Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Menadaburi Al-Qur’an Secara “Fresh” ala Sayyid Muhammad Rida Al-Husaini

Sumber: http://alfeker.net

Al-Qur’an dirasa tidak dapat menjadi titik transformasi masyarakat sebagaimana dulu di masa Nabi. Mengapa demikian, apakah kedudukan dan fungsi Al-Qur’an telah berubah dan berada di titik usang? Pertanyaan ini menjadi pembuka buku At-Tadabbur fi Al-Qur’an karya Ayatullah Sayyid Muhammad Rida Al-Husaini Al-Syirazi untuk menawarkan pembacaan yang fresh.

Sayyid Muhammad adalah seorang fakih dan ulama kelahiran Karbala, Irak pada tahun 1959 M. Ia merupakan anak dari Ayatullah Mirza Mahdi yang mengasuh, mendidiknya di masa kecilnya. Kemudian, ia berhijrah ke Kuwait dan beripindah ke Iran untuk berguru pada Ayatullah Wahid Khurasani sampai derajat mujtahid. Memiliki berbagai karya di bidang fikih, Al-Qur’an, akhlak, dan Sejarah Nabi. Wafat di tahun 2008 M di kota Qum, Iran sampai kemudian jasadnya dipindah ke Karbala.

Memahami Al-Qur’an secara “Fresh”

Kembali pada pertanyaan di awal, Sayyid Muhammad menjawab dengan tegas, bahwa yang berubah bukan Al-Qur’an, melainkan kaum Muslim yang berinteraksi dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an tetap senantiasa menjadi kitab petunjuk bagi manusia, hanya saja kaum Muslim tidak membacanya dengan komposisi yang tepat dan proporsional.

Ia menjelaskan bahwa kaum Muslim awal memahami Al-Qur’an sebagai kitab kehidupan dan pedoman untuk perbuatan praktis sehari-hari, sementara Muslim masa kini memahami Al-Qur’an secara berbeda 180 derajat.

Baginya, cara kaum Muslim berinteraksi dengan Al-Qur’an sangat beragam. Namun, ketidakseimbangan dan ketidakproporsionalan interaksi menjadi penyebab gagalnya menjadikan Al-Qur’an sebagai kitab transformatif bagi kehidupan kaum Muslim.

Bentuk Ketimpangan Interaksi dengan Al-Qur’an

Sayyid Muhammad memaparkan tujuh bentuk interaksi yang bersifat timpang. Alih-alih menjadikan Al-Qur’an kitab transformatif bagi umat, justru kontraproduktif dan mandek. Ia mengurai beragam bentuk beserta contoh yang boleh jadi kita menjadi bagian darinya.

Baca Juga  Islam Sangat Mendukung Kesetaraan Gender

Pertama, pembatasan interaksi. Ia menunjukkan adanya pembatasan interaksi dengan Al-Qur’an saja, seperti: hanya dijadikan pembuka pintu rezeki, media pengobatan, hanya bacaan istikharah, saat bepergiaan, atau saat ada seseorang yang meninggal dunia. Baginya, pembatasan ini akar masalah, seharunya menjadikan Al-Qur’an sebagai kitab kehidupan dari segala sisi, bukan sekadar satu atau dua sisi saja.

Kedua, bacaan literal. Interaksi yang hanya fokus pada tilawah, seperti membaca huruf tanpa makna, kalimat tanpa pemahaman. Baginya, ini bukanlah interaksi yang baik, karena mengabaikan langkah selanjutnya, yaitu: tadabur dan pengamalan ayat. Ketiga, perhatian sekunder. Maksudnya, ia menyinggung mereka yang mengkaji Al-Qur’an pada aspek yang tak menjadi tujuan utama, seperti hanya fokus mengkaji pada jumlah huruf, angka, tokoh nyata dalam kisah dan letak peristiwa, sementara mereka lupa untuk mengambil Pelajaran penting dari ayat.

***

Keempat, pemahaman parsial. Interaksi model ini hanya mengambil sebagian ayat untuk dipahami dengan mengabaikan ayat lain, dan keseluruhan ayat Al-Qur’an. Kelima, pemahaman tematik parsial. Gaya interaksi yang hanya fokus pada satu tema Al-Qur’an, seperti fokus hanya ibadah dan melupakan aspek sosial, politik, dan spiritual.

Keenam, pemahaman yang mati. Interaksi yang dimaksud adalah hanya mengkaji Al-Qur’an saja tanpa memberi pengaruh signifikan bagi pengkajinya. Ketujuh, pemahaman teoritis belaka. Seseorang hanya menjadikan bahan diskusi konseptual dan teoritis, bukan sebagai pondasi untuk mengamalkan kandungan ayat yang dipelajari.

Keseimbangan Membaca Al-Qur’an

Bagi Sayyid Muhammad, tujuh bentuk ketimpangan interaksi ini yang menghambat umat Muslim untuk mentrasnformasi kehidupannya. Jadi, untuk dapat memperoleh spirit revolusi dan pembebasan menuju kesempurnaan sebagaimana umat Muslim di masa Nabi, dengan menghindari tujuh interaksi yang timpang dan mengubahnya menjadi interaksi yang proporsional dengan tadabur Al-Qur’an.

Baca Juga  Ragam Bentuk Living Quran dalam Pendekatan Ilmu Sains

Membaca Al-Qur’an secara seimbang yaitu dengan memperhatikan bacaan ayat, makna, kandungan ayat secara keseluruhan dengan disertai perenungan dan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari dalam segala aspek hidup. Tentu, segala interaksi dengan Al-Qur’an tersebut baik, hanya saja perlu diperkuat dan disempurnakan dengan langkah yang lebih lanjut.

Semoga dengan interaksi yang seimbang kita dapat mengubah diri dan masyarakat melalui nilai agung Al-Qur’an, sebagaimana Nabi Muhammad yang mampu mengubah masyarakat Arab, dari kegelapan dan kejahilan menuju kecerahan dan cahaya pengetahuan.