Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Keteraturan Angka 19 dalam Al-Qur’an

angka
Sumber: https://www.voa-islam.com/

Keistimewaan al-Qur’an dalam aspek bahasa bukan hanya terlihat pada tingginya nilai sastra yang terkandung dalam al-Qur’an itu sendiri. Melainkan pada aspek keseimbangan dan ketepatan kata. Angka 19 disebut dengan bilangan prima (prime number) yang berarti bilangan tersebut hanya bisa di bagi dengan dirinya sendiri dan dengan angka 1. Dalam hal ini, terdapat sebuah keunikan mengenai angka 19 itu sendiri.

Kajian Tafsir Fi Zhilalil Qur’an Qs. Al-Mudatsir ayat 30-31

Angka 19 yang terdapat pada ayat ini adalah sebagai “separator” yang membedakan mana yang baik dan yang buruk. Dari sini, bisa ditemukan bahwa bilangan 19 hanya merupakan sebuah ujian bagi orang kafir.

Diatasnya, ada sembilan belas (malaikat penjaga). Kita tidak bisa mengetahui secara pasti apakah yang dimaksud 19 ini adalah personil malaikat yang kasar dan keras. Atau mereka itu barisan dari macam-macam dan kelompok malaikat. Itu adalah informasi dari Allah.

Pada ayat yang berikutnya, dimulai dengan menetapkan hakikat bilangan sembilan belas yang dibantah oleh orang-orang musyrik itu.  “dan tiada kami jadikan penjaga neraka itu melainkan malaikat, ..”Allah telah menetapkan bahwa para Malaikat itu selalu mematuhi apa yang diperintahkan Alah kepada mereka dan mereka memiliki kemampuanuntuk melakukan apa yang diperintahkan itu. Dalam ayat ini, Allah mengamanahkan kepada ke 19 Malaikat tersebut untuk menjaga neraka Saqar. Yang berarti mereka (para Malaikat) dibekali oleh Allah kekuatan untuk mengemban tugas tersebut.

“Dan tidaklah kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir”. Mengenai persoalan mengapa Malaikat yang diutus untuk menjaga neraka Saqar itu berjumlah sembilan belas, maka ini adalah urusan yang hanya Allah yang mengetahuinya. Dia adalah yang mengatur semua hal sesuai ukuran dan ketentuannya.

Baca Juga  Al-Qur’an Berwajah Puisi Karya HB Jassin

Orang yang ingin membantah dan menyangkal bisa saja membantah dan menyanggah setiap jumlah atau bilangan lain dan urusan lain dengan bantahan yang serupa, misalnya mengapa langit itu tujuh? Mengapa manusia diciptakan dari tanah kering seperti tembikar sedang jin dari nyala api, jawabannya adalah sudah tentu karena Yang Maha Pencipta berkehendak atas sesuatu.

Kemukjizatan Angka Al-Qur’an

“Supaya orang-orang yang diberi Al-kitab menjadi yakin dan supaya orang-orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al-kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu. dan supaya orang-orang yang didalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir mengatakan apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan”. Dalam penggalan ayat diatas kita bisa melihat bahwasanya terdapat perbedaan antara  orang mukmin dan orang kafir dalam menerima informasi berupa hal yang ghaib ini (terkait sembilan belas penjaga neraka saqar).

Orang mukmin akan bertambah kadar imannya, dan merasa yakin terhadap kebenaran berita itu. Sedangkan orang munafik atau kafir akan semakin lemah hatinya dan bertanya “ apakah yang dikehendaki oleh Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan ?” Orang-orang kafir tidak mengetahui apa hikmah yang ada dalam firman Allah ini, tetapi mereka tetap tidak mau tunduk pada ketentuan yang telah ditentukan oleh Allah terhadap ciptaan-Nya. “ demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya”.

