuk mengaktualisasikan potensi moralnya secara maksimal dalam rangka mewujudkan kehidupan yang etis. Pada berbagai kesempatan, seperti dalam buku Islamic Ethics dan The Islamic Roots of Democratic Pluralism, Sachedina berkali-kali mengidentifikasi ayat ini sebagai basis pluralisme etis; pluralisme yang memotret bahwa tatanan moral universal berdasar pada rekognisi terhadap kondisi alamiah (fitrah) dalam diri semua manusia yang sanggup memformulasikan pengetahuan moral dan mewujudkan nilai-nilai kebaikan.

Kebebasan dan pengetahuan moral memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Sekaitan dengan ini, manusia dituntut untuk mengambil suatu keputusan etis, berdasarkan kehendak bebasnya, pada suatu situasi, kasus, maupun dilema moral tertentu berdasarkan pertimbangan rasionalnya. Tidak hanya itu, Al-Qur’an juga mendorong agar setiap individu senantiasa memastikan bahwa pilihan moral yang ia ambil merupakan keputusan terbaik di antara berbagai alternatif yang tersedia (aḥsan ‘amala). Tidak berlebihan jika penulis artikel What We Know about Maʿrūf, Kevin Reinhart, memosisikan panduan etis dalam Al-Qur’an sebagai principles; standar yang menuntut suatu obervasi rasional dari pembacanya karena berkaitan erat dengan nilai dan keutamaan moral.  

Tatkala mengomentari Q. 67:2, Mohsen Qera’ati dalam Tafsīr al-Nūr menulis, nilai moral dari suatu perbuatan terletak pada kualitasnya (al-kaifiyyah), bukan pada kuantitasnya (al-kammiyyah). Sejalan dengan itu, M. Husayn Fadhlullah dalam Min Waḥy Al-Qur’ān menafsirkan bahwa yang menentukan nilai dan kualitas etis dari suatu perbuatan adalah pada bagaimana seseorang dapat menjangkarkan keputusannya pada penalaran rasional-moral yang menjadi pengikat perbuatan tersebut. Dengan demikian, ujian Ilahi di muka bumi melayani suatu tujuan agung untuk mendorong moral progress kehidupan manusia dalam memaksimalkan performasi moral mereka; suatu bentuk performasi yang mesti memiliki penopang berupa kebebasan, kehendak, dan pengetahuan moral. 

Baca Juga  Peran Orang Tua dalam Pendidikan Moral Anak Perspektif Al-Qur’an

Ujian Moral: Dorongan untuk Mengafirmasi Kehidupan Secara Menyeluruh

Salah satu masalah krusial dari sejumlah rumusan teologi agama maupun konstruksi teori moral yang tersedia di hadapan kita hari ini adalah adanya suatu kecenderungan untuk menolak, bahkan memusuhi, kehidupan di dunia dalam rangka mengutamakan kehidupan di seberang sana (akhirat). Friedrich Nietzsche dalam Beyond Good and Evil menunjukkan dengan sangat baik bagaimana para filsuf dan penganjur kesalehan sejak di era klasik hingga zaman modern telah gagal mengajukan pandangan yang segar dalam menerima totalitas kehidupan. Di tangan orang-orang ini, filsafat, agama, dan moralitas justru berkontribusi besar dalam merusak nilai-nilai kehidupan dengan mempromosikan suatu dunia imajiner yang berada di atas, sekaligus terpisah dari, kehidupan aktual manusia.

Hal ini merupakan kenyataan yang sangat problematis, sebab manusia yang hidup di dunia justru menganut suatu nilai yang sama sekali tidak peduli pada kehidupan aktual mereka. Di sini, satu poin krusial dari Nietzsche yang perlu saya kemukakan adalah seruannya kepada kita semua, tak terkecuali bagi umat beragama, untuk merumuskan, menghayati, serta menghidupi suatu bentuk pandangan keagamaan dan moralitas yang mengafirmasi kehidupan secara total dan menyeluruh. Hal ini karena afirmasi tersebut mesti merekognisi secara penuh dualitas aspek, dimensi, dan daya dalam kehidupan kita—gelap-terang, rasionalitas-sentimentalitas, keteraturan-kekacauan, kehadiran-kealpaan, kebahagiaan-penderitaan, dan lain-lain.

Ujian Hidup dan Kultivasi Keutamaan Moral

Merujuk kepada salah satu pernyataan aforistisnya dalam The Will to Power, Nietzsche mengusulkan suatu desain filsafat, religiusitas, dan moralitas yang mengapresiasi kehidupan dengan segala dayanya tanpa eksepsi, seleksi, maupun substraksi. Ia menyebut formulasi tersebut sebagai “AMOR FATI”. Berhadapan dengan semangat zaman yang memandang kehidupan di dunia ini sebagai rendah, kotor, dan cacat sekaligus lebih mementingkan suatu tatanan dunia “ideal”. Afirmasi hidup ala Nietzsche mengingatkan kita untuk menerima, menghayati, dan menjalani kehidupan di dunia yang sesungguhnya dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab. Tidak hanya itu, afirmasi ini dapat menjadi suatu spirit etis yang akan mendorong pertumbuhan nilai-nilai kehidupan kehidupan kita secara positif.

