Kata tafsir dalam bahasa Arab berasal dari kata al-Fasru yang berarti al-Iba>nah wa al-Kasya>f(menjelaskan dan menyingkap sesuatu). Dalam kitab Lisa>n al-Ara>b,kata al-Fasru memiliki arti al-Baya>nyang berarti menjelaskan sesuatu. Sedangkan secara istilah, tafsir ialah ilmu yang digunakan untuk memahami dan menjelaskan makna-makna kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW serta menyimpulkan kandungan-kandungan hukum dan hikmahnyaJika selama ini kita sering mengetahui bahwa kitab tafsir banyak ditulis oleh para Ulama Timur Tengah atau Arab, maka Ulama Nusantara pun tak kalah menuliskan ilmunya dalam kitab-kitab tafsir karya mereka. Salah satu ulama nusantara yang turut menyumbangkan pemikirannya adalah KH. Bisri Musthofa. Beliau merupakan salah satu ulama pendiri pondok pesantren sekaligus ahli tafsir di Indonesia. Kitab tafsir yang beliau tulis merupakan salah satu kitab tafsir yang unik karena menggunakan bahasa jawa dalam penafsirannya.
Sekilas Tentang KH. Bisri Musthofa
Bisri Musthafa merupakan seorang kiai yang kharismatik pendiri pondok pesantren Raudhatut thalibin, yang berada di Rembang-Jawa Tengah. K.H. Bisri Musthafa dilahirkan di kampung Sawahan, Gang Palen, Rembang pada tahun 1915 atau bertepatan tahun 1334 H. Beliau merupakan anak pertama dari empat bersaudara dari pasangan H. Zainal Musthafa dan Khadijah. Beliau memiliki nama kecil Mashadi dankemudian berganti nama menjadi Bisri Musthafa setelah menunaikan ibadah haji pada tahun 1923 H.Di usianya yang ketujuh tahun, beliau menuntut ilmu di sekolah Jawa yang bernama “Ongko Loro” di Rembang, akan tetapi hanya berlangsung selama satu tahun karena beliau diajak oleh kedua orangtuanya menunaikan ibadah haji. Saat dalam perjalanan pulang di Pelabuhan Jeddah, ayah Bisri Musthafa wafat setelah menderita sakit selama melakukan ibadah haji. Oleh sebab itu, tanggung jawab serta urusan keluarga dipegang oleh kakak tirinya Mashadi yakni H. Juhdi.
Setelah ayahnya wafat, beliau sempat disekolahkan di HIS (Hollands Inlands School), akan tetapi tidak disetujui oleh Kiai Cholil, akhirnya Bisri Musthofa kembali ke sekolah Ongko Loro. pada usia 10 tahun setelah lulus dari sekolah “Ongko Loro”, Bisri Musthafa belajar di Pesantren Kasingan yang pimpinannya itu Kyai Cholil. Pada awalnya, Bisri Musthafa tidak berminat belajar di Pesantren hingga hasil yang dicapai pada awal-awal mondok sangatlah tidak memuaskan. Hal ini dikarenakan pelajaran di Pesantren dianggap sulit, kurang mendapat respon baik dari teman-temannya hingga akhirnya Bisri Musthafa berhenti belajar di Pesantren.Setelah beberapa bulan tidak belajar di Pesantren, akhirnya Bisri Musthafa diperintahkan untuk kembali ke Pesantren Kasingan, dan dipasrahkan kepada Suja’i (ipar K.H. Cholil). Sejak tahun 1933, Bisri Musthafa dipandang sebagai santri yang memiliki berbagai kelebihan hingga beliau sering dijadikan rujukan oleh teman-temannya.