Kita sebagai seorang hamba, kita tidak mengetahui kehendak Allah yang ghaib terhadap kita. Akan tetapi kita mengetahui apa yang dituntut Allah kepada kita agar kita layak mendapatkan karunia-Nya. “ dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri”. Tentara Tuhan di sini, bersifat ghaib. Kita tidak bisa mengungkap apa yang tidak disingkap oleh Allah. “ Dan dia itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia”. Sedangkan kata “ dia” pada penggalan akhir ayat al-Mudatsir ayat 31 ini, adalah menunjuk pada tentara Tuhandimana dimaksudkan kepada penjaga neraka saqar yaitu para Malaikat yang berjumlah 19. Pada ayat ini, sudah jelas bahwa, penyebutan jumlah bilangan pada penjaga neraka saqar  adalah sebagai peringatan, bukan sebagai bantahan atau perdebatan.

Baca Juga  Begini Pola Makan Sehat ala Nabi Muhammad

Keteraturan Bilangan 19 Dalam al-Qur’an

Dalam al-Qur’an keteraturan pola yang berkaitan dengan basmallah disebut dengan struktur bilangan 19. Karena kata Basmallah berjumlah 19 huruf hijaiyah. Adapun struktur tersebut:

Jumlah huruf hijaiyah yang terdapat dalam kata Basmallah adalah 19 huruf. 19 = 1 x 19. Kata “ism” dalam ayat al-Qur’an disebut sebanyak 19 kali. 19 = 1 x 19. Kata Bismillah dalam al-Qur’andisebut sebanyak 3 kali, yaitu pada surat ke- 1 ayat 1, surat ke-11 ayat 41, surat ke-27 ayat 30. Jika bilangan tersebut dijumlahkan maka diperoleh: 3+(1+1)+(11+41)+(27+30)=114 114 = 6 x 19

Kata “ Allah “ dalam al-Qur’an disebut sebanyak 2698 kali. 2698 = 142 x 19. Kata “ ar-Rahman” dalam al-Qur’an yang berkaitan dengan sifat Allah disebut sebanyak 57 kali. 57 = 3 x 19. Kata “ ar-rahim” dalam al-Qur’an yang berkaitan dengan sifat Allah disebut sebanyak 114 kali. 114 = 6 x 19. Jika pengali pada struktur 3 sampai struktur 5 dijumlahkan akan diperoleh 1 + 142 + 3 + 6 =152. 152 = 8 x 19. Jumlah tulisan “Basmallah” dalam al-Qur’an  (baik dalam permulaan surat maupun dalam ayat dalam surat) sebanyak 114. 114 = 6 x 19 .

Al-Qur’an memiliki hubungan dengan bilangan prima. Dimana bilangan prima itu adalah bahasa universal yang dapat dikomunikasikan antara makhluk-makhluk yang berintelegensia tinggi. Bilangan prima yang menonjol adalah angka 19 yang mana bilangan 19 ini dihubungkan  dengan Wahid dalam al-Qur’an atau simbol ke –Esaan Tuhan.

Dari segi bahasa, kata wahida berasal dari kata wahada yang berarti “ tak terbilang” atau “ awal dari bilangan. Arti umum adalah “ tidak ada bandingannya”. Atau “ tidak ada yang menyerupainya”. Kata wahid dalam al-Qur’an disebut sebanyak 20 kali tetapi yang berhubungan dengan ke-Esa-an Tuhan, hanya sebanyak 19 kali. Sisanya, menyatakan bilangan yang berarti satu. Dengan demikian, beberapa mufassir ahlimatematika berpendapat bahwa angka 19  ini bisa diartikan sebagai simbol atau cap ke–Esa-an Tuhan. Dari sisi struktur bilangan, pola 19+ 1 mengingatkan pada struktur asam amino pada DNA manusia = 19 simetris berpasanagan dan 1 asimetris tidak berpasangan.

Baca Juga  Hari Ibu: Berbakti Tak Sekadar Materi

Kesimpulan

Perbedaan mendasar yang terlihat dari telaah tafsir surat Al-Mudatsir ayat 30-31 adalah bagaimana sikap orang kafir dan orang mukmin terhadap sebuah ayat-ayat al Qur’an yang diturunkan. Dan karunia Allah berupa Al-Qur’an itu tidak perlu diragukan keotentikannya karena nilai aktualitasnya benar-benar diluar nalar kita.