Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Mengapa Pemuda Mesti Melakukan Tadabur Al-Qur’an?

Keistimewaan Al-Qur'an
Sumber: https://griyaalquran.id/

Al-Qur’an mengisahkan pemuda Ashabul Kahfi sebagai simbol keberanian, kemandirian dan pergerakan melawan tindak kezaliman. Tiga simbol ini hadir berkat keimanan yang dipegang teguh oleh mereka. Kisah ini mengambil peranan penting dalam mencitrakan pemuda dalam kitab petunjuk umat Muslim.

Pemuda Qur’ani mencitrakan dirinya dengan kekuatan di dalam diri berupa keimanan. Kemudian menampakkannya ke luar diri dengan keragaman akhlak mulia. Artinya, seorang pemuda perlu menginternalisasi dirinya dengan nilai-nilai Qur’ani sebelum tampil di tengah masyarakat. Satu di antara cara internalisasi nilai Qur’ani ke dalam diri adalah dengan tadabur Al-Qur’an.

Lalu, bagaimana relasi antara Pemuda dan Tadabur Al-Qur’an? Dan bagaimana cara pemuda mentadaburi Al-Qur’an? Simak uraian berikut!

Titik Puncak Pemuda dan Al-Qur’an

Pemuda dapat didefinisikan dengan dua hal. Pertama, dari sisi umur yaitu rentang antara umur 16-30 tahun. Kedua, dari sisi potensi, berupa semangat, gairah dan puncak kekuatan manusia. Dalam bahasa Arab, pemuda disebut dengan fatā. Kata ini terbentuk dari huruf fa’, ta’ dan ya’ yang memiki makna sesuatu yang sampai pada titik puncaknya. Pemuda disebut fatā karena berada pada masa puncak potensial seorang manusia. Satu akar kata dengan fatā, fatwā juga bermakna hasil perenungan yang sudah pada puncak untuk siap diamalkan. (Maqāyīs al-Lughah, Ibn Fāris, 2009)

Kedudukan pemuda sebagai titik puncak kehidupan manusia sejalan dengan penggambaran fase manusia di dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an menggambarkan tiga fase kehidupan manusia dalam surat Ar-Rum 54:

اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَّشَيْبَةً ۗيَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُۚ وَهُوَ الْعَلِيْمُ الْقَدِيْرُ

Baca Juga  Makki dan Madani: Komponen Dasar Memahami Al-Qur'an

Artinya: Allah adalah Zat yang menciptakanmu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan(-mu) kuat setelah keadaan lemah. Lalu, Dia menjadikan(-mu) lemah (kembali) setelah keadaan kuat dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (Terjemahan Kemenag 2019)

Ayat di atas menjelaskan tiga fase kehidupan manusia: dari lemah, menuju kuat, dan lemah lagi. Posisi pemuda berada di titik quwwah (kekuatan) di antara dua lemah (masa kecil dan masa tua). Kekuatan pemuda menjadi pembeda antara dua fase yang ditandai dengan keadaan lemah. (Tafsir Al-Misbāh, Quraish Shihab, 2017)

***

Jika pemuda adalah titik puncak kehidupan manusia, maka Al-Qur’an adalah titik puncak mukjizat untuk manusia. Sebagaimana manusia, generasi manusia secara umum juga memiliki fase kehidupan. Generasi manusia awal, manusia tengah dan manusia puncak. Mukjizat setiap Nabi hadir menyesuaikan dengan kondisi setiap generasi.

Generasi awal, Nabi Nuh memiliki mukjizat membuat kapal penyelamat. Dilanjutkan dengan mukjizat Nabi Ibrahim yang tak terbakar api Namrud, lalu Nabi Musa yang mampu mengubah tongkat menjadi ular sebagai tandingan sihir. Sementara Nabi Isa mampu menghidupkan kembali orang yang sudah mati di tengah situasi yang mengagungkan tabib dan pengobatan. Bagaimana dengan mukjizat Nabi Muhammad?

Sebagai Nabi terakhir dengan generasi manusia pada puncaknya, Al-Qur’an hadir berupa kitab yang berisi ayat-ayat. Kematangan daya dan potensi manusia di masa Al-Qur’an menunjukkan kekuatan manusia dalam bidang literasi. Artinya, mukjizat Al-Qur’an berada pada puncak yang menyasar indra, imajinasi, intelektual dan hati manusia. Selain itu mukjizat ini bersifat timeless, tak lekang oleh waktu.

