Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Kisah Keluarga Imran: Pendidikan Inklusif Perspektif Al-Qur’an

pendidikan inklusif
Sumber: https://www.kelas.mu/

Dewasa ini pendidikan menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat guna menghadapi seleksi alam pada era modern. Para orang tua berbondong-bondong untuk memberikan Pendidikan yang terbaik kepada anak mereka. Tak terkecuali bagi anak yang berkebutuhan khusus. Akan tetapi sebagian orang tua merasa bingung terhadap metode Pendidikan yang efektif untuk perkembangan anak mereka. Tulisan ini akan membahas pendidikan inklusif perspektif Al-Qur’an.

Metode Pendidikan berkembang menyesuaikan kebutuhan masyarakat. Salah satunya ialah Pendidikan inklusif. sebagian masyarakat menganggap bahwa Pendidikan inklusif sebagai alternatif efektif. Karena memberikan kesempatan yang sama bagi semua peserta didik. Baik mereka yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dengan satu lingkup Bersama-sama dengan peserta didik umum.  Oleh karena itu tulisan ini akan menghadirkan opini tentang Pendidikan inklusif perspektif Al-Qur’an Kajian Cerita Keluarga Imran Pada Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim.

Kisah Keluarga Imran

Al-Qur’an menjelaskan berbagai macam permasalahan salah satunya ialah masalah pendidika. Akan tetapi, hanya sedikit ayat yang menjelaskan tentang Pendidikan salah satunya ialah QS Ali-Imran ayat 35-35:

إِذْ قَالَتِ امْرَأَةُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالأنْثَى وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Artinya: (Ingatlah), ketika istri Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitulmakdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Maka tatkala istri Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada setan yang terkutuk.”

Secara garis besar cerita keluarga Imran yang menyangkut pendidikan adalah Imran dan istrinya (bernama Hannah) berdoa kepada Allah meminta seorang anak laki-laki. Kemudian mereka berniat untuk menempatkan anak mereka sebagai seorang pengabdi bagi Allah SWT. Namun anak yang dilahirkannya bukanlah seorang laki-laki seperti yang diharapkan. Anak perempuan itu dinamai Maryam.

Baca Juga  Relasi Komunikatif Dalam Al Qur’an: Tafsir Semantik atas Kata Rabbani

Fenomena Anak Berkebutuhan Khusus

Dari cerita keluarga Imran jika disandingkan dengan fenomena adanya anak berkebutuhan khusus maka anak berkebutuhan khusus itu seperti hanya Maryam yang tidak diharapkan. Setiap orang tua pasti mengharapkan anak yang dilahirkannya sehat dan normal. Baik itu merupakan laki-laki maupun perempuan. Karena di zaman ini laki-laki dan perpempuan itu sudah sama derajatnya. Namun pada zaman dahulu, perempuan itu derajatnya lebih rendah dari laki-laki. Bahkan yang memiliki anak perempuan pasti akan diolok-olok. Karena tenaganya hanya bisa digunakan untuk sedikit pekerjaan, tidak seperti laki-laki.

Hal lain yang bisa diambil dari cerita Imran adalah bahwa Hannah sebagai seorang ibu tetap memberikan kesempatan untuk anaknya sebagai pengabdi kepada Allah. Pada zaman itu yang mengabdi kepada Allah di masjid adalah anak laki-laki. Sedangkan Maryam karena perempuan sendiri maka Maryam dibuatkan mihrab.

Maka anak dengan kebutuhan khusus memperoleh keistimewaan sendiri dari Allah. Jika orang tua dari anak tersebut tetap mengusahakan agar anaknya itu baik. Maka tugas orang tua adalah membimbing anaknya untuk lebih baik. Maryam dibina oleh ibunya dengan menyerahkan dia kepada Zakariya. Karena Zakariya ini adalah seorang nabi yang pastinya baik perilakunya. Zakariya juga merupakan orang yang dekat dengan Hannah, karena dia adalah saudaranya.

