Nafisah binti Hasan bin Zaid bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib – sebuah nama yang melambangkan keagungan dan kebijaksanaan. Lahir di Mekah pada tahun 145 H.
Nafisah binti Hasan meninggalkan jejak inspirasi bagi banyak generasi setelahnya. Kisah hidupnya yang penuh liku-liku tak hanya menyentuh hati namun juga membawa pelajaran berharga bagi semua orang.
Nafisah binti Hasan menikah dengan anak pamannya yang bernama Al-Mu’tamin Ishaq bin Ja’far dan dikaruniai dua orang anak bernama Qasim dan Ummu Kultsum.
Saat menunaikan ibadah haji, ia pernah memegang kain penutup Ka’bah sambil berkata, “Ya Tuhanku, Tuhanku, majikanku, bahagiakanlah aku dengan keridhaan-Mu kepadaku.” Saat itu, ia dikenal sebagai wanita yang doanya mujarab.
Masa Muda dan Cobaan
Sebagai seorang putri Wali Kota Madinah, Nafisah tumbuh di lingkungan yang penuh dengan nilai-nilai keimanan dan keadilan. Namun, hidupnya bukannya tanpa tantangan.
Ayahnya pernah merasakan pahitnya kehilangan jabatan dan harta, bahkan dipenjarakan di bawah pemerintahan yang tidak adil, yaitu di bawah pemerintahan Ja’far Al-Mansur.
Namun belas kasihan Tuhan membalikkan keadaan, dan kehormatan serta harta benda yang dijarah dipulihkan kembali di bawah pemerintahan yang adil, yakni di bawah pemerintahan al-Mahdi.
Cinta Ilmu dan Kebijaksanaan
Nafisah tidak hanya dikenal sebagai penghafal Al-Quran sejak dini, namun juga memiliki pengetahuan yang luas tentang ilmu tafsir dan hadis.
Kecintaannya terhadap ilmu menjadikannya salah satu perawi hadis terkemuka. Bahkan Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal juga mendapat ilmu darinya. Doanya dikatakan mujarab, mencerminkan kedekatannya dengan Sang Pencipta.
Hidup Sederhana dan Bijaksana
Meski menduduki jabatan terhormat, Nafisah tetap hidup sederhana. Dia tidak pernah makan makanan kecuali dari harta suaminya, dia memberi contoh dengan menjaga kehalalan makanannya.
Kesederhanaannya juga terlihat dari sikap bijaknya ketika menanggapi keluhan dan ketidakadilan sosial dari masyarakat terhadap kezaliman Bani Thalun.
Surat yang ditulisnya mencerminkan kebijaksanaan dan keberaniannya dalam membela keadilan. Adapun bunyinya:
“Kalian semua yang menjadikannya raja, tetapi kalian semua diperbudak olehnya; memberinya kekuatan, tetapi kalian semua pula yang ditindasnya; yang memberinya pemerintahan, tetapi kalian semua yang akhirnya menyesal atas pemberian itu.
Dulunya, kalian semua berada dalam keadaan sejahtera, tetapi karenanyalah kemakmuran itu hilang. Maka ketahuilah kalian semua, berdo’a di malam hari demi sebuah kemaslahatan pasti terkabulkan.
Apalagi do’a itu berasal dari hati-hati yang merasa kecewa, orang-orang yang sedang dilanda kelaparan, dan orang-orang yang sudah sangat susah sekali mendapatkan pakaian yang layak. Dan tahukah kalian semua, sangat mustahil bagi seorang penjahat untuk tetap hidup jika orang yang terluka sudah meninggal.
Dan ketahuilah (wahai pemerintah) bahwa kami telah dengan sabar menanggapi kejahatan Anda. Teruslah berbuat buruk, agar kita terus menjadi pihak yang menderita.
Dan teruslah berbuat zalim, dan kita disini akan menjadi orang-orang yang terzalimi. Dan ketahuilah bahwa orang yang selalu berbuat buruk (zalim) suatu saat akan terjatuh.”
Membaca tulisan Nafisah itu, bani Thalun merasa gemetaran dan takut, sehingga ia bersedia menjalankan sebuah pemerintahan yang adil dan bijaksana.
Kehidupan Akhir dan Kematian yang Mulia
Di akhir hayatnya, Nafisah memilih menjauh dari keramaian demi mendekatkan diri pada penciptanya.
Meskipun masyarakat tidak ingin kehilangan kehadirannya, ia menemukan jalan tengah untuk tetap memberikan manfaat dengan membuka rumahnya untuk kunjungan pada waktu tertentu.
Kematian datang kepadanya ketika dia sedang berdoa dan membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Ia meninggal saat membaca Surat Al-An’am. Tepatnya pada ayat:, “Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal shaleh yang selalu mereka kerjakan” (QS. Al-An’am: 127). Setelah membaca ayat tersebut, dia tertidur dan meninggal. Ini terjadi pada tahun 207 Hijriah. Ia dimakamkan di Mesir, lebih tepatnya di kota Kairo.
Kisah Nafisah binti Hasan mengajarkan kita keimanan yang teguh, hikmah dan kesederhanaan dalam hidup.
Sepanjang hidupnya, ia memancarkan cahaya kebaikan yang tak terpadamkan. Semoga kisah kehebatan dan hikmahnya terus menginspirasi dan menjadi pelajaran bagi kita semua untuk menjadi pribadi yang lebih baik di hadapan Tuhan dan sesama. Wallahu a’lam.


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.