Dengan demikian, titik temu antara pemuda dan Al-Qur’an adalah keduanya berada pada titik puncak. Dua titik puncak ini selanjutnya akan melahirkan berbagai puncak-puncak lain dalam kehidupan manusia. Bagaimana pemuda memaksimalkan Al-Qur’an sebagai puncak mukjizat?

Baca Juga  Begini Pola Makan Sehat ala Nabi Muhammad

Mengapa Mesti Tadabur Al-Qur’an?

Relasi manusia dengan Al-Qur’an bertingkat-tingkat. Ada yang hanya menyakini tanpa membaca; yang meyakini dan membaca tanpa menghafal; ada yang sampai titik menghafal tanpa memahami; ada yang sampai memahami tanpa mengamalkan; terakhir sampai pada titik memahami dan mengamalkan. Artinya, puncak interaksi bersama Al-Qur’an adalah dengan mengamalkannya.

Tingkatan di atas, bisa saja diilustrasikan dengan tingkat iman, iqra, hafidz, fahm, dan amal. Untuk mencapai tingkatan amal seorang pemuda harus melakukan tadabur Al-Qur’an. Mengapa tadabur, bukan tafsir?

Tadabur terambil dari kosa kata Bahasa Arab yang tersusun dari huruf dal, ba’ dan ra’. Berarti akhir, ujung atau puncak sesuatu. Adapun tadabur berarti melihat akhir sesuatu berulang kali. Bentuk tafa’ul memberi makna melakukan sesuatu berulangkali. (Tadabur Al-Qur’ān, Salmān Umar As-Sunaidī, 2002)

Karena disebut empat kali di dalam Al-Qur’an, tadabur menjadi pendekatan terbaik berinteraksi dengan Al-Qur’an karena dua hal (Qawā’id At-Tadabur, Habannakah, 1980). Pertama, merupakan tujuan diturunkannya Al-Qur’an, sebagaimana QS.

كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ

Artinya: (Al-Qur’an ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad) yang penuh berkah supaya mereka menghayati ayat-ayatnya dan orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.

Kedua, merupakan perintah Al-Qur’an. QS. An-Nisa: 82 dan QS. Muhammad: 24 sebagai berikut:

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ ۗ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللّٰهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلَافًا كَثِيْرًا

Artinya: Tidakkah mereka menadaburi Al-Qur’an? Seandainya (Al-Qur’an) itu tidak datang dari sisi Allah, tentulah mereka menemukan banyak pertentangan di dalamnya.

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا

Artinya: Tidakkah mereka merenungkan Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci? (Terjemahan Kemenag 2019)

***

Dua poin ini menjadi landasan diutamakannya tadabur Al-Qur’an sebagai cara berinteraksi dan mengamalkan kandungan Al-Qur’an. Sementara tafsir hanya disebut sekali di dalam ayat dan tidak berkaitan dengan Al-Qur’an.

Baca Juga  Tafsir Saintifik: Menelisik Fenomena Tidur Ashabul Kahfi

Jika tafsir bermakna penjelasan dan penyingkapan, maka tadabur bermakna perenungan dan pengamalan. Tafsir mengambil porsi bayaniyyah dan ilmiyyah, sementara tadabur pada porsi imaniyyah dan amaliyyah. Pemuda yang melakukan tafsir menjelaskan ayat ke luar dirinya, sementara pemuda yang melakukan tadabur merenungi ayat ke dalam dirinya; kemudian keluar sebagai akhlak dan amal yang baik. (Tadabur Maiyah, Cak Nun dan Cak Fuad, 2021)

Kesimpulan

Pemuda dan Al-Qur’an yang berada pada titik puncak perlu didekati dengan metode puncak juga berupa tadabur Al-Qur’an. Dengan potensi dan daya kematangan, pemuda mampu melakukan tadabur secara maksimal atas mukjizat Al-Qur’an. Relasi tadabur, pemuda dan Al-Qur’an menjadi relevan dan tak terpisahkan. Sehingga pemuda diajak untuk melakukan tadabur Al-Qur’an setapak demi setapak sebagai wujud syukur kepada Allah dan Al-Qur’an.

Semoga tulisan ini dapat menggerakkan hati kita untuk sadar akan urgensi pemuda, tadabur dan Al-Qur’an. Hingga pada akhirnya, para pemuda menekuni laku tadabur sebagi jalan berinteraksi dengan Al-Qur’an. Para pemuda akan lahir kembali menjadi pribadi yang kuat, berani, tangguh dengan daya intelektual dan spiritual yang terwujud dalam akhlak yang mulia.