Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tradisi Takbiran Islam Indonesia Saat Hari Raya Idul Fitri

Takbir
Sumber: https://mantrasukabumi.pikiran-rakyat.com/

Begitu amat sangat banyaknya tradisi penganut keagamaan di Indonesia. Hal tersebut tak terkecuali dari penganut agama terbesar di Indonesia. Sebut saja, penganut agama Islam di Indonesia. Salah satu tradisi tersebut yaitu gema takbiran menjelang hari raya Idul Fitri. Tentunya acara keagamaan tersebut diadakan di malam hari menjelang hari raya idul fitri.

Mengumandangkan gema takbir pada malam menjelang hari raya Idul Fitri merupakan tradisi yang lumrah dilakukan di masjid-masjid maupun mushalla-mushalla. Tradisi ini tidak hanya dilakukan oleh para priadewasa. Menariknya terdapat salah satu Pulau di Indonesia, ialah pulau Lombok yang dikenal dengan Bumi Seribu Masjidnya. Bagaimana warga yang mayoritas dihuni suku sasak tersebut memilki tradisi yang cukup unik. Sebut saja, gema takbir seribu bedug. Acara tersebut cukup meriah dikarenakan diadakan di malam hari menjelang hari raya idul fitri.

Menariknya acara tersebut juga tidak hanya diikuti oleh mayoritas ummat Islam disana. Namun, diikuti juga oleh non-muslim yang bertempat tinggal di bumi seribu masjid. Sehingga nuansa religiusitas antar ummat beragama terasa amat kental dirasakan. Penulis pun kerapkali mengikuti gema takbir seribu bedug tersebut semasa mengambil study di Universitas Islam Negeri Mataram Nusa Tenggara Barat.

Relevansi Tradisi Takbiran dengan Islam

Namun, segelintir orang beranggapan bahwasanya tradisi semacam itu tidak memiliki relevansi dengan syiar Islam, dengan beberapa alasan tuturnya. Pertama, bahwa bedug bukan dari agama Islam. Kedua menabuh bedug merupakan kebiasaan orang-orang kafir, ahlul kitab. Sebut saja, ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas yang melontarkanya dalam video ceramahnya yang beredar ditengah masyarakat yang menimbulkan pro dan kontra dikalangan netizen Indonesia.

Oleh karenanya, dalam untaian jahitan tulisan ini, penulis ingin mengupas sedikit pijakan dasar pengamalanya, yaitu berupa dalil-dalil yang dikutip dari  Az-Dzahabi dalam Siyar A’lam al-Nubala, Juz 9, hlm. 566, berikut ulasanya:

Baca Juga  Budaya dan Agama, Satu Kesatuan yang Utuh

قال محمد بن رافع : كنت مع أحمد بن حنبل وإسحاق عند عبد الرزق فجاء نا يوم الفطر , فخرجنا مع عبد الرزاق إلى المصلى ومعنا ناس كثير, فلما رجعنا من المصلى دعانا عبد الرزق إلى الغداء, فقال عبد الرزق لأحمد وإسحاق : رأيت اليوم منكما عجباً ,  لم تكبّرا قال أحمد وإسحاق : ياأبا بكر, نحن كنا ننظر إليك : هل تكبّر فنكبّر ؟ فلما رأيناك لم تكبّر أمسكنا. قال : أنا كنت أنظر إليكما : هل تكبران فأكبّر

Muhammad bin Rafi berkata:’’aku bersama Ahmad bin Hanbal dan Ishaq di tempat Abdurrazzaq. Kemudian kami memasuki hari Raya Idul Fitri. Oleh karenanya kami beranjak berangkat menuju mushalla bersama Abdurrazzaq bersama banyak orang. Pasca kami pulang dari mushalla, Abdurrazzaq mengajak kami untuk sarapan. Kemudian itu Abdurrazzaq berkata kepada Ahmad bin Hanbal dan Ishaq:’’Hari ini saya melihat sebuah keanehan pada kalian berdua. Mengapa kalian berdua tidak melafalkan takbir? ‘’Ahmad dan Ishaq menjawab: ‘’Wahai Abu Bakar, kami melihat engkau, apakah engkau melafalkan Takbir, sehingga kami juga bertakbir. Setelah kami melihat engkau tidak bertakbir, maka kami pun diam’’, Abdurrazzaq pun berkata: ‘’justru aku melihat kalian berdua, apakah kalian berdua bertakbir, sehingga akupun akan bertakbir juga’’ sebagaimana disebutkan  Az-Dzahabi dalam Siyar A’lam al-Nubala, Juz 9, hlm. 566).

Tradisi takbiran di Indonesia, menjadikan suasana hari raya menjadi semakin semarak di mana umat Islam merayakan kemenangan mereka sehabis melawan hawa nafsu di Bulan Ramadhan. Wallahua’lam.

Editor: An-Najmi