Budaya konsumtif di kalangan generasi milenial telah menjelma menjadi wajah baru dari modernitas. Munculnya frasa seperti “self reward,” “healing”, dan “demi konten” tak jarang menjadi justifikasi atas perilaku berbelanja impulsif. Dompet menipis, tetapi tetap merasa harus ikut tren. Bahkan tidak sedikit yang rela berhutang demi bisa mengikuti gaya hidup yang dipamerkan di media sosial.
Fenomena ini bukan sekadar gaya hidup, tapi menyiratkan krisis identitas dan ketidakseimbangan spiritual. Pertanyaannya, bagaimana Al-Qur’an memotret sisi kejiwaan dari perilaku konsumtif ini? Dan apakah ada pendekatan tafsir yang mampu menembus sisi terdalam manusia melampaui nasihat moral biasa?
Salah satu tokoh yang menarik untuk dikaji dalam konteks ini adalah Muhammad Utsman Najati. Pelopor pendekatan tafsir psikologi yang menyandingkan ilmu psikologi modern dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Melalui karya monumentalnya, Al-Qur’an wa ‘Ilm an-Nafs, Najati mengajak pembaca untuk menelusuri dimensi jiwa manusia sebagaimana terekam di dalam kitab suci Al-Qur’an.
Mengenal Najati: Ketika Psikologi Bertemu Wahyu
Muhammad Utsman Najati lahir di Mesir. Masyhur sebagai sarjana yang konsisten mengintegrasikan psikologi ke dalam khazanah tafsir Al-Qur’an. Ia tidak hanya membaca ayat secara tematik, tetapi juga menganalisis kejiwaan manusia melalui wahyu. Perspektif ini tergolong unik dalam dunia tafsir. Sebab jarang ada mufasir yang benar-benar mengkaji Al-Qur’an dari sisi psikologis modern secara sistematis.
Dalam karyanya, Najati mengkaji berbagai tema kejiwaan, seperti kecemasan, ketamakan, kecintaan terhadap dunia, serta relasi antara hawa nafsu dan akal. Ia berangkat dari asumsi bahwa Al-Qur’an bukan sekadar kitab hukum atau ibadah, tapi juga kitab jiwa manusia. Ia menulis, “Al-Qur’an sangat dekat dengan ilmu jiwa karena ia berbicara tentang manusia dengan segala dorongan dan kecenderungannya.”
Maka dari itu, ketika membicarakan budaya konsumerisme milenial, pendekatan Najati menjadi sangat relevan. Ia tidak hanya menilai perilaku konsumtif sebagai penyimpangan moral, tapi sebagai cerminan dari jiwa yang sedang tidak sehat.
Konsumerisme dalam Al-Qur’an: Tafsir Psikologi atas Ayat-Ayat Kunci
Al-Qur’an memang tidak menyebut kata “konsumerisme” secara literal. Namun, banyak ayat yang berbicara tentang kecintaan manusia terhadap harta, pemborosan, ketamakan, dan kompetisi duniawi. Tafsir psikologi ini membuka peluang untuk menafsirkan kembali ayat-ayat ini sebagai gejala jiwa zaman modern. (H. 83)
1. Q.S. Al-Fajr [89]: 15–16
“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, dia berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku’. Namun, apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, dia berkata: ‘Tuhanku menghinakanku’.”
Najati menilai bahwa ayat ini merekam logika materialistik yang melekat pada jiwa manusia. Ukuran kesuksesan terhitung dari materi, bukan makna. Ini adalah bentuk penyakit jiwa yang tidak lagi mampu membedakan antara nikmat dan ujian.
2. Q.S. Al-Ma‘arij [70]: 19–21
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah dan kikir. Apabila ditimpa kesusahan, dia gelisah. Dan apabila mendapat kebaikan, dia kikir.”
Ayat ini mengungkap instabilitas emosi yang menjadi akar dari perilaku konsumtif. Ketika cemas, manusia mencari pelarian melalui kenikmatan sesaat. Ketika lapang, ia tidak bersyukur tapi menimbun. Inilah dasar dari “retail therapy” dalam budaya belanja masa kini.
3. Q.S. Al-Isra [17]: 27
“Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara setan.”
Bagi Najati, pemborosan bukan hanya soal ekonomi, tapi tanda bahwa manusia telah tunduk pada dorongan syahwat rendah. Mereka kehilangan kemampuan mengendalikan diri, terjebak dalam siklus konsumsi tak berujung.
4. Q.S. At-Takatsur [102]: 1–2
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”
Ayat ini merefleksikan fenomena flexing dan pencitraan yang begitu lekat dengan media sosial saat ini. Segala sesuatu dilihat dari tampilan luar dan kebutuhan untuk terus “tampil” membuat jiwa kehilangan rasa cukup.
Refleksi untuk Generasi Milenial: Krisis Jiwa atau Gaya Hidup?
Pendekatan tafsir psikologi mengajak kita untuk tidak berhenti pada larangan-larangan normatif. Sebaliknya, kita diajak untuk menyelami akar masalahnya. Mengapa kita berbelanja tanpa kendali? Mengapa merasa kurang meski sudah cukup? Jawabannya bisa jadi adalah karena jiwa kita kehilangan arah.
Di sinilah pentingnya mengintegrasikan ilmu psikologi ke dalam studi tafsir. Generasi milenial hidup dalam era yang penuh tekanan: persaingan, ekspektasi sosial, krisis identitas, dan tekanan algoritma. Konsumerisme menjadi pelarian cepat yang dianggap “normal”.
Namun, tafsir Al-Qur’an mengajarkan kita untuk menyadari kerusakan dari dalam jiwa. Bahwa cukup itu bukan milik mereka yang banyak, tapi mereka yang tenang. Bahwa ketenangan bukan hasil dari belanja, tapi dari refleksi dan spiritualitas.
Menuju Tafsir yang Relevan dan Humanistik
Pendekatan Najati menunjukkan bahwa tafsir tematik bisa bersifat sangat kontekstual dan humanistik. Tafsir tidak harus selalu berada di ranah hukum atau fikih, tapi juga bisa masuk ke ruang batin manusia, menjawab keresahan personal maupun sosial.
Hal ini membuka peluang besar bagi generasi muda Islam untuk terus menghidupkan Al-Qur’an dalam kehidupan modern. Bahwa kitab suci ini bisa bicara tentang mental health, krisis eksistensial, hingga budaya pop selama kita membacanya dengan kedalaman dan ketulusan.
Penutup: Al-Qur’an, Tafsir Psikologi, dan Konsumerisme
Konsumerisme bukan sekadar kebiasaan, tapi cerminan dari kondisi jiwa. Muhammad Utsman Najati, melalui pendekatan tafsir psikologisnya, mengingatkan kita bahwa Al-Qur’an telah sejak lama menyingkap realitas kejiwaan manusia. Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian untuk membaca ulang ayat-ayat tersebut sesuai konteks zaman.
Bagi generasi milenial, tafsir ini adalah ajakan untuk pulang ke dalam diri sendiri. Karena sekuat apa pun kita membeli, tak akan bisa menggantikan ketenangan yang hanya lahir dari jiwa yang mengenal Tuhannya.
Editor: Dzaki Kusumaning SM





























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.