Flexing atau pamer menurut KBBI ialah menunjukkan sesuatu yang dimiliki kepada orang lain dengan maksud memperlihatkan kelebihan atau keunggulan untuk menyombongkan diri. Dewasa ini, jagat media sosial diramaikan dengan fenomena Flexing atau pamer. Ia kerap disebut dengan ‘orang kaya palsu’ yang cenderung suka memamerkan harta kekayannya. Sehingga muncullah orang-orang dengan julukan crazy rich, dan ditambah lagi ada trend yang menunjukkan penampilan dengan menggunakan barang-barang branded seperti Gucci, Dior, Balenciaga, serta merk terkenal lainnya.
Edwin Syarif Agustin, seorang pengamat media sosial menilai bahwa flexing merupakan karakter daripada media sosial. Dimana ketika masuk ke media sosial, timbullah rasa ingin memamerkan kemewahan. Dimana flexing ini ialah jalan pintas supaya ingin dikenal di media sosial.
Dalam ilmu psikologi, kemunculan Flexing ini tidak lain ialah bertujuan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Fenomena pamer ini pada dasarnya didasari oleh orang-orang yang memiliki kepercayaan diri yang rendah. Di samping itu karena kebanyakan manusia memaknai kebahagiaan dari hal-hal yang bersifat materialistik. Padahal makna kebahagiaan yang sebenarnya ialah ketika manusia mampu memaknai hidup yang bisa datang dari arah manapun yang bersumber selain dari harta kekayaan.
Lalu, bagaimana pandangan Islam mengenai fenomena flexing ini ?
Pandangan Al-Qur’an Terhadap Pamer
Allah ta’ala berfirman dalam QS. Luqman : 18
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍ
Artinya: “Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”
Ayat di atas menerangkan bahwasannya Allah melarang manusia untuk bersikap sombong dan meminta manusia untuk selalu bersikap tawadhu’ (rendah hati) kepada siapapun. Karena kasih sayang Allah tidak sampai pada orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.
Selain itu, larangan bermegah-megahan juga terdapat pada firman Allah QS. At-Takatsur : 1
اَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُۙ
Artinya: Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,
Allah menegaskan bahwa manusia sibuk bermegah-megahan dengan harta, teman, dan pengikut yang banyak. Sehingga melalaikannya dari kegiatan beramal. (Tafsir Kemenag).
Harta adalah Titipan
Surat ke-16 yang termasuk golongan Makkiyah tersebut diturunkan untuk mengecam orang-orang yang saling berlomba untuk bermegah-megahan dan membangga-banggakan harta. Dimana ayat ini diturunkan berkenaan dengan dua kabilah dari kalangan kaum anshar. Yakni Bani Haritsah dan Bani Harits, mereka saling bersaing dalam membangga-banggakan harta. Mereka lupa bahwa harta hanyalah titipan Allah yang fana dan tidak abadi. Lebih lagi harta diibaratkan seperti air yang tak mudah dikendalikan bilamana air itu melewati batas. Pada QS. Al-Kahfi : 46, Allah menunjukkan bahwa amal shalih ialah lebih baik daripada harta duniawi.
الْمالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَياةِ الدُّنْيا وَالْباقِياتُ الصَّالِحاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَواباً وَخَيْرٌ أَمَلاً
Artinya: “Harta dan anak itu perhiasan kehidupan dunia. (Sementara) amalan-amalan saleh yang kekal itu pahalanya lebih baik dan lebih didambakan bagi Tuhanmu.”
Allah juga berfirman dalam QS. Al-Hadid: 20
اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُه ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗوَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.“
Belajar dari kisah Qarun, orang terkaya yang takabur pada zaman Nabi Musa AS. Ia bergelimang harta. Ribuan gudang yang dimilikinya penuh dengan emas dan perak. Bukannya menjadi bertambah syukur dan iman sebagaimana janjinya kepada Allah ketika ia meminta dahulu, Qarun justru menjadi seorang yang sombong. Menggunakan kekayaan yang dimilikinya untuk kesesatan dan permusuhan.
Pelajaran yang Bisa Diambil
Dalam Riwayat Muslim, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika beliau sedang membaca Al-Hakumut Takatsur, “Anak Adam berkata, ‘Inilah harta saya, inilah harta saya. Nabi bersabda: “Wahai anak adam! Engkau tidak memiliki dari hartamu kecuali apa yang engkau makan dan telah engkau habiskan, atau pakaian yang engkau pakai hingga lapuk, atau yang telah engkau sedekahkan sampai habis.”
Dari semua uraian di atas, bisa disimpulkan bahwasannya gemerlapnya dunia dan harta sering membuat manusia lalai akan kehidupan akhirat yang kekal. “Akhirat lebih baik dan lebih kekal” (QS. Al-A’la: 17). Harta yang kita miliki ialah titipan yang ketika di akhirat nanti akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah. Maka hendaknya manusia untuk banyak mengingat kematian. Sebagaimana Imam Qurthubi pernah meriwayatkan bahwa Ad-Daqqaq berkata: “Barangsiapa yang banyak mengingat mati, ia akan dimuliakan dengan tiga perkara: bersegera bertaubat, hatinya merasa cukup, dan giat/semangat dalam beribadah. Akan tetapi sebaliknya barangsiapa yang melupakan mati, ia akan dihukum dengan tiga perkara: menunda taubat, tidak ridha dengan rasa cukup, malas dalam beribadah. Maka,“Cukuplah kematian itu sebagai pengingat.”
Editor: An-Najmi



























Leave a Reply