Berkenaan dengan ujian hidup dan kultivasi keutamaan moral, terdapat sejumlah pernyataan dalam Al-Qur’an yang menegaskan bahwa dunia dan kehidupan secara konstan akan diwarnai oleh kebahagiaan (3:186; 89:15) dan penderitaan sekaligus. Dengan nada retoris, Q. 29:2 bertanya “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan “Kami telah beriman: dan mereka tidak diuji?”. Hamka, dalam Tafsir Al-Azhar, memaknai ayat ini sebagai istifhām inkārī, yaitu pertanyaan yang mengandung penyangkalan. Artinya, Tuhan tidak akan membiarkan seseorang mengaku beriman tanpa menempanya dengan ragam ujian. Maka dari itu, iman yang sejati adalah iman yang tangguh dan bertahan dalam menghadapi ujian hidup.

Baca Juga  Konsep Wahyu Menurut Abdullah Saeed

Al-Qur’an Mengajak Pembaca untuk Belajar

Merujuk kepada Q. 2:155, Al-Qur’an menyatakan dengan tegas bahwa Tuhan pasti akan senantiasa menguji manusia dengan kelaparan, kemiskinan, ketakuatan, dan kematian. Akan tetapi, Tuhan tidak memerintahkan kita untuk menghindari, menolak, apalagi menegasikan ragam pengalaman hidup yang membawa kemalangan itu. Sebaliknya, imperatif Al-Qur’an sangat tegas: tumbuhkan visi, pemahaman, dan sikap “sabar”! Berbeda dengan orientasi keagamaan yang begitu negatif terhadap pengalaman semacam ini, Al-Qur’an tampaknya mengajak pembacanya secara halus untuk belajar menjustifikasi setiap sisi kehidupan, bahkan terhadap sisi yang paling mereka benci (penderitaan).

Setelah membuka kamus Mufradāt Alfāẓ Al-Qur’ān karya al-Rāghib al-Iṣfahāni dan kitab tafsir al-Amṡal karya Naser Makarem Syirazi, saya menemukan bahwa term sabar mengandung konotasi makna “proses mengelolah diri (ḥabs al-nafs)” sekaligus “daya tahan, stablitas, maupun kekuatan jiwa (al-muqāwamah wa al-ṡabāt)”. Dari makna-makna tersebut, saya memahami bahwa bagi Al-Qur’an, ujian yang mendatangkan pengalaman pahit dalam kehidupan hidup mesti kita kelola sedemikian rupa, dengan bersabar, agar kita dapat bertumbuh menjadi pribadi yang lebih “kuat”, lebih “tangguh”, dan lebih “tinggi”. 

Ujian Adalah Tansformasi dan Perubahan

Yang menarik untuk kita catat adalah bahwa salah satu varian makna dari term ujian adalah transformasi dan perubahan. Untuk memperoleh nilai dan keutamaan tertentu, sebagaimana al-Muṣṡafawī mengidentifikasikannya dalam al-Taḥqīq fī Kalimāt Al-Qur’ān. Itu artinya, ujian yang seseorang respons secara memadai, melalui sikap sabar, akan mendatangkan suatu transformasi etis yang signifikan dalam diri. Atas dasar itu, tidak berlebihan jika nilai etis kesabaran dalam Al-Qur’an saya paralelkan dengan afirmasi positif Neitzsche, yaitu amor fati, terhadap kehidupan. Bersabar, dengan demikian, adalah menghadapi totalitas pengalaman hidup yang manis dan pahit dengan “IYA”.

Berdasarkan ulasan di atas, saya hendak menegaskan bahwa dalam Al-Qur’an, ujian memainkan peran sebagai medan etis. Medan etis ini jika kita hadapi dengan penuh kesungguhan, akan membentuk manusia-manusia tangguh, jujur, dan bertanggung jawab. Dalam konteks ini, Al-Qur’an menekankan bahwa eksistensi ujian moral bagi manusia adalah untuk mengidentifikasi individu-individu yang berkehendak kuat. Tidak hanya kuat tetapi juga berusaha keras (mujāhid) secara kontinu dalam menumbuh-kembangkan keutamaan etis (ṣābir). Kebahagiaan abadi, yakni surga dan perjumpaan dengan Tuhan, lantas dapat kita peroleh hanya apabila manusia berusaha untuk memikul segala segi dalam kehidupannya. Hal ini termasuk pengalaman hidup yang gelap, pekat, pahit, dan penuh derita. Semua itu dalam rangka menghidupi dan membelai kebenaran dan keadilan di Jalan Tuhan, demikian catat penyusun Tafsīr al-Kāsyif, Jawad Mughniyah.

Editor: Trisna Yudistira

Hermeneutician Thinker; Researcher at Odyssey Centre for Philosophy; Master at Interdisciplinary Islamic Studies UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.