Sebuah pembelaan terkadang menjadi tidak proporsional jika tidak melihat berdasarkan hati yang mungkin suci. Logika yang terkungkung membuat orang lebih memprioritaskan emosi dari pada pikiran yang jernih, artinya pemahaman atas apa yang sudah didapati tidak di pertanyakan kembali. Itulah yang disebut dengan fanatisme. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia fanatik ialah teramat kuat (berkaitan dengan kepercayaan atau keyakinan terhadap sesuatu. Sifat fanatik harus dihindari oleh manus karena sangat berbahaya. Karena merasa benar sendiri dan orang lain adalah salah, tidak merasa dirinya salah.
Misalnya saja pendukung dan suporter sepak bola yang mendukung klub atau negara secara berlebihan, mereka rela mati-matian. Jika jagoannya kalah dia tidak menerima kekalahan itu, bahkan harus tawuran, hal semacam ini yang kita kenal dengan fantik buta. Hal ini sering terjadi konflik lantaran satu golongan begitu fanatiknya dengan sebuah pegangan, bisa kita sebut juga dengan ideologi atau sebuah pegangan hidup yang benci terhadap golongan lain. Fanatik buta adalah mencintai atau membela golongan, kelompok dengan cara berlebihan.
Orang yang fanatisme di dalam Al-Quran disebut dengan ashobiyah. Sebenarnya orang yang disebut sebagai ashobiyah sah-sah saja sesuai dengan kadar tertentu dan tidak berlebihan. Kita boleh membela Agama, suku, kelompok, golongan, selagi itu dalam hal yang wajar. Misalnya golongan A diserang buruk secara verbal, menghina, dan mengatakan sesuatu yang tidak pantas, maka perlu untuk membela itu.
Bahaya Fanatisme dalam Al-Quran
Dalam Al-Quran Allah menjelaskan tentang bahayanya fanatisme, yaitu pada surat Saba ayat 24:
Katakanlah (Muhammad) “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi?” Katakanlah, “Allah,” dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebeneran ata kesesatan yang nyata.[Qs Saba:24]
Menurut Prof. Quraish Shihab pada ayat 24 Surat Saba’ menjelaskan tentang dalang di balik keberlangsungan kehidupan mereka. Mereka (musyrik) tidak menyadari dan meyakini bahwa rezeki yang mereka peroleh itu dari Allah SWT. Tapi mereka meyakini Rezeki itu berasal dari berhala yang mereka sembah. Meskipun begitu Allah Memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar berdialog dengan mereka dengan cara objektif dan berahklaqul karimah. artinya adalah tidak boleh menjelekkan kepercayaan orang orang musyrik tersebut.
Allah berfirman dalam Surat Al-An’am ayat 108:
“Dan janganlah kamu memakicsesembahan mereka selain Allah, karena mereka akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah kami jadikan stiap umat menganggap baik pekerjaan mereka, kemudian kepada Tuhan tempa mereka kembali. Lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan”.
***
Dalam Islam sangat melarang orang lain yang fanatik buta terhadap golongannya, membanggakan kesukuan dan menjelekan kesukuan lain sampai menyulut api permusuhan karena perbedaan. Inilah yang kemudian menyebabkan intoleransi antar golongan, budaya, agama, karena terlalu fanatik secara berlebihan.
Perbedaan adalah rahmat dari-Nya tidak ada alasan untuk saling bermusuhan dan berpecah-belah. Perbedaan itu asyik dan ajang bagi manusia untuk berdialektika dan menjalin silaturahmi antar manusia, tujuan dari perbedaan bukanlah untuk memukul tetapi untuk saling merangkul. Karena di dalam Al-Quran mennjelaskan bahwa yang lebih mulia itu bukan golongan, kelompok, suku dan yang lainnya. Melainkan mereka yang sentantiasa bertakwa kepada-Nya, Islam tidak melihat dari golongan tapi dilihat dari sisi perbuatannya.
Allah Subhanallahu Ta’ala berfirman dalam Al-Quran surat Al-Hujurat ayat 13:
“Wahai Manusia Sungguh, Kami telah menciptakan dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kalian dapat mengenal. Sesungguhnya, yang paling di sisi Allah adalah orang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha mengetahui, lagi Maha teliti”.
Pentingnya Kembali Pada Esensi
Al-Qur’an adalah petunuk semua memberikan hal yang subtantif, untuk menuju pada yang esensial, kita harus banyak membaca.Kerena kita harus melampaui apa yang sudah di doktrin dalam hidup. Esensi manusia adalah kebebasan untuk tidak fanatik, karena eksistensi manusia adalah kemerdekaan buka di tekan oleh apapun. Manusia hidup untuk menuju pada yang subtantif bukan dikungkung oleh struktur, artinya adalah kita tidak menjadi manusia yang konservatif yang tidak mau menerima kebenaran dari yang lain.
Tujuan hidup manusia diciptakan adalah untuk menjadi khalifah yang mengatur bumi. Tidak menafikan sebuah perbedaan, keangkuhan itu terjadi sebabnya adalah tidak membuka diri untuk orang lain. Hanya saja terkadang manusia selalu khilaf dan lupa, hingga terjerumus pada satu kesesatan intelektual, yang mengharuskan dia menuju pada kehancuran.
Sangat di sayangkan jika manusia berkonflik untuk memuaskan hawa nafsu, menjunjung tinggi keakuan, bahkan golongan sendiri dibanggakan begitu agungnya. Sampai melupakan orang lain yang mungkin lebih dari dirinya, untuk itu kita perlu mengevaluasi sebuah paradigma, jangan-jangan isi kepala adalah racun konservatif atau kebencian yang mendalam terhadap orang lain yang berawal dari doktrin itu sendiri, maka berhati-hatilah.
Editor: An-Najmi




























Leave a Reply