Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Pacaran dalam Bingkai Keislaman, Antara Zina dan Ta’aruf

Sumber: obsesinews.com

Bukan suatu hal yang tabu lagi ketika kita berbicara tentang pacaran dan hubungan antara laki-laki dan perempuan di luar nikah. Hampir semua pemuda dan pemudi sekarang melakukan hal tersebut. Dengan berbagai macam dalih yang dilontarkan untuk melegitimasi hubungan itu. Dan tidak sedikit yang mengatasnamakan agama sehingga terjerumus dalam hubungan yang mendekati zina. Pertanyaannya adalah pacaran dalam bingkai keislaman itu seperti apa sih sebenarnya? Saling mengingatkan sholat ? Kemana-mana tidak gandengan tangan? Mengisi obrolan dengan hal-hal yang positif?

Dalam Q.S Al-Baqarah ayat 43 dijelaskan bahwa kita dilarang untuk mencampur adukkan yang haq dan yang bathil. Kita sudah mengetahui bahwa pacara itu suatu perbuatan yang bathil. Tetapi kebanyakan dari kita menyembunyikan itu dan menganggap itu adalah hal yang lumrah terjadi. Sehingga lama-kelamaan menjadi kebiasaan dan bahkan di kalangan remaja sudah menjadi kewajiban bagi dia, yang udah menginjak umur dewasa untuk berpacaran dan menjadi suatu hal yang memalukan jika belum pernah pacaran.

Pacaran dan hubungannya dengan perbuatan yang mendekati Zina

Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa pacaran itu merupakan suatu perbuatan yang mendekatkan kita pada perbuatan yang mendekati kita kepada zina bagaimana itu bisa terjadi?. Sebelum kita membahasnya terlalu jauh perlu kita ketahui dulu konsep wa laa takrabuzzina dalam Q.S Al-Isra’ : 32

وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَسَآءَ سَبِيلٗا  ٣٢

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.

Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah menafsirkan ayat ini bahwa janganlah mendekati zina dengan melakukan hal-hal yang mengarah kepada perbuatan itu. Artinya segala perbuatan yang mengarah kepada perbuatan zina itu dilarang termasuk pacaran. Karena hal itu berkemungkinan besar untuk kita terjerumus didalamnya. Tetapi zina itukan melakukan hubungan intim? Al-isra’: 32 ini konteksnya adalah peringatan mendekatinya saja sudah dilarang apalagi melakukannya. Sebagaimana yang disebutkan diatas bahwa pacaran itu sering kita alibikan sebagai bentuk ta’aruf.

Baca Juga  Untukmu Mahasiswa Muslim: Pengantar Motivasi Dakwah

Apakah Sama Pacaran dan Ta’aruf ?

Kita sering kali terjebak oleh kedua hal ini dan mungkin belum banyak yang mengetahui bahwa pacaran sebenarnya adalah ta’aruf itu sendiri. Tetapi pacaran dalam konteks orang-orang melayu zaman dahulu. Seperti apa sih pacaran orang melayu zaman dahulu ? di kutip dari kompasiana.com bahwa pacar berasal dari pewarna kuku yakni daun pacar atau orang melayu sering mentebutnya “inai”.

Ketika ada seorang pemuda yang tertarik dengan seorang gadis maka dia akan menyinggahi kediaman gadis itu dengan mengirimkan tim pantun. Apabila pantun yang dibawakan oleh tim pantun dari pihak laki-laki di balas oleh pihak gadis, maka selanjutnya pihak orang tua akan memakaikan “inai” di tangan keduanya sehingga keduanya memiliki hubungan sementara dan biasanya hubungan itu diberikan jangak waktu 3 bulan sesuai dengan umur “inai” tersebut.

Ketika pacar tersebut luntur, maka pihak laki-laki diharuskan untuk memberikan kejelasan kepada keluarga gadis apakah mau dilanjutkan kejenjang selanjutnya ataukah tidak. Apabila sang pria tidak kunjung datang maka gadis tersebut berhak untuk memutuskan hubungan dengan pria tersebut dan pria lain berhak untuk datang dan memacari gadis itu.

***

Hal ini sama dengan konsep ta’aruf dalam Islam dimana ada batasan-batasan yang harus ditaati oleh laki-laki dan perempuan seperti dilarang untuk menyentuh dan berduaan dengan yang bukan mahram. Kata ta’aruf berasal dari kata ta’arafa-yata’arafu yakni saling mengenal sebagaimana yang dijelaskan dalam surah Al-Hujurat : 13

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ  ١٣

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Saling mengenal dalam hal ini tidak melewati batas dan koridor yang telah ditetapkan dalam agama Islam. Sebagaimana konsep pacaran yang berlaku pada budaya orang melayu zaman dahulu. Konsep pacaran yang berlaku sekarang tidak lebih dari budaya barat yang telah kita ambil mentah-mentah tampa ada proses penyaringan mana yang dilarang dan mana yang dibolehkan dalam ajaran agama. Yang lebih parah adalah kita memakai ayat-ayat al-Qur’an sebagai legitimasi terhadap perbuatan tersebut yang jelas-jelas itu dilarang.

Baca Juga  Buletin Jum'at: Islam Agama Hanif

Editor: An-Najmi