Refleksi Ayat Kisah Imran

Jika merefleksikan dengan cerita itu maka orang tua pada zaman sekarang. Baiknya jika ingin membimbing anaknya dengan baik, maka harus menyerahkan anaknya kepada lingkungan yang baik. Maka kewajiban orang tua adalah mengenal lingkungan itu layaknya Hannah dan Zakariya. Karena Hannah dan Zakariya ini merupakan saudara maka pasti tidak ada rasa malu untuk bertanya bagaimana keadaaan anaknya, yaitu Maryam. Dan Zakariya pun akan memeperhatikan Maryam dengan baik karena dia merupakan paman dari Maryam.

Baca Juga  Derivasi Makna dan Konteks Rizq dalam Al-Qur'an

Dengan demikian seorang guru pembimbing bagi anak berkebutuhan khusus harus bisa memposisikan disi seolah-olah seperti nabi Zakariya terhadap Maryam. Perlakuan nabi Zakariya terhadap Maryam adalah mendidiknya dan mengunjunginya setiap hari. Nabi Zakariya selalu masuk ke mihrabnya Maryam untuk memberi makanan kepada Maryam (Ibnu Katsir, 2015). Maka jika dihubungkan cerita keluarga Imran dengan pendidikan inklusif. Pendidikan inklusif merupakan Usaha yang sangat bagus yang diadakan oleh pemerintah guna memfasilitasi anak dengan kebutuhan khusus. Dengan beberapa catatan yang mungkin perlu dioptimalkan. Pengoptimalan itu ada pada intensitas guru pembimbing khusus untuk saling berkonsultasi dengan orang tua. Seperti hanya jika nabi Zakariya ingin memberi tahu tentang kemajuan dan kemunduran dari Maryam.

Pendidikan Inklusif Perspektif Al-Qur’an

Sedangkan untuk orang tua juga harus bertanya kepada guru pembimbing khusus layaknya Hannah kepada nabi Zakariya. Maka setrategi yang harus di jalankan adalah guru harus lebih sering berkomunikasi dengan orang tua. Pada zaman sebelum pandemi mungkin hanya anak yang bermasalah yang orang tuanya akan dipanggil ke sekolah untuk mendapat sanksi. Namun ketika pandemi ini terjadi, orang tua harus lebih berkomunikasi kepada guru. Kemudian dituntut memahami tugas dan materi yang diberikan guru kepada anaknya. Agar anaknya bisa belajar dengan tatap muka, yaitu orang tua sebagai guru di rumah.

Namun hal itu tidak akan terjadi jika orang tua tidak mau menyekolahkan anaknya di sekolah inklusif. Jikalau itu terjadi maka orang tua harus siap menanggung anak dengan kebutuhan khusus itu sendiri. Hal ini bukan merupakan sebuah kesalahan jikalau kita melihat psikologi orang tua yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus. Mereka pasti akan lebih khawatir memasrahkan anaknya kepada orang lain dan dia anak berpikiran bahwa akan lebih baik dia sendiri yang merawatnya. Maka dalam kasus jika dihubungkan dengan cerita keluarga Imran tadi maka orang tua lebih menyesuaikan keinginannya.

Baca Juga  Karakter Muslim Berkemajuan Perspektif Juz 'Amma Al-Quran (2)

Mungkin pada awalnya orang tua itu ketika memiliki anak mereka berdoa dan berharap anak tersebut akan menjadi dosen, guru, pesebak bola dan sebagainya.Ketika mendapati anaknya memiliki tidak seperti yang diharapkan mereka menurunkan pengharapan mereka dan memilih untuk merawat dan mendidik anak mereka sendiri. Maka kepekaan orang tua terhadap anak sangat menjadi faktor utama. Apakah anak yang berkebutuhan khusus akan dititipkan ke pendidikan inklusif. Atau bahkan guru yang mengajarnya pun merupakan kerabat orang tua atau mengasuh anaknya sendiri. Orang tualah yang akan bertanggung jawab kepada anak anak. Maka memilihkan pendidikan bagi anak adalah suatu pertimbangan yang harus dipikirkan matang.

Penyunting: Ahmed Zaranggi