Setelah melaksanakan ibadah puasa ramadhan selama 30 hari, merayakan hari raya idul fitri dan menebar kasih. Kini saatnya untuk kembali untuk menunjukan ketaatan atas perintah Tuhan. Ketaatan tersebut harus berangkat dari niat dan hati yang suci sebab akan di nilai ibadah jika melaksanakannya dengan penuh keikhlasan. Segala ego dan ketamakan yang selalu merajai hati setiap insan harus dipangkas dengan tuntas sebagai landasan iman setiap insan.
Kurban dan Kisah Ibrahim
Sebagai umat Muslim, ibadah kurban menjadi bagian yang harus dilaksanakan setiap tahunnya. Ibadah ini bukan sekadar beribadah kepada Allah, juga turut sebagai momentum berbagi sesama manusia. Kurban secara historis berangkat dari kisah Nabi Ibrahim yang mendapatkan perintah langsung dari Allah untuk menyembelih anaknya Nabi Ismail sebagai ujian atas ketaatannya. Ketika hendak melayangkan pisau ke leher putranya itu seketika Allah menggantikannya dengan seekor kibas atau domba yang sangat besar. Peristiwa tersebut menjadi simbolisme pengorbanan dan kesetiaan Nabi Ibrahim kepada Allah untuk memperlihatkan betapa iman menjadi puncak komitmen manusia kepada Tuhannya.
Dari kisah tersebut, sosok Nabi Ibrahim dan Ismail sampai hari ini menjadi sumber tauladan bagi umat Muslim untuk mengorbankan segala hal demi kecintaan dan ketaatan atas perintah Allah. Jika kita merefleksikan beberapa perintah berkurban dalam Al-Qur’an. Ada beberapa ayat yang menunjukkan perintah berkurban diantaranya Q.S Al-Hajj ayat 37 yang terjemahannya “Bukanlah daging dan darahnya yang sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu”. Ayat tersebut menunjukkan bahwa kurban bukan sekadar tindakan menyembelih hewan lebih dari itu; kurban sebagai manifestasi cinta dan kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya melalui pengorbanan menyembelih hewan kurban.
Menurut Ibnu Katsir, ayat ini menjelaskan bahwa apa yang dicapai dan dikehendaki oleh Allah dalam berkurban adalah bukanlah daging dan darah hewan yang dikorbankan; melainkan ketakwaan dan ketaatan hamba kepada Allah. Kurban hanyalah sarana untuk mencapai tujuan tersebut, yaitu meningkatkan ketakwaan dan mendekatkan diri kepada Allah.
Refleksi Perintah Kurban
Selain itu, perintah berkurban juga menunjukan prinsip untuk senantiasa berbagi kepada sesama terutama kepada fakir miskin dan yang membutuhkan, Hikmahnya adalah untuk menghidupkan semangat berbagi dan kepedulian sosial dalam masyarakat. Dengan berkurban, kita bisa membantu mereka yang kurang mampu merasakan kebahagiaan dan manfaat dari daging kurban tersebut. Ketika kita berkurban, kita juga dianjurkan untuk menghidupkan rasa syukur kita kepada Allah.
Allah berfirman dalam Q.S Al-Hajj ayat 28 yang terjemahannya; “Maka makanlah sebahagian dagingnya dan berilah makan yang (benar-benar) fakir yang sangat miskin”. Pesan ini mengajarkan kita untuk bersyukur atas karunia yang Allah berikan kepada kita; seperti hewan ternak yang diberikan kepada kita sebagai sumber rezeki ataupun uang yang digunakan untuk bisa membeli hewan kurban. Mari menyambut ibadah kurban dengan penuh kesadaran; memutus mata rantai segala keserakahan, menjunjung nilai kesetaraan dan kebersamaan, mengikis berbagai ketamakan dan sifat kebinatanangan dalam diri setiap insan.


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.