Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Mengurangi Emosi Negatif: Dari Psikologi ke Sufistik

emosi negatif
Sumber: https://schoolofparenting.id

Manusia dibekali dengan kemampuan kognitif, emosi dan psikomotor. Salah satu yang sangat memengaruhi dalam perilaku dan pengambilan keputusan pilihan dalam hidup yang mencerminkan kecerdasan seseorang adalah emosi. Emosi merupakan gejolak perasaan dan hasrat bisa berupa positif bisa negatif untuk merespon situasi lingkungan. Artikel ini akan membahas pengendalian emosi negatif dari pendekatan psikologi hingga sufistik.

Dalam Al-Quran Allah SWT menjelaskan bahwa: “demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya. maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaan. sungguh beruntung orang yang menyucikan (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya” (Q.S Asy-Syams: 7-10). Berdasarkan surat tersebut jelas bahwa setiap individu diberikan pilihan dan keterbukaan untuk memilih jalan takwa atau kejahatan. Jalan takwa adalah mereka yang mampu mengelola kemampuan kognitif, emosi dan perilakunya. Berusaha untuk memelihara kondisi emosi dalam ranah kebaikan dan positif; dan juga tidak tertutup kemungkinan untuk jalan kejahatan yaitu emosi negatif. 

Chaplin (2006:163) menjelaskan bahwa emosi adalah suatu respons yang kompleks saling berkaitan timbal balik; sehingga terjadi perubahan secara mendalam pada seseorang yang disertai dengan perasaan yang kuat. Emosi merupakan kondisi dan proses psikologis yang terjadi pada diri manusia yang melalui proses stimulus respon; dari lingkungan terhadap diri manusia dan dicerna melalui keterlibatan kognitif yang disebut dengan persepsi. Keterlibatan kognitif dan perasaan ini merupakan kondisi interaksi akal dan hati manusia dalam perilaku sehari-hari.

Pendekatan Islam

Pendekatan Islam perlu rasanya dikembangkan untuk bisa melepaskan emosi negatif dan menumbuhkembangkan emosi positif manusia. Cole (Elida, 2006:69) dan John B Watson (Sobur, 2009: 410) mengemukakan tiga bentuk emosi yaitu sebagai berikut:

  1. Marah
Baca Juga  Makna Pemberian Terbaik dalam Q.S Al-Baqarah: 267

Bentuk dari reaksi emosi marah seperti beringas, mengamuk, benci, dengki, iri, jengkel, kesal, tersinggung, permusuhan, tidak senang dengan orang lain, dan lain sebagainya. Rasulullah SAW sudah mengingatkan dalam sebuah hadits: Abu Said Al Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Ingatlah bahwa marah adalah bara api di dalam hati anak Adam. Tidaklah kalian melihat kedua matanya yang memerah dan urat lehernya yang menegang”. (HR. Tirmidzi dalam Najati: 2008:109).

2. Takut

Bentuk dari emosi takut seperti cemas, gugup, khawatir, was-was, sedih, waspada, tidak tenang, panik, phobia, tidak nyaman, dan lain sebagainya. Sebenarnya emosi takut yang paling tinggi tingkatannya yaitu emosi takut kepada Allah SWT akan pedihnya siksaan Allah kepada hamba-hambanya yang durhaka kepadanya, hal ini diingatkan Allah dalam Al Quran “Takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman” (QS. Ali Imran, 175).

3. Cinta

Bentuk dari emosi cinta seperti penerimaan, persahabatan, kasih sayang, gembira, hormat, kasmaran, senang, girang, dan lain sebagainya. Rasulullah SAW menganjurkan manusia untuk untuk menempatkan cinta tertinggi kepada Allah SWT. Beliau bersabda, “Cintailah Allah karena Dia telah memberimu makanan dari nikmat-nikmat Nya” (HR. Tirmidzi dalam Najati, 2008:82). Seperti yang dijelaskan oleh pepatah para sufi bahwa barang siapa yang mengenal dirinya maka mereka akan mengenal tuhannya. Hal ini menekankan bahwa ketika individu mengenal betapa berartinya hidup dan dirinya; maka dia akan mengenal bahwa dia dimiliki oleh maha Mecintai yaitu Allah SWT.

