Kitab suci agama Islam adalah Al-Quran, yang berisi tentang, akidah, syariah dan aturan-aturan. Tentunya dalam menterjemahkan Al-Quran dalam kehidupan memerlukan alat bantu yang disebut tafsir. Pada saat ini sudah banyak sekali kitab-kitab tafsir yang bermunculan dengan berbagai metode dan corak penafsiran, salah satu kitab tafsir yang hadir baru-baru ini adalah Tafsir Muyassar karya Aidh al-Qarni, dan pada tulisan ini akan sedikit memperkenalkan kitab tafsir tersebut.
Sketsa Biografi Aidh Al-Qarni
Aidh al-Qarni lahir di perkampungan al-Qarn tahun 1379H (1960 M). Nama lengkap beliau adalah Aidh Abdullah bin Aidh al-Qarni. Nama al-Qarni diambil dari daerah asalnya di wilayah selatan Arab Saudi. Beliau berasal dari keluarga “Majdu” di perkampungan al-Qarn, sebelah selatan kerajaan Arab Saudi. Di perkampungan ini lah beliau dibesarkan, sejak kecil dia sudah diperkenalkan oleh ayahnya dengan aktivitas keagamaan.
Sejak kecil sang ayah sudah membawa al-Qarni ke masjid untuk shalat berjamaah. Sang ayah juga telah memperkenalkan berbagai macam buku bacaan kepada al-Qarni semenjak kecil. Karenanya, ia sudah terbiasa dengan bacaan sejak kecil.
Faktor Pendorong Hadirnya Tafsir Muyassar
Dalam muqaddimahnya, al-Qarni mengatakan yang menjadi motivasinya untuk menuliskan tafsir ini, tidak lain dikarenakan, beliau mencari-cari tafsir yang menjelaskan makna-makna ayat secara gamblang dan ringkas. Serta langsung menjelaskan makna ayat ketika pertama kali dibaca, yaitu tafsir yang menunjukkan kepada maksud setiap ayat.
Ada beberapa alasan, mengapa Aidh al-Qarni menulis Tafsir Muyassar ini, di antaranya adalah:
- Karena beliau meliahat ada ahli tafsir yang mementingkan segi bi al-ma’sur saja, dan mencantumkan banyak sanad. Lalu mengulang-ulangnya, untuk langsung menjelaskan makna ayatnya.
- Ada juga yang mementingkan dari segi balaghah dan sastranya, sehingga ia menyebutkan banyak rahasia sastra Al-Qur’an yang terkandung.
- Banyaknya penafsir yang lebih memperhatikan dari segi hukum, sehingga memfokuskan pembahasannya dalam masalah-masalah fikih dan pendapat ulama.
- Ada penafsir yang memperhatikan pesan makna yang terkandung dalam Al-Qur’an, tanpa menganalisa lebih dalam mengenai kebahasaan dan arti kosa kata.
Al-Muyassar nama kitab tafsir tersebut yang memiliki arti “mudah, memudahkan bagi pembaca untuk memahami tafsir ini”. Kitab ini dinamakan al-Muyassar menurut Aidh al-Qarni karena menurutnya tafsir ini mudah dipahami dan disajikan dengan bahasa yang lugas dan jelas. Ini alasan beliau memberi penamaan pada kitab tafsirnya.
Metode, Corak, Kelebihan dan Kelemahan
Dalam Tafsir Muyassar karya Aidh al-Qarni menggunakan metode ijmali dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dan cenderung menggunakan corak sufi. Di dalam teknik penulisan Tafsir Muyassar lebih dipengaruhi oleh latar belakang pengetahuan dan pengalaman serta tujuan yang ingin dicapai oleh Aidh al-Qarni, yakni mengacu pada urutan surat yang terdapat dalam musḫaf standar yang dipakai para ulama tafsir.
Sedangkan sistematika yang digunakan dalam menafsirkan, Tafsir Muyassar diawali dengan menyebutkan daftar isi urutan-urutan surat yang sesuai dengan musḫaf. Serta menjelaskan maksud dan tujuan yang terdapat dalam mukadimahnya. Dalam menafsirkan surat, al-Qarni selalu menyebutkan tentang identitas turunnya surat, nomer dan makna surat, dan jumlah surat yang terdapat dalam surat tersebut disertai dengan makna dari surat tersebut.
Adapun kelebihan Tafsir Muyassar yakni bahasanya mudah dipahami dan menyebutkan inti makna yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an, serta menyebutkan pendapat yang shahih. Kelemahannya dalam menukil hadits sebagai referensi al-Qarni tidak menyebutkan sanadnya. Sehingga kualitas hadisnya dipertanyakan.
Contoh Penafsiran Tafsir Muyassar
Untuk mengetahui sejauh mana metode dan corak penafsiran Tafsir Muyassar. Maka akan saya berikan contoh penafsiran beliau dalam menafsirkan beberapa ayat-ayat al-Qur’an.