KH. Bisri menikah pada umur 20 tahun dengan anak dari pimpinan pesantren Kasingan yang bernama Ma’rufah. Dari pernikahannya tersebut, beliau dikaruniai 8 anak. Setelah satu tahun menikah, beliau pergi lagi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu disana. Di antara guru-gurunya ialah Syeikh Baqil asal Yogyakarta, Syeikh Umar Hamdan al-Maghriby, Syeikh Ali Malik, Sayid Amid, Syeikh Hasan Masath, Sayid Alwi dan KH. Abdullah Muhaimin. Setelah 2 tahun di Makkah, beliau kembali ke tanah air atas permintaan mertuanya. Pada tahun 1939, KH Bisri Musthofa diberi mandat untuk melanjutkan kepemimpinan pesantren diskarenakan KH. Cholil meninggal dunia. K.H. Bisri wafat pada hari Rabu tanggal 17 Februari 1977 M bertepatan dengan 27 Safar 1397 H.
Karakteristik Kitab Tafsir Al-Ibriz
Kitab tafsir al-Ibri>z memiliki nama Al-Ibri>z li Ma’rifah al-Qur’an al ‘Azi>z bi al-Lughah al-Ja>wiyah(الابريز لمعرفة تفسير القرآن العزيز باللغة الجاوية). Kitab ini ditulis karena KH. Bisri Mustafa memiliki keinginan agar tafsir al-Ibri>zdapat bermanfaat bagi masyarakat dan seluruh kalangan, terutama masyarakat Jawa dalam memahami al-Qur’an. Hal ini disampaikan oleh Bisri Mustafa dalam Mukaddimah al-Ibri>zyang berbunyi:“Dumateng ngersanipun poro mitro muslimin ingkang sami mangertos tembung daerah jawi, kawulo segahaken terjemah tafsir al-Qur’an al-Aziz mawi coro ingkang persojo, enteng serto gampil pemahamipun”.Selain itu, alasan KH. Bisri menulis kitab al-Ibriz adalah ingin melestarikan bahasa jawa.
Corak yang dipakai KH. Bisri Musthafa dalam tafsir Al-Ibriz tidak memiliki kecenderungan dominan pada satu corak tertentu. Al-Ibrizcenderung bercorak kombinasi antara fiqhi, sosial-kemasyarakatan dan shufi. Dalam arti, penafsir akan memberikan tekanan khusus pada ayat-ayat tertentu yang bernuansa hukum, tasawuf atau sosial kemasyarakatan. Dalam corak kombinasi ini, harus diletakkan dalam artian yang sangat sederhana. Sedangkan untuk metode, KH. Bisri menggunakan metode gabungan tahlili-ijmali dimana beliau mengungkapkan keseluruhan ayat al-Qur’an sesuai dengan mushaf utsmani dan menafsirkan ayat dengan penjelasan yang ringkas, global dan tidak bertele-tele. Hal ini dapat dilihat dari penafsiran beliau dalam QS al-Baqarah ayat 2-5 yang hanya ditafsirkan dalam beberapa baris.
Dalam menafsirkan ayat Al-Qur’an, KH. Bisri terkadang juga menampilkan hadits Nabi SAW tanpa menyebutkan rangkaian sanadnya dan status hadisnya. Selain itu, Beliau juga menampilkan qaul para sahabat sehingga dikatakan bahwa manhaj yang dilakukan oleh beliau adalah al-Ma’tsur. Tetapi dalam penukilan Hadits atau riwayat sahabat, tabi’in, para ulama adalah hasil dari pemikiran Bisri Musthafa dalam penafsiran. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sumber penafsiran tafsir al-Ibriz adalah bi al-Ma’tsur dan bi al-Ra’yi. Akan tetapi, lebih cenderung ke sumber penafsiran bi al-Ra’yi. Akan tetapi, dalam mukaddimah kitab tafsirnya, KH. Bisri juga menjelaskan bahwa sumber penafsirannya, ia peroleh dari kitab-kitab tertentu seperti Tafsir Jalalain, Tafsir Baidhawi, Tafsir Khazin, dan lain-lain.




























Leave a Reply