Dari Pendekatan Psikologi

Emosi pada manusia tidak selamanya bisa stabil terkadang juga mengalami gangguan yang membuat manusia menjadi tidak nyaman. Menurut Elida (2006:74) beberapa penyebab yang sering menimbulkan gangguan emosi pada seseorang yaitu: 

  1. Merasa kebutuhan fisik tidak terpenuhi secara baik yang menyebabkan ketidaknyamanan, khawatir, dan benci terhadap kondisi diri.
  2. Merasa tidak diterima, tidak disukai, dan kurang diingini.
  3. Adanya perasaan dihambat, diacuhkan, dihina, serta dilemahkan dari pada di dukung dan dimotivasi pendapatnya. 
  4. Merasa inferior pada kemampuan diri.
  5. Merasa tidak merasa nyaman dengan kehidupan keluarganya.
  6. Adanya perasaan dengki dan benci dengan kehidupan orang lain.
Baca Juga  Melacak Model Hermeneutika Perspektif Islam dan Barat

Hingga Pendekatan Sufistik

Dalam perspektif tasawuf, kondisi psikologis atau kejiwaaan manusia yang berimplikasi pada tingkah lakunya itu semua disebabkan karena adanya hambatan dan gangguan dalam akal dan hati untuk mencapai nur ilahi. Seperti halnya dalam pandangan aliran tasawuf akhlaki yang disampaikan oleh Al-Ghazali. Ia menekankan pada penyucian jiwa atau dikenal Tazkiyatun An-Nafs esensi dari pemahaman ini adalah inti dari perilaku dan akhlak manusia adalah bagaimana kondisi hati manusia itu sendiri (Hawwa, S, 2007; Alfaiz, 2017: 3). Sarana penyucian jiwa (Tazkiyatun An-Nafs) di antaranya yang mendekati dalam pendekatan aplikasi psikologi konseling Islam; Shalat, Puasa, Membaca Al Quran, Zikir, Tafakkur, Mengingat Hidup itu pendek, Muraqabah-Muhasabah-Mujahadah-Mu’aqabah, Mengenal Penyakit Hati diri.

Berikut penjelasan proses tazkiyatun an-nafs:

  1. Takhalli (Self Cleansing). Tahapan awal dari proses penyucian jiwa yaitu tahapan yang paling berat. Pada tahap ini inidividu harus mengakui dan bisa menyampaikan dengan assertif bahwa dirinya memiliki perilaku negatif yang selama ini dia benarkan. 

2. Tahalli (Self Filling). Tahapan ini merupakan pengisian diri dengan nilai, perilaku dan pola pikir yang baik. Pada tahap ini individu mengenal dan mengisikan pada dirinya perilaku taubat, sabar, zuhud dan ihsan sehingga perpaduan aspek tersebut menjadikan dirinya terjaga dan terpelihara dari kecenderungan negatif.

3. Tajalli (Self Reborn). Tahapan terakhir dan juga tahapan penentu dari proses tazkiyatun an nafs. Tahap ini adalah usaha menstabilkan diri dengan realita dunia yang sangat berbeda dengan pribadi yang baru lahir melalui proses penyucian jiwa ini. Pada tahap ini individu harus mengenal dan mengisikan pada dirinya perilaku; taubat, sabar, zuhud dan ihsan. Sehingga perpaduan aspek tersebut menjadikan dirinya terjaga dan terpelihara dari kecenderungan negatif.

Baca Juga  Nalar Epistemik Tafsir Indonesia: Dialektika Teks dan Realitas

Kesimpulan

Dapat dipahami bahwa tazkiyatun an nafs merupakan pendekatan sufistik yang berbasis pada aliran tasawuf akhlaki. Pendekatan yang melihat asal muasal perilaku manusia dari pikiran dan hati manusia bukan hanya dari piikiran saja. Jika disimpulkan pendekatan tazkiyatun an nafs bisa dijadikan salah satu teknik atau pendekatan konseling. Karena mencakup tidak hanya ranah psikoanalisa dalam hal defence mechanism melainkan juga dalam; kognitif, behavioral hingga spiritual konseling yang menjadikan pendekatan ini bisa diaplikasikan dalam proses konseling.

Penyunting: Ahmed Zaranggi