- Contoh penafsiran dalam Tafsir Muyassar yang menggunakan metode ijmali dalam surat Al-Alaq ayat 1;
اِقۡرَاۡ بِاسۡمِ رَبِّكَ الَّذِىۡ خَلَقَۚ
Artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,
اقرأ ما أنزل إليك من القر آن مفتتحا با سم ربك المتفرد با الخلق، فبا لقر اءة ينال العلم، وتحصل المعر فة، ويعبد الر ب، وبا سم الله تحصل البر كة و الفتح و التو فقين.
Tafsir Muyassar: Bacalah Al-Qur’an yang telah di turunkan kepadamu dan awalilah dengan menyebut nama Tuhan yang sendirian dalam menciptakan makhluk. Karena, dengan membaca, ilmu pengetahuan akan diperoleh dan Tuhan akan disembah. Dan dengan menyebut nama Allah, niscaya keberkahan, kemenangan dan petunjuk akan didapatkan.
Penafsiran Bercorak Sufi
- Contoh penafsiran dalam Tafsir Muyassar yang menggunakan corak sufi dalam surat An-Nur ayat 35;
اَللّٰهُ نُوۡرُ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ ؕ مَثَلُ نُوۡرِهٖ كَمِشۡكٰوةٍ فِيۡهَا مِصۡبَاحٌ ؕ الۡمِصۡبَاحُ فِىۡ زُجَاجَةٍ ؕ اَلزُّجَاجَةُ كَاَنَّهَا كَوۡكَبٌ دُرِّىٌّ يُّوۡقَدُ مِنۡ شَجَرَةٍ مُّبٰـرَكَةٍ زَيۡتُوۡنَةٍ لَّا شَرۡقِيَّةٍ وَّلَا غَرۡبِيَّةٍ ۙ يَّـكَادُ زَيۡتُهَا يُضِىۡٓءُ وَلَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡهُ نَارٌ ؕ نُوۡرٌ عَلٰى نُوۡرٍ ؕ يَهۡدِى اللّٰهُ لِنُوۡرِهٖ مَنۡ يَّشَآءُ ؕ وَ يَضۡرِبُ اللّٰهُ الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِؕ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيۡمٌ
Artinya: Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Tafsir Muyassar: Allah SWT adalah cahaya langit dan bumi yang mengatur urusan-urusan keduanya. Dia memberi hidayah kepada makhluk yang ada di langit dan di bumi. Sesungguhnya Allah SWT adalah cahaya, dan tabir-Nya juga cahaya. Dengan cahaya-Nya, seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi mendapat petunjuk. Kitab Allah adalah cahaya. Utusan Allah adalah cahaya. Dengan cahaya Allah, kegelapan pun menjadi terang, langit dan bumi bersinar, dan semua alam semesta menjadi terang benderang.
Pelita dan Perumpaan Hidayah Allah
Perumpamaan cahaya Allah yang dapat memberi hidayah, yakni iman dan Al-Qur’an yang tertanam di dalam hati orang-orang beriman adalah laksana sebuah lubang yang tak tembus di dinding dan pada dalamnya terdapat pelita penerang. Lubang yang tidak tembus itu dapat menyatukan cahaya pelita sehingga cahayanya tidak berpencar dan sinarnya menjadi sangat terang. Pelita ini berada di dalam kaca.
Kaca ini laksana bintang yang bercahaya, gemerlap bagaikan mutiara karena begitu terangnya. Lentera yang terang ini menyala dengan bahan bakar minyak pohon yang penuh berkah, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah Timur sehingga sinar matahari tidak dapat menerpanya di saat sore hari dan tidak pula di sebelah Barat sehingga sinar matahari tidak sampai kepadanya di waktu pagi. Namun pohon zaitun ini berada di tengah-tengah bumi, tidak ke Timur dan juga tidak ke Barat.
Pertumbuhan pohon itu sempurna, naungannya rindang, dan buahnya matang. Minyak pohon itu sendiri sangat terang bersinar karena begitu jernih sebelum ia sentuh oleh api. Ketika api menyentuhnya cahayanya pun semakin terang dan sempurna. Itulah cahaya di atas cahaya, yaitu cahaya yang ditimbulkan oleh minyak di atas cahaya yang ditimbulkan dari api.
Inilah perumpamaan hidayah Allah yang bercahaya di dalam hati orang yang beriman dengan cahaya fitrah dan cahaya wahyu. Allah membimbing hamba-hamba-Nya kepada keimanan dan pemahaman terhadap Al-Qur’an; Dia membuat perumpamaan ini bagi manusia agar mereka dapat memahami hukum dan permasalahan. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang tampak maupun yang samar, serta apa yang ditampakkan maupun yang dirahasiakan.
Penyunting: Bukhari






























Leave a Reply